24. PERTENGKARAN SAUDARA 2

144 9 9
                                        

Flashback on:

Suara gelak tawa dua anak laki-laki memenuhi taman kecil di belakang rumah keluarga Itoshi. Di sana kita dapat melihat kakak beradik Itoshi sedang bermain bola.

“Bang! Oper bolanya!” seru Rin sambil berlari mengejar sang kakak, berusaha menyamai langkahnya.

“Siap! Ambil ini, striker andalan!” ujar Sae mengoper bola tepat ke kaki Rin.

Rin menyambut operan itu dengan semangat, ia terus berlari menuju gawang yang mereka buat sendiri. Dengan satu hentakan, Rin menendang bola lurus ke arah gawang, dan bola pun masuk dengan sempurna.

“GOOOOOLLL!” Sae berteriak dan berlari ke arah Rin, lalu mengangkat adiknya itu tinggi-tinggi.

“Adek abang hebat banget! Abang yakin suatu hari nanti Rin bisa jadi striker paling hebat di dunia!” Sae mengacak pelan rambut adiknya.

Rin mengangguk, “Iya! Kalo udah besar nanti, Rin mau jadi pemain bola hebat kayak abang! Abang kan idola nomor satunya Rin! Rin nggak butuh siapa-siapa selain abang!”

Sae terdiam sejenak, lalu tersenyum lembut, “Makasih ya, Rin...”

Tak ada momen yang lebih membahagiakan dibanding saat itu. Sae sangat menyayangi sang adik lebih dari apapun, maka ia selalu berusaha menjadi panutan terbaik bagi Rin. Begitu juga Rin, ia selalu menatap sang kakak dengan mata penuh kekaguman. Selain itu, tidak ada yang lebih membanggakan bagi Rin, selain disebut sebagai ‘Adik Sae’.

Sejak kecil, keduanya nyaris tak terpisahkan. Sae sering menjaga Rin, menemaninya bermain bola, belajar, hingga menikmati es krim bersama. Orang tua mereka sampai gemas sendiri melihat kedekatan mereka.

Mereka adalah dua bersaudara yang tidak terpisahkan.

Waktu terus berjalan. Tidak terasa, Sae telah lulus SD dan akan segera masuk SMP, sementara Rin baru naik kelas 5 SD.

Rin awalnya merasa tidak ada yang aneh, ia masih menanti hari-hari selanjutnya bersama Sae. Sampai pada akhirnya ia mengetahui bahwa Sae akan bersekolah di luar kota dan harus tinggal di Asrama.

“Kenapa abang nggak kasih tau Rin dari awal? Abang bilang bakal masuk SMP deket sini?” tanya Rin dengan suara kecewa, ia merasa telah dibohongi.

“Maaf... Ini juga bukan maunya abang. Ini permintaan Mama dan Papa. Mereka mau abang lebih fokus belajar, jadi abang nggak punya pilihan lain.”

“Nggak mau! Abang nggak boleh pergi!” tangis Rin pecah sambil memeluk Sae erat, seolah tak membiarkan kakaknya pergi.

Sae mengusap lembut surai adiknya, “Rin nggak boleh cengeng, abang bakal pulang beberapa bulan sekali kok. Jadi selama abang nggak ada di rumah, Rin nggak boleh nakal ya?”

Rin hanya menganggukkan kepala, menurut.

Saat hari keberangkatan tiba, Rin mencoba bersikap tegar. Ia tidak mau menunjukkan sisi lemahnya di hadapan sang kakak, walau ia ingin sekali menangis dan mengejar Sae.

Hari-hari pun berlalu, mereka jadi rutin teleponan. Sae sering cerita soal teman barunya di asrama, latihan klub sepak bola, pelajaran yang lebih sulit, atau gurunya yang galak.

Sae juga menepati janjinya untuk pulang beberapa bulan sekali demi menemui Rin.

Setahun berlalu dengan cepat dan semuanya masih baik-baik saja, tapi saat Sae naik ke kelas 2 SMP, sesuatu mulai berubah.

Telepon tidak dijawab. Pesan tidak dibalas. Bahkan saat pulang ke rumah, Sae lebih sering mengurung diri di kamar. Tidak ada lagi permainan bola. Tidak ada lagi es krim. Senyum hangat Sae perlahan menghilang. Kini tergantikan dengan sosok Sae yang pendiam.

𝐈𝐒𝐀𝐆𝐈 𝐘𝐎𝐈𝐂𝐇𝐈 '𝐅𝐞𝐦. 𝐕𝐞𝐫𝐬𝐢𝐨𝐧' || 𝗕𝗹𝘂𝗲𝗟𝗼𝗰𝗸 Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang