Saat Cissa pergi bersama dayang-dayangnya, Don menoleh. Pandangannya mengikuti punggung ramping yang bergerak anggun di bawah cahaya lentera taman. Nafasnya tercekat. Tanpa melihat si pemilik punggung, dia dapat mengenali siapa gadis itu.
"Thanay... Thanay... Kau lihat tadi?!" Don menepuk lengan sahabatnya berkali-kali. Matanya berbinar bagai anak kecil yang baru menemukan pedang mainan.
Thanay hanya menghela napas, lalu mengibaskan rambut basahnya yang jatuh ke dahi. "Ada apa?" jawabnya datar.
Don menunjuk ke arah perginya Cissa dengan antusias. "Itu! Putri! Putri Cissa! Dia di sini! Dia melihat kita latihan!"
"Dari mana kau tahu seorang putri melihat kita?" sahut Thanay tanpa minat.
"Tentu saja aku. Sejak tadi, aku sudah melihatnya memperhatikan kita dari balik pilar itu." Kini telunjuk Don beralih ke pilar yang menyembunyikan Cissa saat mengintip. Pemuda itu memang sudah tahu Cissa ada di sana sejak sepuluh menit yang lalu, tetapi menahan diri untuk berteriak kegirangan karena dia tidak ingin tampak memalukan di depan sang putri.
Thanay mengangkat bahu, seakan berita itu sama saja seperti hujan sore. "Lalu kenapa?"
Don melongo. "Lalu kenapa?! Thanay... kau gila! Itu Putri Mahkota, permata istana, bunga pertama musim semi...!"
Melihat Thanay tetap cuek, Don mendengkus kesal. "Tunggu! Aku yakin kau juga akan tergila-gila nanti, sama sepertiku! Kau hanya belum menyadari kecantikan Putri Cissa saja!"
Tanpa menunggu jawaban, Don langsung menarik lengan Thanay, setengah menyeretnya menuruni tangga batu menuju taman dalam. Thanay sempat meronta, tapi akhirnya menuruti saja sambil mendecak. Don tidak main-main menyalurkan tenaganya untuk menarik Thanay.
Mereka bersembunyi di balik pilar batu besar, mengintip taman yang dipenuhi cahaya lentera redup.
Saat itu, Don melihat Putri Cissa berjalan pelan, jubah panjangnya berkilau lembut. Di sampingnya, seorang gadis lain berjalan dengan langkah ringan, rambutnya yang gelap dikepang sederhana. Mahkota daun perunggu dengan batu merah kecil menghiasi kepalanya, tampak kontras sekali dengan keanggunan Cissa.
"Siapa mereka?" tanya Thanay, alisnya bertaut.
Don terkekeh. "Kau benar-benar buta, Thanay. Yang satu itu Putri Cissa, putri kandung Raja Artha. Yang satunya lagi, Mirallae. Putri angkat, anak desa yang diangkat menjadi putri kerajaan."
Thanay menoleh cepat. Matanya menyapu Mirallae dari ujung kepala sampai kaki. "Kenapa dia begitu sederhana? Penampilannya seperti bukan putri. Apa putri angkat tidak menerima perlakuan yang layak?"
Don tersenyum kecil. "Heh, kau benar. Lihat, Mirallae hanya pakai mahkota daun perunggu dan batu merah itu. Batu seperti itu biasa dipakai bangsawan desa di festival musim hujan. Tapi coba kau bayangkan, Kalau Mirallae berpakaian mewah seperti Putri Cissa. Mungkin kau sendiri tak akan bisa menebak mana putri mahkota sesungguhnya."
Thanay mendengkus, menepuk bahu Don dengan gemas. "Kalau kau pikir Mirallae lebih cantik, kenapa kau bersemangat sekali menunjukkan Putri Cissa?"
Don tertegun, lalu memanyunkan bibir, mukanya memerah. "Gila kau! Kau pikir aku bisa semudah itu berpindah hati? Lagipula, aku tak akan tahan kalau harus menjaga gadis secantik itu seumur hidup. Kau tahu, kan... Punya istri tercantik di seluruh kerajaan artinya kau harus siap bersaing dengan semua pria."
Thanay mendekat, alisnya terangkat. "Dengan cintamu yang seluas langit, memangnya apa susahnya?"
Don mendesah panjang, menatap langit malam sejenak seolah merapal doa. "Susahnya? Semua pria akan iri padamu. Mereka akan menatapmu, menuduhmu tak layak, mencuri pandang pada istrimu. Kau akan selalu waspada dan cemas, selalu merasa diintai. Itu bukan hal mudah, Thanay."
Thanay diam. Wajahnya berubah serius sesaat, lalu cepat-cepat menoleh. "Sudah, cukup. Kita harus kembali sebelum penjaga menangkap kita sedang membicarakan putri kerajaan."
Thanay langsung menarik Don menjauh, menembus jalan setapak menuju asrama prajurit.
Namun sebelum benar-benar berbalik, Don menoleh sekali lagi. Pandangannya tertuju pada Cissa yang kini tampak berjalan bersama Mirallae di bawah pohon tua. Cahaya lentera menyapu wajah Cissa, membuat kulitnya seputih sinar bulan. Senyum lembut di bibirnya seakan menembus dinding dada Don.
Dalam diam, Don meremas gagang pedang kayu yang masih tergantung di pinggangnya. Di sanalah, jauh di balik segala tawa dan kelakar, tumbuh benih cinta yang sudah lama dia kubur. Cinta yang tulus dan tersembunyi, sekaligus tak pernah mengharapkan balasan.
Dan malam itu, di antaradesir angin taman, Don muda menyadari satu hal. Hatinya sudah terlanjur jatuhpada putri yang paling jauh jangkauannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sureal
Fantasy"AAAAKKHHH!!" Pandanganku buram. Entah apa yang sudah terjadi. Pisau itu ada di tangan gemetaran si pemuda. Darah segar merembes blous kuning gadingku. Si jalang memekik seperti melihat hantu. Papa berlari menyongsongku. Dan gelap. Ketika terbangun...
