Sebelas

39.8K 5K 31
                                        

Thanay

Nama itu terus membanjiri kepala Asa. Tidak tahu dengan alasan apa, nama suami Mir selalu menimbulkan getar misterius dalam dadanya.

Inatra menutup pintu setelah tamu terakhir mereka pulang, kedua bangsawan agung. Gadis kecil itu tidak henti-hentinya menyenandungkan lagu sambil berloncat-loncatan mendekati Asa yang sedang mencuci perabot bekas menjamu para tamu spesial mereka hari ini.

"Aku senang kau mengizinkan teman-temanku datang ke sini'', kata Inatra.

Tangannya terulur untuk membantu mengeringkan peralatan makan yang sudah dibilas. Asa dengan senang hati menerima uluran bantuan puteri cantik Mir.

"Kau sudah bertemu ayahku?'' Tanya Inatra.

"Sudah'', jawab Asa tanpa menoleh.

"Aku tidak akan mengadukanmu pada ayah-''

"Apa yang tidak akan diadukan pada ayah?''

Thanay sudah berdiri di belakang mereka. Tubuhnya mengeluarkan aroma segar daun mint. Asa membasahi bibirnya melihat penampilan Thanay yang segar dan menggoda sehabis mandi.

"Ibu menyusulku ke kebun beri'', sahut Inatra.

Asa membesarkan matanya tidak percaya. Awalnya dia kira Inatra tidak akan mengadukan soal dia bukanlah Mir yang asli.

"Ibu menyusulmu ke kebun beri? Apa masalahnya?''

Thanay mengangkat tubuh Inatra ke dalam gendongannya. Asa tidak mampu melepaskan penglihatannya dari mereka.Matanya terhipnotis keakraban ayah dan anak itu.

"Itu memalukan ayah. Aku seperti anak kecil yang ditemani ibunya bermain'', rengek Inatra manja.

Thanay mengulum tawanya, matanya melirik Asa dengan dua alis terangkat. Asa merasa tungkai kakinya menjadi jeli karena pandangan mereka bertemu. Ketampanan Thanay membuat degub jantungnya bergerak tidak beraturan.

"Anak lain mungkin akan iri karena kau ditemani ibumu'', kata Thanay seolah membela tindakan Asa.

Asa bersemu atas pembelaan Thanay. Sebaliknya Inatra bersidekap dengan wajah merajuk.

"Ayah tidak membelaku. Aku marah pada ayah.''

Thanay berjalan mendekati Asa yang makin lemas setiap langkah Thanay maju ke arahnya. Asa sampai perlu menahan tubuhnya pada meja di belakangnya.

Thanay mengangkat Inatra di atas meja di belakang Asa. Kontan Asa bergeser ke samping tapi upayanya gagal karena lengan Thanay yang menumpu pada meja menahan pergerakannya. Asa seperti terkurung di antara tangan Thanay dan tubuh Inatra. Bergerak ke depan pun akan mustahil karena Thanay menghadang dengan tubuh jangkungnya.

"Apa kau tidak ingin melakukan pembelaan sendiri, sayang?'' Mata teduh Thanay menyorot Asa yang gugup.

"Ibu sengaja membuatku malu, ayah'', rengek Inatra masih dengan wajah kesal.

"Maafkan perbuatan ibu'', pinta Asa tulus. Sesungguhnya dia terkejut karena bisa lancar menyebut dirinya sendiri 'ibu'.

Thanay merapatkan tubuhnya pada Asa. Tangannya merangkul pinggang Asa luwes. Inatra yang kesal dengan kemesraan ayahnya, merangkul leher Asa sampai pipi gemuknya berhimpitan dengan pipi Asa. Sementara Asa sudah menegang kaku dengan adegan drama romantis keluarga Mir.

"Ayah jangan ganggu ibu. Aku mau tidur dengan ibu'', kata Inatra manja.

Asa menghembuskan napas lega saat tangan Thanay melepaskan pinggangnya. Asa akan mengingat dominasi Inatra sebagai jalan keluar jika situasi serupa kembali.

"Sayang, apa kepalamu masih sakit?'' Tanya Thanay.

Asa meremas tangannya bergantian. Dia gugup. Berbicara dengan Thanay bukanlah hal yang ingin dia lakukan sekarang. Semuanya terlalu mendadak, bak tsunami menerjang. Persis ketika dia terbangun sebagai Mirallae.

Ah. Asa nyaris melupakan kewajibannya datang ke mari. Melupakan permintaan Mir. Semua karena sosok Thanay.

"Sayang!''

Asa tersiap. Wajah Thanay sangat dekat. Hembusan napas hangatnya menerpa kulit wajah Asa. Bukannya menghindar, lagi-lagi Asa dibingungkan kerja organ tubuhnya yang tidak mematuhi perintah otaknya. Dia bergeming pada posisinya. Matanya terpaku pada mata Thanay. Menghisap semua akal sehatnya.

Tanpa sebab Asa melarikan kedua tangannya ke pinggang Thanay. Wajahnya tenggelam di dada bidang sang panglima. Hidungnya mengendus rakus aroma tubuh Thanay, seolah hanya ini satu-satunya cara mengobati kelaparannya akan tubuh pria tinggi itu.

Tubuh Thanay menegang. Kedekatan ini tidak pernah dia rasakan bersama istrinya. Ragu-ragu tangannya mendarat ke punggung Mir, mengelusnya lembut.

Inatra memandangi ayahnya dan Asa bolak-balik. Senyum usil menghiasi wajahnya. "Ibu lebih suka memeluk ayah? Ibu tidak suka memelukku?''

Spontan Asa melepaskan pelukannya cepat. Suara Inatra mengembalikan kesadarannya. Tidak sepatutnya dia menyentuh apa yang bukan miliknya. Thanay bukanlah miliknya, dia suami Mir.

"Maaf, ibu juga ingin memelukmu'', kata Asa.

"Sebaiknya kita tidur. Ayo, Inatra.''

Thanay membantu Inatra turun lalu menggenggam tangan puteri kecilnya menuju kamar. Asa membuntuti namun merasa ganjil kemudian. Dimana dia akan tidur malam ini, tidak mungkin dia tidur seranjang bersama suami orang.

"Ibu, ayo masuk!''

Kepala Inatra menyembul dari balik pintu. Asa terdiam sejenak. Berusaha menenangkan hatinya yang tidak nyaman. Barulah dia masuk ke kamar dimana kepala Inatra muncul. Ini bukan kamar yang biasa dia tempati. Melainkan kamar Inatra.

Asa takjub pada langit-langit kamar yang menampilkan pemandangan langit malam yang bertabur bintang. Sangat indah. Tentu pemandangan itu tercipta oleh sihir. Tidak ada jendela di langit-langit rumah yang tembus pandang ke langit.

"Sini, bu.''

Inatra menepuk sisi kiri ranjang yang dia tiduri. Thanay tidur di sisi kanan Inatra. Asa naik ke ranjang itu, memosisikan dirinya di sebelah anak perempuan Mir.

Kepala Asa ragu-ragu menoleh ke samping. Inatra kecil sudah terlelap dalam rangkulan lengan besar Thanay. Mereka sudah tidur pulas padahal baru saja Asa naik ke atas ranjang.

Entah kenapa dada Asa serasa menghangat. Pemandangan ayah dan anak ini mengharukan baginya. Rasa yang asing muncul di saat dia bukanlah bagian sesungguhnya keluarga ini.

Kenapa kamu ninggalin keluarga bahagia ini, Mir? Pertanyaan yang melintas sebelum Asa menutup matanya dan ikut terlelap bersama anggota keluarga Mir.

Biarlah sejenak dia beristirahat. Mungkin esok dia akan bisa memecahkan teka-teki dirinya bisa terperangkap sebagai sosok Mirallae di negeri antah-berantah ini. Dan kebahagiaan apa yang diharapkan Mir darinya untuk diberikan pada Inatra, masih memenuhi sebagian besar kebingungannya.

SurealTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang