Kabut lembah menetes lembut, menyelimuti pepohonan tinggi yang berbaris bagai penjaga abadi. Di tengah hutan sunyi itu, berdiri sebuah kuil megah yang kini tinggal reruntuhan batu raksasa. Pilar-pilar putih yang pernah menjulang angkuh kini retak, terbaring miring, ditumbuhi lumut tebal. Di langit, bulan tampak samar, cahayanya terpecah kabut, menciptakan bayangan seperti roh pengintai.
Kuil ini dulu dibangun untuk memuja Penjaga Dunia, Sang Pencipta yang dipercaya menyeimbangkan alam dan manusia. Meski kini runtuh, aura kesakralan masih bergelayut di setiap retakan dinding menjadi saksi bisik doa para leluhur masih berembus di antara reruntuhan.
Di kaki tangga batu yang hancur, Mirallae berdiri gelisah. Jubahnya basah oleh embun, rambut hitam panjangnya meneteskan sebutir air yang mengalir ke pipi. Dia menggigit bibir. Tatapan matanya menembus kabut, menunggu bayangan yang belum kunjung muncul.
"Cepatlah, Gallae. Kali ini saja, aku mohon kau segera datang. Jangan main-main malam ini," gumamnya. Napasnya membentuk asap tipis. Meski tahu Gallae jauh lebih kuat daripada seluruh pasukan kerajaan, ketakutan tetap merambat di dadanya.
Suara langkah kaki. Retakan ranting.
Mirallae menoleh. Dari balik kabut, muncul siluet tinggi dengan jubah panjang berkibar. Gallae berlari setengah tertatih, di lengannya menggantung tubuh mungil Inatra, yang tampak setengah tertidur karena kelelahan.
"Gallae!" teriak Mirallae, suaranya memecah kesunyian. Dia langsung melompat, berlari menembus reruntuhan. Gaunnya sobek di ujung, lututnya lecet menabrak batu, tapi dia tak peduli.
Begitu jaraknya cukup dekat, Gallae melepaskan Inatra ke pelukan Mirallae. Mirallae langsung meraih putrinya, mendekapnya ke dada. Tangannya gemetar, bibirnya menyapu kening Inatra berkali-kali.
"Inatra... anakku... oh, bintang kecilku..." bisiknya sambil menciumi pipi gadis itu. Air matanya jatuh, bercampur kabut yang menetes di rambut Inatra menyebabkan anak perempuan itu terbangun dari tidur.
Inatra memeluk balik, meski tubuhnya masih lunglai. Mata gelapnya menatap sang ibu lama. Kedua tangannya merangkum wajah Mirallae, mengantarkan kehangatan ke wajah dingin itu.
Sementara itu, Gallae melangkah mundur, menepuk debu di jubahnya. Matanya memandangi dua orang itu, lalu dia mendesah, separuh lega, separuh letih. Dia paham saat itu bukan miliknya. Perlahan, dia menghilang ke balik pilar yang runtuh, memberi ruang pada dua jiwa yang telah lama terpisah.
Mirallae mengeratkan pelukan. "Maafkan Ibu. Ibu pergi begitu saja. Ada banyak yang harus Ibu jelaskan padamu..."
Inatra menggeleng cepat. "Tidak mau dengar."
Mirallae tertegun, air matanya makin deras.
"Aku sudah dengar semuanya dari Paman Gallae," lanjut Inatra lirih. "Ibu sedang menunjukkan kebenaran dan setelah kebenaran itu diketahui semua orang, kita akan berkumpul lagi... sebagai satu keluarga. Aku, ibu, ... dan ayah."
Hening. Hanya bunyi kabut yang menyapu dedaunan.
Mirallae merosot, menarik Inatra ke pangkuan. "Ibu... Ibu salah... Kau tidak seharusnya ada di tengah perang. Kau harus selamat. Inatra... Jauhilah semua ini..."
Inatra menggeleng lagi. Matanya bersinar dengan keyakinan yang terlalu besar untuk tubuh sekecil itu. "Aku akan ke istana. Aku akan ikut Ayah. Aku yakin Ibu tidak akan menghancurkan istana."
Mirallae tercekat. Tangannya gemetar di pipi Inatra. "Bagaimana jika kau ikut Dasen. Kau bisa bersembunyi, selamat, jauh dari perang."
"Tidak," jawab Inatra cepat, nada polosnya terdengar menohok. "Aku bisa menjaga diriku."
Mirallae menutup wajahnya, seakan tidak sanggup melihat keteguhan anaknya. Perlahan, dia membuka mata, menatap Inatra. Mata putrinya masih sama seperti dalam ingatannya. Sepasang mata itu selalu menyihirnya, membuatnya seakan tenggelam dan telanjang.
"Kalau begitu, berjanjilah padaku. Gunakan sihirmu hanya untuk melindungi dirimu. Jangan pernah biarkan mereka tahu. Jangan biarkan orang-orang di kerajaan tahu. Jangan biarkan siapa pun tahu," mohon Mirallae dengan suara yang parau.
Inatra tiba-tiba tertawa kecil, suaranya jernih di udara dingin. "Kau harus tahu, permintaan Ibu sama seperti permintaan Ayah."
Mirallae menahan napas, matanya membelalak.
Inatra menoleh, kepalanya miring polos. "Aku heran. Kenapa tidak boleh? Apakah Raja Jed dan Ratu Cissa itu jahat? Kenapa aku tidak boleh menunjukkan sihirku kepada mereka?"
Mirallae membeku. Tubuhnya kaku seperti patung batu kuil yang sudah retak. Dia menunduk, menutup bibir yang bergetar. Ada luka lama yang tak pernah sanggup dia ucapkan.
Jika saja Inatra tahu bahwa nenek moyang Jed dan Cissa telah merebut tahta dengan darah dan pengkhianatan. Bahwa perang ini bukan sekadar perebutan wilayah, melainkan sejarah dendam yang mengakar hingga ke tulang. Tapi bagaimana bisa dia menjelaskan pada anak sekecil Inatra? Dunia ini terlalu kelam untuk disuapi pada hati semurni itu.
Mirallae menarik napas panjang, mencoba mengusir luka yang bergolak di dada. Perlahan, dia menyentuh rambut Inatra, mendekapnya lagi. Jika bisa, dia ingin menghapus seluruh pertanyaan itu dari bibir Inatra kecil dan menggantinya dengan gula-gula.
"Orang dewasa agak sedikit membingungkan, Sayang. Beberapa bulan yang lalu kami akrab. Sekarang kami bertengkar..." Mirallae mencoba memberikan penjelasan.
"Itu juga yang terjadi dengan anak-anak, Ibu. Kemarin Towala berteman dengan Giga. Tadi sore mereka bertengkar karena kelereng. Apa kau bertengkar dengan Raja Jed dan Ratu Cissa?" sela Inatra.
"Semacam itu." Mirallae tersenyum geli dengan cara menalar Inatra.
"Raja Jed pasti sangat sedih."
"Bagaimana kau bisa tahu Raja Jed bersedih?" goda Mir.
"Aku tahu, Ibu. Aku Raja Jed sangat menyayangimu. Tapi Ratu Cissa mungkin tidak terlalu sedih." Inatra mendongak dan menatap langit malam yang kelabu oleh kabut.
Mirallae ikut menatap langit. Dia penasaran pada apa yang menarik perhatian putrinya.
"Ratu Cissa bukanlah seseorang yang jahat. Hatinya hanya dipenuhi... kecemburuan," ucap Inatra lirih, matanya masih terpaku ke langit berkabut di atas reruntuhan kuil.
Mirallae tertegun. Napasnya tertahan.
"Kau mengatakannya seperti orang tua," balas Mirallae, suaranya parau, antara heran dan takut. "Bagaimana kau bisa mengetahui isi hati orang lain?"
Inatra menoleh perlahan. Senyum lebar merekah di wajahnya, menampakkan gigi-gigi kecilnya yang putih.
"Ada yang membisikanku," jawabnya ringan, seolah sedang menceritakan rahasia kecil tentang bunga di pekarangan.
Mirallae kaku. Sinar matanya bergetar, tapi cepat-cepat dia menunduk. Dia tak ingin tahu. Dia tak ingin menggali lebih dalam siapa yang berani menyentuh pikiran putrinya.
"Cukup..." bisik Mirallae, suaranya lirih dan hampir hilang terbawa angin lembah. Perlahan, dia meraih Inatra, mendekap tubuh mungil itu erat, seakan mencoba memindahkan seluruh jiwanya ke dalam dada sang anak.
Inatra pun mengangkat kedua lengannya, membalas pelukan sang ibu. Bahunya gemetar kecil, dadanya naik turun menahan rasa yang selama ini terpendam.
Mereka saling mendekap, menutup jarak rindu yang terlalu panjang, terlalu pahit, dan terlalu sunyi.
Di tengah reruntuhan suci yang berselimut kabut, ibu dan anak itu terlarut dalam pelukan, menantang nasib yang tak bisa dihindari.
Dan untuk beberapa saat, dunia seolah melupakan perang, dendam, serta darah. Yang tersisa hanyalah kehangatan terakhir seorang ibu dan anak sebelum badai datang memisahkan mereka lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sureal
Fantasy"AAAAKKHHH!!" Pandanganku buram. Entah apa yang sudah terjadi. Pisau itu ada di tangan gemetaran si pemuda. Darah segar merembes blous kuning gadingku. Si jalang memekik seperti melihat hantu. Papa berlari menyongsongku. Dan gelap. Ketika terbangun...
