Grocery Date

60 7 0
                                        

Inspired by Instagram post sound_of_coups

Inspired by Instagram post sound_of_coups

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

**

"Ngapain sih kita ke sini?" Lila melirik ke kanan dan kiri sembari berjalan di sisi Leo yang mendorong troli.

"Mandi!" Leo menjawab ketus. "Lo pikir aja, ke supermarket mau ngapain?" Cowok itu cemberut.

"Ih nyebelin." Lila melipat tangan di dada, lalu melangkah lebih cepat mendahului Leo.

Melihat itu, Leo terkekeh pelan. Dia segera menyusul Lila. "Kemaren lusa gue liat kulkas lo kosong, rak camilan lo juga kosong. Gih ambil apa yang lo mau, gue bayarin."

"Hah? Beneran?" Mata Lila berbinar senang. Memangnya siapa yang tidak senang ditraktir?

Leo mendecih. Dia menoleh ke Lila sambil memasang wajah serius. "Liat muka gue, ada bercandanya emang?"

Lila nyengir. Menggelengkan kepala. "Makasih ya Kak Leo yang ganteng!" serunya senang.

"Kalo ditraktir baru manggil gue pake kak," sungutnya lalu membuang muka, tak ingin Lila melihat wajahnya yang memerah salah tingkah.

"Jangan lo tarik omongan lo ya kak! Awas aja pas di depan kasir nanti lo drama dompet ketinggalan!" Ancam Lila yang sama sekali tidak terdengar seperti ancaman sebab gadis itu bicara seraya tersenyum lebar. Memperlihatkan lesung pipinya yang membuat Leo terpaku sejenak, merasa desir hangat di dadanya.

Setelah itu, Lila mulai mengambil satu persatu cemilan dan memasukkannya troli yang didorong Leo. Mereka mengelilingi area supermarket dari ujung ke ujung. Sembari sesekali mengobrol random dan tertawa bersama.

Di depan mesin pendingin minuman, Lila terpaku sejenak memikirkan minuman apa yang diinginkannya, ketika ponsel Leo berbunyi.

Cowok itu merogoh saku celananya, melihat sekilas layar ponselnya lalu menempelkannya ke telinga.

"Halo beb?"

Mendengar itu, membuat Lila menoleh ke arah Leo. Mata mereka bertemu, tapi Leo buru-buru melarikan pandangan.

Saat itu juga, hati Lila mencelos. Ada sensasi dingin yang menjalar dari tengkuk sampai ke punggungnya. Perutnya terasa mulas, tak nyaman. Dia mengigit bibir menahan teriakannya yang berhenti di tenggorokan. Hal itu membuat matanya memanas, perlahan berair dan menetes perlahan tanpa bisa Lila cegah.

Gadis itu segera pergi ke ujung mesin pendingin, mengambil dua kotak susu ukuran 1L, lalu beberapa cup yoghurt plain. Di depan pintu mesin pendingin yang baru ditutupnya, Lila menatap pantulan dirinya lalu tersenyum sambil berkata dalam hati 'gak apa-apa toh ini bukan yang pertama kali'. Sebelum kembali ke troli, Lila sempat mengusap pipinya yang basah.

"Udah!" ucap Lila mengakhiri sesi belanjanya.

Mereka lalu menuju meja kasir, sama-sama diam dengan suasana canggung yang tak terhindarkan.

Lila ingin sekali bertanya siapa gerangan yang menelpon Leo tadi. Sebab, ini sudah ketiga kalinya Leo menerima telpon dari orang yang sama ketika pergi bersama Lila. Dari seseorang yang Leo panggil Beb.

Berbagai asumsi memenuhi kepala Lila. Opini kalau yang menelpon adalah kekasih Leo terasa benar.

Namun, kalau dipikir-pikir lagi, toh Lila tak ada hak untuk kepo soal itu. Mereka hanya berteman. Tidak lebih, tidak kurang.

Meski Leo pernah ke apartemennya dua hari yang lalu, untuk keperluan tugas kelompok, yang mana baru Leo lah laki-laki pertama yang menginjakkan kaki di apartemennya, selain ayah dan kakak laki-lakinya Lila. Akan tetapi, hal itu tak menjadi alasan untuk Lila bisa kepo dengan urusan pribadi cowok itu.

Mengenal Leo kurang lebih selama satu semester sedikit banyak membuat Lila baper. Cowok itu kerap memberi perhatian-perhatian kecil dan selalu ada tiap kali Lila perlu bantuan. Ditambah dengann desas-desus kalau cewek yang dekat dengan Leo di kampus hanya Lila seorang.

Teman-temannya Leo sendiri yang bilang ke Lila secara langsung, kalau cowok itu selalu bersikap ketus dan cuek tiap kali ada cewek yang ingin dekat dengannya. Namun, sikap Leo sangat amat berbeda kepada Lila.

Bagaimana Lila tidak baper coba?

"Lo sakit perut ya?" Leo bertanya saat mobilnya perlahan keluar area parkir supermarket.

"Hah, kok tiba-tiba nanya gitu?"

"Soalnya lo diem aja dari tadi. Gue ada salah ngomong ya?"

Lila menggeleng. Sekuat tenaga menahan mulutnya untuk bicara seperlunya saja. "Enggak kok, gak apa-apa. Gue cuman males ngomong aja."

Leo mengernyit heran. "Laper?"

"Gak laper kok."

"Terus kenapa?" tuntut cowok itu penasaran.

"Gak kenapa-napa, tiba-tiba aja gue capek, jadi males ngomong, ngantuk juga."

Leo seakan tersadar, dia melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya. "Eh iya deh udah jam sepuluh, pantesan lo udah ngantuk, biasanya kan lo tidur jam sembilan malem."

"Nah tu lo tau."

"Sorry ya ngajak jalannya kemaleman," kata cowok itu sembari mengusap puncak kepala Lila pelan.

Lila melirik ke telapak tangan Leo yang besar, yang baru saja mengusap-usap kepalanya. Urat tangan cowok itu menonjol keluar, ada cincin perak di kelilingkingnya. Tampak pas ketika mencengkram setir mobil. Apa ini yang orang-orang sebut kalau cowok itu sexi ketika sedang menyetir?

"Jangan minta maaf, gue yang makasih karena udah dijajanin."
"Sama-sama, kapan-kapan gue jajanin lagi ya."

Lila menggeleng. "Eh gak usah. Gue bisa beli sendiri kok," jawabnya cepat.

Leo berdecak. "Nah lo tuh suka banget ngasih batesan. Kenapa sih? Emang gue gak boleh lebih dekat sama lo?"

"Hah gimana? Kok jadi ke sana sih obrolannya? Bukannya kita emang harus ada batesan gak sih?"

Kening Leo berkerut, tidak mengerti. "Hah? Kata siapa?"

"Kok kata siapa? Jangan gitulah, gak enak gue sama cewek lo kak."

Leo makin heran. "Cewek? Cewek apaan?"

Di tengah kebingungan itu, mobil Leo berhenti tepat di pelataran parkir gedung apartemen Lila.

Lila bergegas mengemasi barang belanjaannya. "Udah sampe, thanks ya traktirannya. Hati-hati kak Leo, bye!" pamitnya, lantas meninggalkan Leo dengan debum pelan pintu mobil yang ditutup.

(Next Eps Basketball Court)

**

Date : 19 Juli 2025

CampfireTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang