Sejuk sepoi angin bergerak ringan mengenai tubuh Mingyu yang perlahan bangkit. Kedua matanya menatap sekeliling dan dirinya benar-benar merasa bingung karena ia tidak tahu ada di mana sekarang.
Mingyu mengusap wajahnya, menatap pakaian yang ia gunakan berwarna serba putih. Ia terdiam cukup lama di tempat tersebut, menatap ke arah langit yang begitu cerah biru dengan awan putih tipisnya.
Padang rumput yang begitu hijau ia pandangi juga dengan wajah yang masih datar. Bunga-bunga kecil berwarna-warni bertebaran di sela-sela padang rumput tersebut yang membuatnya semakin indah. Beberapa pohon berdaun lebat hijau tumbuh dengan asrinya, terkena sepoi angin yang menyejukkan.
Pria bermata almond itu tidak tahu dirinya berada di mana, ia merasa kosong dan bingung harus bagaimana. Berakhir hanya mendudukkan diri di sana tanpa melakukan apapun, sembari memandangi pemandangan di hadapannya dengan begitu tenang.
Detik dan menit berlalu, semakin dalam Mingyu memandangi pemandangan penghijauan dan birunya langit, semakin dirinya terpaku dan terpesona dengan keindahannya. Merasa dirinya begitu damai dan tenang, tidak merasakan beban apapun hingga tiba-tiba ia mendengar namanya dipanggil.
"Alvaro.."
Mingyu menoleh ke belakang, melihat seorang pemuda yang terlihat jauh lebih muda darinya, pakaiannya serba putih. Ia menunjukkan senyuman manis di wajah cantiknya.
Kedua mata Mingyu mengerjap kecil, dalam hitungan detik, ia sadar bahwa ia jatuh cinta dengan mudahnya pada pemuda itu. Mingyu lalu beranjak untuk berdiri, menghadap pemuda itu yang masih menunjukkan senyumannya.
Wonwoo tersenyum lebar, ia kemudian meraih tubuh Mingyu dan memeluknya dengan erat. "Maafin aku.." ucapnya dengan lirih, memejamkan kedua matanya dan membuat air matanya mengalir begitu saja.
Mingyu yang mendapat perlakukan tersebut merasa bingung, namun dengan tidak sadar, kedua tangannya balik meraih tubuh pemuda itu dan membalas pelukannya dengan erat.
Sementara pemuda di pelukannya masih menangis, Mingyu mengusap punggungnya dengan lembut, ia merasakan sebuah kesedihan tetapi juga sebuah kebahagiaan yang tidak terkira. Merasakan pelukan erat yang entah kenapa membuat rasa rindu bertahun-tahun di hidupnya hilang begitu saja.
Jantungnya berdetak dengan begitu cepat, waktu terasa begitu lambat dan Mingyu mengalirkan air matanya begitu saja. "Mas.. Arka.." lirihnya, benar-benar lirih dan nyaris Wonwoo tak dapat mendengarnya.
Wonwoo tak membalas apapun, dirinya mengeratkan pelukannya. "Maafin aku Alvaro.." lanjutnya lagi, dengan sebuah usapan kecil di kepala belakang Mingyu, tangisannya semakin menjadi. "Maafin aku karena ninggalin kamu duluan.." isaknya.
Mingyu menelan ludahnya dengan kasar, dadanya terasa sesak dan tenggorokannya tercekat begitu saja. "Mas Arka.." ia tersedu, mengeratkan pelukannya itu, mendekap tubuh pemuda yang sangat ia rindukan.
Wonwoo lalu mendongakkan kepalanya, sedilit melepas pelukan tersebut, menatap wajah Mingyu yang tengah menangis, menghapus air matanya dengan senyuman di wajahnya. "Kamu masih tampan aja kaya dulu.." ucapnya kemudian.
Mingyu mengalirkan air matanya lagi, ia menatap Wonwoo yang masih sama, sama saat terakhir kali dirinya mendekat pemuda itu di pelukannya. Ia mengusap rambut Wonwoo dengan lembut. "Mas Arka.." lirihnya lagi, ia sangat merindukan Wonwoo sampai tidak bisa berkata-kata lagi.
"Iya Alvaro.." balas Wonwoo, berusaha tersenyum dengan air matanya yang kembali mengalir.
"Aku kangen banget sama mas Arka.." lirih Mingyu, ia menghapus air mata Wonwoo dengan gerakan lembut. "Mas Arka.. sekarang baik-baik aja kan?" tanyanya lagi.
Wonwoo mengangguk antusias. "Aku baik-baik aja Alvaro.." jawabnya kemudian, ia kemudian memundurkan langkahnya, menatap Mingyu yang bingung kenapa dirinya melepas pelukan itu. "Alvaro.. kamu harus pulang, Ardi nungguin kamu." ucapnya kemudian.
"Ardi?" gumam Mingyu dengan bingung, mendengar nama tersebut, mengingatkannya kepada sang ponakan. Anak angkat dari kakak dan kakak iparnya, Mingyu mengerjapkan kedua matanya. "Ardi.. minta dibeliin pensil warna.." gumam Mingyu lagi.
Pemuda bermata rubah itu mengangguk kecil untuk menanggapi, ia kemudian menyunggingkan senyumannya. "Kamu harus pulang Alvaro.." ucap Wonwoo lagi, membujuk pria yang kini sudah jauh lebih tua dibandingkan dirinya.
Mingyu menatap Wonwoo lekat, terdiam selama beberapa saat lalu menatap sekeliling, melihat keadaan padang rumput tadi kini dengan pandangan yang berbeda. "Apa.. Ini tempat tinggal mas Arka sekarang?" tanya Mingyu.
"Iya.." jawab Wonwoo kemudian.
Mingyu menyadari dirinya berada di mana sekarang, karena terakhir hal yang dirinya ingat adalah ia memeluk makam Wonwoo dengan berlumuran darah akibat kecelakaan yang ia alami saat datang ke berkunjung ke makam Wonwoo. "Hari ini mas Arka ulang tahun, aku akan tinggal di sini." ucapnya lalu menoleh ke arah Wonwoo.
"Alvaro, ulang tahunku udah berhenti dari dua puluh tahun yang lalu. Kamu juga harus pulang, keluargamu menunggu." bujuk Wonwoo lagi.
Mingyu mendekat ke arah Wonwoo, memutus jarak diantara keduanya. "Dua puluh tahun aku bertahan mas Arka, sekarang aku udah ketemu mas Arka, aku nggak mau pergi gitu aja."
"Alvaro--"
"Ini pilihan aku mas.." sela Mingyu, ia meraih kedua tangan Wonwoo dan menggenggam tangannya dengan erat. "Aku milih buat setia sama mas Arka, berharap bakal ketemu sama mas Arka dan semua orang tahu itu. Mama, papa, kak Reza, semuanya tahu mas. Mama mas Arka juga tahu, kalo aku bakal milih mas Arka." lanjutnya dengan sedih.
Wonwoo mengalirkan air matanya, kepalanya menunduk dalam. Ia tidak mengerti kenapa Mingyu seperti itu, kenapa Mingyu harus selalu datang ke makamnya, membuat dirinya juga mengharapkan untuk tetap bersama Mingyu.
Dan kini, ketika Mingyu sudah berada di hadapannya, ia berusaha keras untuk menyuruh Mingyu pergi, namun dengan berat hati. "Alvaro.. boleh nggak, aku egois?" tanya Wonwoo, kemudian mendongakkan kepalanya, menatap Mingyu dengan lekat. Mingyu mengangguk kecil untuk menanggapi. "Kalo gitu.. jangan pulang Alvaro, tetep di sini sama aku.. Aku beneran udah nggak kuat.." Wonwoo mengalirkan air matanya lagi.
Mingyu langsung meraih wajahnya, menghapus air matanya dan ia mengangguk untuk menanggapi. "Aku tetep di sini mas, aku nggak akan pergi.." ucapnya dengan senang.
Wonwoo menangis lagi, ia meraih tubuh Mingyu dan memeluknya erat, mengikat pria itu di pelukannya dengan erat. "Jangan kembali sama mereka, tetep disini Alvaro.." pinta Wonwoo lagi.
"Iya mas Arka.." Mingyu mendekap tubuh itu dengan erat. "Mulai sekarang, kita bakal sama-sama terus.." Mingyu kemudian mencium kening Wonwoo dengan lembut nan dalam.
Ia mengusap wajah Wonwoo yang basah akan air mata. "Wajah mas Arka.. masih manis kaya dulu. Cantik." ucapnya kemudian.
Wonwoo yang mendengarnya terkekeh kecil, Mingyu masih saja suka menggodanya meskipun sudah bertahun-tahun berlalu. Ia menatap wajah tampan itu dengan lekat, lalu mendekat dan mengecup bibirnya dengan lembut. "Apa tipe golongan darah kamu Alvaro?" tanya Wonwoo dengan nada bercanda.
Mingyu terkekeh kecil mendengarnya. "Mas Arka.."
••• THE END •••
Aku kangen sama mereka, terus iseng bikin ini. Meskipun cuma 1000 kata, tapi buat mengobati hati mungil ini yang kangen sama minwon🥲🥲
KAMU SEDANG MEMBACA
mas arka wonwoo
FanfictionMINWON • COMPLETED "Mas Arka yang terlalu polos apa gue yang terlalu mesum sih?" • Dylan Wonwoo Arkana • Mingyu Alvaro Mahendra start : november 2021 finish : december 2021 BL 1821 • Kim Mingyu || Jeon Wonwoo ©Violet1056
