Di siang hari aku sudah berada di rumah sakit. Sudah janjian dengan dokter tari jam 1 siang. Sekitar 30 menit pemeriksaan lalu setelah itu aku menunggu di depan ruang pemeriksaan dan menunggu hasilnya.
Raden Raja
Raden Raja: kamu lagi apaa?
Pinkan: aku lagi dirumah aja nih mau istirahat gamau keluar rumah, mumpung libur me time nya di kamar aja
Raden Raja: iyaa bagus istirahat aja yaa aku juga gak mau ganggu kamu istirahat
Pinkan: kamu sendiri lagi apaa?
Raden Raja: aku lagi dirumah juga sama gabut sih sebenernya tapi bentar paling aku nongkrong dirumah ari pada mau main ps
Pinkan: iyaa, inget waktu ya tapi jangan lupa makan ya
Raden Raja: iyaa okee, i love you
Pinkan: i love you too
"Pinkan, silahkan masuk" kata suster yang baru saja membuka pintu.
Aku menoleh "Okee suster." Aku bangkit dari duduk lalu masuk ke ruangan dokter tari. Berjalan perlahan lalu duduk berhadapan dengan dokter tari. "Gimana dok hasilnya? akhir-akhir ini jantung aku kalo kambuh makin sakit" keluhku.
Dokter tari mengangguk. "Hasilnya berubah drastis, saya liat kondisi jantung kamu semakin parah pinkan" ujar dokter tari.
Seluruh tubuhku lemas ketika mendengar itu hanya memandang dokter tari dengan tatapan kosong.
"Kemarin jantung kamu membaik, kenapa sekarang berubah drastis? apa kamu sering ada di lingkungan asap rokok? atau emosi kamu kurang stabil?" tanya dokter tari beruntun.
"Mungkin emosi saya kurang stabil dok, akhir-akhir ini" aku menelan ludah. "Tapi.. apa saya masih bisa sembuh dokter?"
"Kamu kondisikan ya emosi kamu sebisa mungkin karena kalau emosi kamu masih belum stabil berdampak ke jantung nya juga semakin parah dan jantung kamu pasti akan kambuh, dan kemungkinan kesembuhan kamu juga akan sulit" dokter tari menjelaskan dengan lembut.
Aku tersenyum kaku. "kemungkinan kesembuhannya sulit?" nahan nangis. Apakah aku harus pasrah? atau aku harus tetap berjuang? itu kata-kata yang berputar di kepalaku.
Dokter tari ngangguk.
"Apa obat dirumah kamu masih ada?" tanya dokter tari.
"Ada dokter"
"Saya bakal kasih kamu obat supaya kamu tidak bulak-balik ke rumah sakit kamu harus banyak istirahat juga, dan rutin ya minumnya jangan sampai terlewatkan" ujar dokter tari. "Ini, kamu tunggu di loket untuk mengambil obatnya, tenang ya saya pasti bakal bantu kamu pinkan, asalkan kamu mau berjuang" ujar dokter tari memberikan semangat untukku.
"Iyaa dok, terima kasih" aku tersenyum lalu pamit dan pergi keluar ruangan. Berjalan ke loket dengan tatapan kosong kata-kata dokter tari terus terngiang di telingaku. kesembuhan kamu juga akan sulit.
"Pinkan"
Aku menoleh, terkejut waktu tau siapa yang panggil. Itu arla.
"Ar-la" kata aku gugup. "Lu ngapain disini?"
"Harusnya gua pin yang nanya, ngapain lu disini?"
Arla menatap kertas yang ada di lenganku, dengan lancang arla mengambil kertas itu dari tanganku.
"Eh arlaa" aku berusaha mau mengambil kertas itu tapi tenaga arla kuat aku sulit untuk mengambil kertas itu kembali.
Arla bungkam saat tau isi kertas itu yang ternyata resep obat tertulis dengan jelas. Arla menoleh ke arahku.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝑨𝒌𝒖 𝒔𝒆𝒎𝒃𝒖𝒉, 𝑲𝒂𝒎𝒖 𝒑𝒆𝒓𝒈𝒊
Romance"Kamu harus janji sama aku setelah kamu sembuh, kamu harus bahagia dan gaakan ngerasain sesak lagi...." Mohon maaf jika banyak sekali kesalahan kata atau penulisan yang tidak beraturan mohon di maklumi dan saya harap para pembaca bisa ikut merasakan...
