Pagi itu, matahari baru saja menampakkan sinarnya. Jam menunjukkan pukul enam lewat sepuluh menit, suasana rumah keluarga Itoshi masih tenang.
Di depan cermin, Itoshi Rin kini telah rapi dengan seragam sekolahnya. Ia mengecek rambutnya sekali lagi, lalu mengambil tas dan berjalan turun ke dapur.
“Mama, Papa, selamat pagi,” sapanya datar, namun tetap dengan yang nada sopan, dan ikut bergabung ke meja makan.
Rin menoleh ke salah satu kursi yang telah kosong, namun ia berusaha untuk acuh seperti biasa.
“Selamat pagi, sayang,” sahut sang Ibu sambil menyajikan roti panggang, “cepat makan sarapanmu, sebentar lagi Papa akan antar kamu ke sekolah.”
Rin mengangkat alis, menatap bingung, “Tumben banget? Rin bisa berangkat sendiri kok.”
“Nggak bisa, Rin,” potong sang Ayah, “kemarin kamu bilang motormu lagi rusak, kan? Jadi, buat sementara ini biar Papa yang antar jemput dulu sampai motor udah diperbaiki.”
“Berarti pake mobilnya Papa dong?"
"Iya dong, masa mau pake motor butut Papa yang udah lama nganggur di gudang?” ujar sang Ayah sambil tertawa, “lagian biar irit juga, kan, daripada kamu naik bus.”
Rin terdiam sejenak. Lalu bertanya dengan nada terpaksa, “Kenapa nggak nyuruh Bang Sae aja? Sekalian berangkat bareng, kan?”
Kedua orang tuanya saling pandang. Akhirnya sang Ibu menjawab dengan hati-hati, “Papa sama Mama udah coba diskusikan soal ini sama abangmu kemarin, tapi...”
“Udah, nggak usah dilanjutin,” sela Rin dengan cepat, “Bang Sae selalu aja kayak gitu. Dia anggap Rin seolah-olah Rin ini nggak ada. Udah jelas kalo Abang benci banget sama Rin.”
Seketika suasana meja makan menjadi hening. Di dalam hati, Rin menyimpan rasa sedih mendalam yang tak sempat ia tumpahkan. Perlakuan dingin sang kakak selama bertahun-tahun membuat luka yang tak kunjung sembuh. Orang tua mereka tidak dapat berbuat banyak tentang pertikaian saudara ini.
Di sekolah, sepanjang pelajaran mood Rin benar-benar buruk. Ekspresi dingin dan tatapan panjang, serta dengan aura kegelapan yang membara, membuat semua orang takut mendekatinya. Mereka tidak ingin mencari maut dengan masuk ke sangkar harimau.
Jam istirahat pun tiba, Rin memutuskan untuk berjalan keluar mencari angin. Duduk diam di kelas membuat moodnya semakin buruk.
“Cih! Kenapa gue malah kepikiran gini? Mau Bang Sae benci atau enggak, gue nggak peduli. Jangan harap kalo gue bakal ngemis-ngemis minta perhatian sama dia!”
Brukkk!!!
Akibat terlalu larut dalam pikiran, Rin tidak sengaja menabrak seseorang saat akan berbelok di lorong. Buku-buku berserakan di lantai. Rin sempat ingin marah, namun seketika amarahnya mereda begitu melihat orang yang ia tabrakan.
“KAK ISA! KAKAK NGGAK PAPA?” ujar Rin dengan panik, ia langsung berjongkok dan membantu memunguti buku-buku yang terjatuh tadi.
Isagi berdiri dan tersenyum lembut, “Iya, kakak nggak kenapa-kenapa kok. Santai aja.”
“Maafin Rin ya, Kak. Rin tadi nggak fokus ngeliat jalan karena lagi mikirin sesuatu. Rin benar-benar minta maaf...” Rin menunduk, merasa bersalah.
“Nggak masalah kok, Rin. Kakak juga salah karena jalan agak ke tengah.”
Rin tiba-tiba tersadar sesuatu. “Sebagai permintaan maaf... gimana kalau Rin bantuin kakak bawa buku-buku ini? Ini mau di bawa ke ruang guru, kan?”
Isagi terkejut, “Eh, nggak usah, Rin. Kakak bisa bawa sendiri, kok. Lagian ini tugas kakak.”
“Nggak masalah, Kak. Rin yang nabrak, jadi Rin yang harus tanggung jawab,” ucap Rin dengan senyum tulus.
Sepanjang jalan menuju ruang guru, mereka mengobrol ringan. Rin, yang biasanya tertutup dan dingin, kini terlihat begitu nyaman. Baru kali ini ia merasa hangat di dekat seseorang.
“Rin, makasih banyak ya, udah mau bantuin kakak bawain buku-buku itu,” ucapnya dengan tulus.
“No problem, Kak. Rin senang bisa bantu Kakak...” jawab Rin sambil tersenyum, pipinya sedikit memerah.
Namun senyum itu langsung sirna ketika ia melihat Sae tengah berdiri di depan ruang guru dengan menyilangkan tangan di dada disertai tatapan tajam menusuk, seolah-olah ia menunggu mereka keluar.
“Kak Sae?” panggil Isagi agak terkejut, “kakak ngapain ke sini?”
Sae tersenyum, “Kakak nyariin kamu dari tadi. Pas tanya temenmu, dia bilang kalo kamu lagi nganter buku ke ruang guru...”
Ia memalingkan wajah ke arah Rin, tatapan langsung berubah menjadi sinis, “..tapi Kakak nggak nyangka kamu nganternya bareng dia.”
Isagi mencoba menjelaskan, “Ah iya, kami tadi ketemu di lorong, terus Rin nawarin aku buat bantuin bawa buku-buku yang lumayan banyak. Adek kamu baik banget, loh.”
“Gitu? Kenapa kamu nggak minta bantu sama kakak aja?” tanya Sae, menarik Isagi mendekat ke arahnya, “padahal kakak udah nungguin kamu di ruang OSIS, loh.”
Isagi menggaruk tengkuknya, “Maaf, tapi aku nggak mau ngerepotin kakak terus. Lagian ini tugas ringan kok!”
Sae tersenyum tipis, “Lain kali jangan sungkan. Karena kakak suka direpotin sama kamu, sa...” ia menyentil pelan dahi Isagi.
“Aduh... sakit...”
“Jangan main kasar gitu, dong!” Rin tiba-tiba menarik Isagi ke belakang tubuhnya, menatap Sae dengan kesal, “Abang kenapa sih? Masalah banget ya kalo Rin bantuin Kak Isa?”
“Masalah, karena kamu enggak ada urusannya sama Abang dan Isagi,” Sae berdiri menghadap Rin.
“Wah, segitunya? Padahal Rin cuma nolongin kak Isa loh, nggak ada maksud lain. Tapi ya sudahlah. Emang dari dulu abang nggak pernah suka Rin nyentuh hal-hal yang abang suka, kan?”
Tatapan marah Sae langsung membara, rahangnya mengeras, “Balik ke kelas. Sekarang.”
“Abang ngusir aku?”
“Cepat!” ujar Sae penuh penekanan.
Rin mengepalkan tangan, menggeram marah. Matanya masih menyala dengan emosi yang belum selesai. Lalu ia menoleh ke Isagi, mencoba menyunggingkan senyum, meski jelas sekali terlihat dipaksakan.
“Maaf ya, Kak. Rin harus masuk kelas dulu.”
Isagi mengangguk ragu, matanya bergantian menatap Rin dan Sae, “I-Iya... hati-hati ya, Rin. Makasih atas bantuan kamu.”
Sebelum pergi ia melempar seringai menyebalkan kepada Sae, melihat sang Kakak yang seperti akan meledak oleh amarah membuatnya tersenyum puas. Ia tahu, bahwa kakaknya saat ini tengah dibakar api cemburu.
Di kelas, suasana hati Rin berubah drastis. Pagi tadi ia seperti predator yang ingin menerkam mangsa, tapi sekarang ia duduk bersandar sambil senyum-senyum sendiri. Teman-temannya tidak dapat berkutik lagi, mereka bersyukur karena mood-nya telah membaik.
Rin sadar, lagi-lagi ia kembali jatuh hati.
Ia terus memikirkan wajah Isagi yang cerah, suaranya yang menenangkan, dan senyum manisnya. Baru kali ini, ia begitu merasa berdebar berada di dekat seorang wanita.
Saat Rin masih larut dalam pikirannya, tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk.
Dari: SAE
“Kamu pulang sama Abang. Abang mau ngomong sesuatu.”
Rin terdiam. Entah mengapa, ia dadanya terasa sesak. Bukan karena ia takut dengan Sae, hanya saja ia tahu, bahwa obrolan ini tidak akan berakhir dengan mudah.
Tbc...
See you in the next chapter!
Sabtu, 28 Juni 2025.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐈𝐒𝐀𝐆𝐈 𝐘𝐎𝐈𝐂𝐇𝐈 '𝐅𝐞𝐦. 𝐕𝐞𝐫𝐬𝐢𝐨𝐧' || 𝗕𝗹𝘂𝗲𝗟𝗼𝗰𝗸
FanfictionIsagi Yoichi atau biasa dipanggil 'Mbak Ica' adalah seorang kapten dari klub Sepak Bola Putri di SMA BlueLock. Setelah ia memenangkan pertandingan antarsekolah mewakili Sepak Bola Putri, Isagi tiba-tiba langsung populer dan banyak dikejar oleh para...
