Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, aku baru saja turun dari ojol lalu membuka gerbang rumahku berjalan lemas tidak berdaya, mata yang sedikit sembab sama kelopak mata yang merah. Aku berjalan masuk ke dalam rumah.
Aku melihat ada bang pathan sedang duduk di sofa ruang tengah, laki-laki itu sedang tiduran sambil memainkan hp nya serius. Aku mengabaikannya lalu berjalan ke arah tangga.
"Dari mana kamu?" tanya bang pathan, dengan tatapannya yang masih menatap layar hp "udah jam berapa ini?"
Aku menghela nafas pelan. "Maaf aku pulang telat lupa ngabarin"
Dia bangun lalu menatapku. "Dari mana?" laki-laki yang mengenakan baju kaos rumahan berwarna putih dengan celana pendek selutut itu kembali bertanya dengan nada serius.
Aku diam sejenak. "i-itu aku habis" aku mulai berpikir aku habis dari mana tidak mungkin aku menjawab rumah sakit pasti seribu pertanyaan keluar dari mulutnya.
Kalaupun aku bilang nongkrong dia pasti marah, padahal dia sendiri aja kalau nongkrong sampe ga inget waktu, dasar egois. Tapi mungkin karena aku cewek jadi dia khawatir.
"Aku habis ketiduran di rumah zia terus kebangun tadi jam set 9, maaf bang lain kali aku ga kayak gitu lagi" kata aku menjelaskan kebohongan kepada bang phatan yang sedari tadi menatapku penuh tanda tanya.
Bang pathan mengangguk ngerti. "Pantes mata kamu merah, kirain abis nangis" ucapnya.
Dengar ucapannya membuat hati aku tersentuh lagi, aku berusaha untuk tidak nangis di hadapannya.
"Aku cape tadi abis main basket di sekolah, aku izin ke kamar ya mau bersih-bersih habis itu tidur" lanjutku sambil berusaha untuk tidak gemetar saat bicara. Kemudian membalikkan badan dan berjalan ke tangga menuju kamarku.
Depan kamar langkahku terhenti, menoleh ke belakang menatap tangga sialnya air mataku jatuh lagi. Aku menghela nafas panjang mengusap kasar pipiku, lalu membuka pintu kamarku dan masuk ke dalam kamar.
Setelah sudah bersih-bersih, aku menggunakan baju tidur berwarna Navy dengan celana yang sama. Mulai merentangkan badanku di kasur karena terasa tubuhku mulai lemas tidak lupa mengambil obat-obatan yang ada di dalam tas. "Ck. gua belum minum obat lagi"
Aku bangun mengambil air putih di gelas, di kamarku ada dispenser. Kembali duduk di tepi tempat tidur. Membuka 3 macam obat didalam bungkusnya dan meletakkan di tanganku, aku meneguk 3 obat itu secara bersamaan didorong dengan air putih.
Menyimpan obat itu di laci kamarku di sembunyikan di bawah buku-buku sekolahku. Pandanganku teralihkan ketika menatap foto mama di bingkai berukuran kecil terletak di meja.
Aku mengangkat foto itu. "Maa, doain aku dari atas sanaa yaa.. supaya aku bisa sembuh"
"Karna kalau aku gaada, papa sama bang phatan gimana? teruss masa depanku gimanaa? aku juga pengen wujudkan cita-cita aku mah."
"Dulu ingatkan? mama pengen banget aku bisa S2 dan menjadi dokter supaya bisa selamatkan nyawa orang sakit"
"Mama tau ga? akhir-akhir ini papa sibuk sama perusahaannya, aku kasian deh mah sama papa karena dia gabisa istirahat yang cukup"
"Aku khawatir dia sakit"
Masih menatap fotonya sambil berbicara sendirian mengkhayal kalo mama lagi dengerin curhatan aku. Aku menyimpan kembali fotonya di tempat awalnya. Aku mulai menangis dengan kedua tangan menutup wajahku.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝑨𝒌𝒖 𝒔𝒆𝒎𝒃𝒖𝒉, 𝑲𝒂𝒎𝒖 𝒑𝒆𝒓𝒈𝒊
Romance"Kamu harus janji sama aku setelah kamu sembuh, kamu harus bahagia dan gaakan ngerasain sesak lagi...." Mohon maaf jika banyak sekali kesalahan kata atau penulisan yang tidak beraturan mohon di maklumi dan saya harap para pembaca bisa ikut merasakan...
