Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
(Prev Eps Grocery Date)
**
Semilir angin sepoi-sepoi di taman kampus siang ini, sedikit meredakan sakit kepala Lila akibat tugas kuliah yang sedang dikerjakannya.
"La gawat La!" Seruan itu sejenak membuat Lila terlonjak. Gadis itu mencebik pelan, melirik Dion sinis yang tau-tau saja sudah duduk di sebelahnya.
"Apaan?" tanya Lila acuh.
"Ini beneran gawat La!" Dion membeo.
"Iya iya gawat kenapa?" tanya Lila lagi tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.
"Ah elah, ini lebih gawat dari coding lo itu!" Dion berujar gemas.
"Emang ada yang lebih gawat dari tugas Bu Fitri?" Akhirnya Lila melirik sekilas ke arah Dion. Mengerutkan alis, tak setuju dengan apa yang baru saja Dion katakan.
Dion jadi kikuk, karena sudah asal bicara. "Hgh, emang cuman kiamat yang lebih gawat dari tugasnya Bu Fitri. Tapi ini gawatnya beda La."
"Apa emang?" Lila kembali fokus ke laptopnya.
"Cowok lo!"
Gadis itu berjengit kaget. Langsung menegakkan punggung. "Hah? Jangan fitnah! Jomblo gini gue dituduh punya pacar."
Dion tergelak lepas. "Aduh susah banget ngomong sama lo!"
"Ye lo duluan yang belibet, cepetan mau ngomong apaan sih?"
"Bang Leo tuh, pingsan di lapangan basket?"
"Hah? Pingsan? Badan segede dia bisa pingsan?" Lila menatap Dion tak percaya.
"Bisa lah! Bang Leo juga manusia kali!" balas cowok itu cepat.
"Terus kenapa lo malah di sini, ga nolongin dia?" tanyanya heran.
"Gue harus kasih tau lo lah, kan lo ceweknya!"
"Sekali lagi lo ngomong gitu, gue pukul mulut lo pake laptop ya!" Lila jadi emosi, sudah berancang-ancang memegang tepian laptopnya, untuk melayangkannya ke Dion jika memang diperlukan.
"Astaga, seremnya, pantes bang Leo naksir." Dion terkekeh. "Udah deh, lo ke lapangan basket aja sekarang, tugas gue cuman ngasih tau ke lo. Bye!" Cowok itu pun segera bangkit dari duduknya.
"Terus ngapain juga gue ke sana ngeliatin dia pingsan? Lo kira gue kuat gotong dia ke ruang kesehatan?"
Dion hanya mengangkat bahu, tersenyum lebar lantas berlalu pergi begitu saja.
Lila hanya bisa menghela napas panjang, lantas menggerutu. "Emang ada apaan sih di lapangan basket?" Sembari berusaha kembali fokus ke laptopnya, tapi gagal.
Akhirnya, dia menuruti apa kata Dion. "Ck, awas aja ya lo Dion kalo gak ada apa-apa di lapangan basket!" gumamnya sebal seraya mengemasi barang-barangnya.
Suara bola basket yang memantul terdengar seiring langkah Lila makin dekat ke lapangan basket. Sosok Milan dengan kaus putih adalah yang pertama Lila lihat. Cowok itu nyengir lalu menunjuk Lila dan tampak berbicara dengan orang di depannya yang tidak bisa Lila lihat, karena posisi orang itu tertutup tiang selasar gedung. Namun, Lila duga pastilah orang yang bersama Milan adalah Leo dan bisa dipastikan kalau cowok itu tidak sedang pingsan.
Benar saja, ketika langkah Lila sampai di sudut lapangan basket, sosok Leo dengan heavy tanktop hitam tampak bersiap hendak menembak bola ke ring basket.
"Pingsan apanya? Dion kampret." Lila mengumpat pelan. Dia merasa bodoh sudah percaya dengan omongan Dion.
Bola oranye itu dengan mulus meluncur masuk, lalu berdebum menimbulkan suara khas saat mencium permukaan semen lapangan. Bersamaan dengan itu Leo berbalik. Menghadap Lila yang menatapnya sengit.
"Waduh, siap-siap ada yang bakal ngamuk, kabur ahh!" Sahut Milan diiringi gelak tawa Dion yang sudah menunggu di sebrang lapangan. "Bang sini cepetan!" panggilnya meminta Milan bergegas.
"Males banget gue sama Dion, badan segede gini mana bisa pingsan." Lila menggerutu sambil menatap dua lengan berotot Leo yang besar.
"Jangan marah-marah terus dong, jadi makin gemes tau." Leo tergelak mendapati Lila yang cemberut. Dia melangkah mendekat.
Lila memutar matanya sebal. "Ish, seneng ya udah boongin gue?"
"Enggak." Leo menggeleng. Dia berhenti dua langkah di hadapan gadis itu. Tersenyum manis hingga kedua lesung pipinya muncul dengan pandangan lurus menatap Lila lamat-lamat.
"Jujur aja deh, happy kan lo ngeliat gue dateng ke sini karna dikibulin Dion?"
"Jujur gue happy liat lo, tapi soal dikibulin Dion gue minta maaf. Karna kalo gak pake cara kayak gitu, lo ga akan mau ketemu gue."
"Ck, basi!" Lila berdecak, memalingkan muka.
Leo terkekeh. Tangannya terulur menyentuh dagu gadis itu, membawa wajah Lila kembali ke hadapannya. "Basi-basi gini, gue tau lo juga seneng ketemu gue kan."
"Halah, kepedean lu!" Lila mencibir.
"Jujur aja sayang, gue emang ganteng dan bikin lo happy apalagi pas main basket, iya apa iya?"
"Kayaknya semenjak lo temenan sama Milan, tengilnya dia nular yah."
Leo tergelak. "Seneng deh liat lo ngomel begini, udah seminggu gak diomelin. Kangen."
Lila mengulum bibir. Menahan diri untuk tetap menjaga ekspresi kesal, sebab perasaannya kembali menghangat dengan sorot mata Leo yang sejak tadi tak lepas menatapnya begitu lamat.
"Kayaknya Milan emang udah ngajarin yang enggak-enggak deh sama lo."
"Please jangan menghindar lagi Lila." Cowok itu memohon. Menatap Lila sendu. Tangannya kini mengusap pelan pipi Lila.
"Gue gak menghindar."
Ini terasa tidak benar. Bagaimana bisa cowok yang sudah punya pacar, memperlakukan Lila seperti pacarnya sendiri? Mana bisa Lila terus seperti ini? Dia juga masih punya harga diri.
"Kalau gak menghindar kenapa lo gak pernah bales chat gue lagi? Gak pernah angkat telpon lagi?"
"Gue cuman sadar diri aja, karna gue gak mau jadi orang ketiga." Akhirnya kalimat itu keluar juga. Lila meraih tangan Leo yang menangkup pipinya sejak tadi. Membawanya kembali ke sisi tubuh cowok itu.
"Orang ketiga? Jadi bener ya kata Milan, kalau lo ngira gue punya pacar."
"Lah kan emang lo punya pacar."
"Enggak, gue jomblo."
Lila mengernyit heran. "Terus siapa yang lo panggil babe tiap angkat telpon pas bareng gue?"
Leo memasang ekspresi serius. "Itu adek gue, namanya Bebi."