25. BOLOS

33 7 0
                                        

Pagi itu, sekolah masih tampak sepi. Suara langkah kakinya menggema di sepanjang lorong menuju ruang OSIS. Dengan raut wajah penuh kecemasan yang tak dapat disembunyikan. Sejak kemarin, ia merasakan firasat buruk yang terus mengganggu pikirannya. Dan pagi ini, ia ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi.

Langkahnya terhenti di depan pintu ruang OSIS. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan pikirannya, lalu mengetuk pelan.

Tok! Tok! Tok!

“Masuk,” sahut suara dari dalam ruangan.

Isagi membuka pintu perlahan. Di dalam, terlihat Sae tengah duduk sambil dikelilingi oleh tumpukan dokumen. Tapi bukan itu yang menjadi pusat perhatian Isagi saat ini.

Pipi kiri Sae yang terlihat membiru, seperti bekas pukulan yang tampak jelas masih baru di dapatkan.

“Kak Sae...”

Sae mendongak, “Oh. Pagi, Isagi.”

“Astaga, pipi kakak kenapa?!” Isagi langsung menghampirinya, “jangan bilang, kakak kemarin abis berantem sama Rin?”

Sae menghela napas kasar, “Ini bukan urusan kamu, sa. Lagian ini juga bukan hal penting buat diperhatikan. Jadi kamu nggak perlu tahu.”

“Bukan hal penting gimana?! Kalo sampe-”

“Udah gue bilang kalo ini bukan urusan kamu, Isagi Yoichi!” nada suara Sae seketika naik. Tangannya menepis pelan tangan Isagi yang mencoba menyentuh pipinya yang lebam.

Isagi membeku di tempat. Atmosfer mendadak menjadi sunyi. Pandangannya terasa berputar-putar, dan untuk sesaat, ia merasa tak mengenali sosok Sae yang berada di hadapannya saat ini.

“Maaf...” gumamnya, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang. Ia mundur satu langkah, lalu pergi tanpa menoleh sedikit pun.

Sae hanya dapat menatap punggung Isagi yang semakin menjauh, tanpa ada niatan untuk mengejar. Tangannya mengepal kuat di atas meja, rahangnya mengeras. Ia tidak pernah bermaksud untuk menyakiti Isagi. Tapi pada akhirnya, ia tetap membiarkannya pergi.

Dengan emosi yang meledak, Sae menggebrak meja dengan kasar sebagai pelampiasan.

“SIAL!” teriaknya penuh amarah pada diri sendiri.

*      *      *

Beberapa hari telah berlalu. Sejak kejadian itu, Isagi tak pernah lagi muncul di ruang OSIS untuk menemui Sae atau hanya sekadar menyapa. Ia tak membaca pesan dan menjawab panggilan dari Sae. Ia juga tak terlihat di sekitar kantin, bahkan perpustakaan yang kerap mereka kunjungi bersama. Seolah-olah ia sengaja menghindari untuk bertemu.

Ketika melihatpun, Sae hanya bisa diam-diam memperhatikan Isagi dari kejauhan. Karena setiap kali mereka berpapasan, Isagi akan langsung menghindar sebelum Sae sempat mendekatinya. Bahkan untuk sekadar memandang pun, Isagi enggan. Seolah keberadaan Sae hanyalah angin lalu.

Dan bagi Sae, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, mendapatkan silent treatment dari Isagi ternyata jauh lebih menyakitkan ketimbang apa pun.

Setiap malam, Sae masih konsisten menulis pesan kepada Isagi dan mengirimnya, lalu kembali menghapusnya. Dan itu terus berulang sampai ia mendapatkan balasan.

“Gue mohon, Isagi. Kasih gue satu kesempatan buat jelasin dan memperbaiki semuanya...”

Sae benar-benar dibuat frustasi.

*      *      *

“AKHHHH, GAWAT GUE TELAT KE SEKOLAH!”

Pagi ini, Isagi bangun kesiangan untuk pertama kali. Alarmnya entah sejak kapan berhenti berbunyi, dan sekarang jarum jam sudah menunjukkan pukul 06:45. Mata pandanya begitu jelas, hasil dari maraton dua belas episode drakor dalam satu malam.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 13 hours ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

𝐈𝐒𝐀𝐆𝐈 𝐘𝐎𝐈𝐂𝐇𝐈 '𝐅𝐞𝐦. 𝐕𝐞𝐫𝐬𝐢𝐨𝐧' || 𝗕𝗹𝘂𝗲𝗟𝗼𝗰𝗸 Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang