Suatu malam, saat pesta latihan dansa musim semi berlangsung, Cissa berjalan keluar ke balkon taman. Dia bosan berada di tengah-tengah gadis muda yang tertawa seperti ringkikan kuda. Telinganya pun sakit mendengar rengekan mereka yang ingin segera mendapatkan hati pria muda. Dan tentu saja, seperti tahun-tahun sebelumnya, Jed selalu menjadi incaran mereka. Bukannya dia tidak senang jika mereka naksir saudaranya. Hanya saja dia tidak tega mematahkan harapan gadis-gadis itu karena mau mereka berdandan luar biasa cantik maupun lihai berdansa, perhatian Jed hanya akan tertuju pada Mirallae.
Kakinya terus menyusuri lorong disusul oleh dayang-dayangnya. Di sanalah dia mendengar tawa muda yang riuh, memecah keheningan bulan.
Dari celah pilar marmer, dia mengintip penasaran pada sumber keriuhan.
Dua pemuda sedang berlatih adu pedang kayu di halaman latihan. Satu bertubuh tinggi, tegap, dan gerakan tegas. Satunya lagi, lebih ramping dengan gerakan lebih cepat dan licin.
"Thanay! Kau terlalu keras!" seru pemuda bertubuh tegas sambil menepis pukulan kayu.
"Hah! Kau yang terlalu lembek, Don!" balas Thanay sambil tertawa. Keringatnya memercik ke tanah.
Cissa menahan napas. Matanya tak lepas dari Thanay. Walau hanya memakai baju latihan lusuh, ketampanan di wajahnya membakar malam. Ketika tertawa, matanya berkilau, seolah bisa menantang seluruh dunia.
"Putri," bisik dayangnya pelan dari belakang, "Siapa yang menarik perhatianmu?"
"Siapa pemuda berkepang itu?" Cissa tanpa ragu menunjuk ke Thanay.
"Dia Thanay, bukan? Guru-guru mengatakan dia bakat langka, tapi sayang, darahnya rakyat biasa."
Cissa tak menjawab. Pandangannya terpaku pada Thanay. Senyumnya memudar perlahan, digantikan kilau baru di matanya. Sesuatu memacu jantungnya berdegup lebih kencang, menimbulkan rasa yang belum pernah dia rasakan.
Thanay menepuk bahu Don, lalu keduanya terbahak sambil duduk di tepi pelataran batu. Rambut Thanay basah, wajahnya memerah, tapi tawa itu ... tawa itu menembus dada Cissa.
Untuk pertama kalinya, sang putri yang dipuja seluruh istana tidak lagi merasa menjadi pusat dunia. Dunia seakan berpindah, berputar di sekitar tawa seorang prajurit muda yang berpakaian lusuh.
Cissa meremas jemari di sisi gaunnya. Pipinya panas, dadanya berdegup kacau.
Dan malam itu, di bawah langit penuh bintang, lahir sebuah rasa. Rasa yang lembut sekaligus berbahaya. Rasa yang kelak mengubah takdir banyak orang.
###
Ciyeee yang abis baca Cissa...
KAMU SEDANG MEMBACA
Sureal
Fantasia"AAAAKKHHH!!" Pandanganku buram. Entah apa yang sudah terjadi. Pisau itu ada di tangan gemetaran si pemuda. Darah segar merembes blous kuning gadingku. Si jalang memekik seperti melihat hantu. Papa berlari menyongsongku. Dan gelap. Ketika terbangun...
