"AAAAKKHHH!!"
Pandanganku buram. Entah apa yang sudah terjadi. Pisau itu ada di tangan gemetaran si pemuda. Darah segar merembes blous kuning gadingku. Si jalang memekik seperti melihat hantu. Papa berlari menyongsongku. Dan gelap.
Ketika terbangun...
Aku mau kasih kabar gembira—buat yang nggak sabar sama kelanjutan cerita, sekarang aku udah sedia bab Sureal baca duluan di Karyakarsa 🥳🎉 💖Kalian bisa search bebeklucu atau sureal di Karyakarsa. Cari aja yang covernya ciamik kek gini
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
👉 Buat bebs yang pengen langsung tahu lanjutannya, bisa baca di sana dengan harga terjangkau. Aku perkirain SUREAL bakal terbit 5 bab aja di karyakarsa. Semoga perhitunganku ga kebanyakan. 👉 Tapi tenang ajaa, buat kamu yang belum bisa berbayar, tetap bisa ikutan nikmatin ceritanya di Wattpad kok 🐣✨ Cuma mungkin update-nya agak lebih pelan dan sedikit-sedikit dulu yaa.
Aku pengen kasih pilihan biar semua bisa nyaman. Jadi, bebas banget kamu mau ikut "baca duluan" di Karyakarsa atau sabar nunggu di Wattpad. Semua support kamu, sekecil apa pun, berarti banget buat aku 🫶
Makasih banyak udah nemenin aku nulis & baca sampai sini, love you all, bebs! 💛
###
Desa itu tersembunyi di jantung hutan belantara, jauh dari jalur perdagangan dan mata orang-orang di kerajaan. Awalnya diisi segelintir orang yang teguh pada keyakinan mereka akan kembalinya pemimpin sejati mereka, perlahan jumlah mereka bertambah, dan keyakinan itu terus diturunkan. Pohon-pohon raksasa menjulang seperti pilar raksasa yang memanggul langit. Daunnya yang lebat melengkung dan bertautan satu sama lain membentuk kanopi alami yang memayungi tanah di bawahnya. Cahaya matahari jarang menyentuh tanah dengan utuh, yang tersisa hanyalah pantulan kehijauan yang meresap, redup dan teduh, seperti senja yang tak pernah usai.
Rumah-rumah penduduk dibangun menyatu dengan batang-batang pohon berukuran raksasa. Beberapa terpahat langsung dari kayu hidup, dengan jendela bundar dan balkon kecil yang menjorok ke luar, dijaga pagar rotan dan tali pengikat yang mengikat erat ke batang sebelah. Tangga-tangga tali menggantung dari dahan ke dahan, menghubungkan satu rumah dengan rumah lainnya, menciptakan jaring kehidupan di ketinggian. Angin yang berembus membawa aroma kayu basah, sisa makanan yang membusuk, dan bunga liar yang sanggup mekar di kegelapan.
Di pusat desa pemberontak, terdapat lapangan luas dari akar-akar pohon yang diratakan dan dikeraskan, tempat para prajurit desa berlatih. Di sanalah Mirallae berdiri, mengenakan mantel kulit berbulu dan pelindung bahu dari baja mengilap yang dipahat dengan lambang naga, ras pelindung Sang Ratu. Matanya menatap tajam ke arah barisan prajurit yang sedang mengangkat senjata mereka untuk diperiksa satu per satu.
Senjata mereka bukan besi mengilap seperti milik kerajaan, melainkan hasil padanan antara alam dan sihir. Tombak-tombak dibuat dari kayu pohon pinus yang hanya bisa ditebang saat bulan purnama, sesuai adat yang penduduk desa percayai. Ujungnya ditajamkan dari kristal hitam yang tumbuh di gua-gua bawah tanah dan diberi mantra pelumpuh oleh Gallae. Busur-busur mereka panjang, dilengkungkan dari tanduk makhluk hutan yang tumbang dalam perburuan, dan anak panah mereka disebut mampu menembus perisai mantra. Gallae melakukan banyak hal dalam persiapan senjata perang, sesuatu yang sangat tidak terduga dari pria yang senang berkeliling desa sambil mengunyah kacang panggang.
Perisai-perisai mereka tak besar, namun kokoh, terbuat dari cangkang telur naga yang diawetkan dalam lumpur di lembah batas dunia dan dibawakan langsung oleh Obire sebagai bentuk dukungan para naga di Yolessis. Tak hanya kuat menahan serangan fisik, tetapi juga memantulkan sihir lemah jika diarahkan dengan benar. Beberapa dari mereka mengenakan pelindung kepala dari kayu ukir berlapis logam ringan, diukir dengan tanda pelindung leluhur. Pedang-pedang mereka besar dan tebal, ditempa di api yang disemburkan naga. Masing-masing prajurit memiliki kantung-kantung kecil tergantung di ikat pinggang mereka, berisi sesaji daun kering, simbol perlindungan dari roh-roh hutan.
Mirallae berjalan menyusuri lapangan, suaranya tegas dan dingin memberi perintah, menanyakan kesiapan makanan darurat, ramuan penguat, dan jumlah anak panah yang masih bisa mereka produksi. Dia seperti bayangan yang menyapu ketegangan menjadi disiplin. Namun langkahnya terhenti saat suara langkah ringan dan suara nafas yang dikenalnya memecah udara hutan.
"Mir."
Dia berbalik pelan. Gallae mendekat dengan langkah ringan. Jubahnya yang putih sangat kontras dengan penampilan Mirallae yang kotor oleh debu dan lumpur.
"Ada apa?" tanya Mirallae, tak menoleh penuh, seolah sudah tahu bahwa apa pun yang dibawa Gallae bukanlah kabar baik, atau setidaknya, bukan kabar yang ingin dia dengar.
"Aku baru saja bertemu Inatra dalam mimpi. Seperti biasa, dia bercerita banyak hal dan salah satunya mungkin akan membuatmu ingin melompat bahagia," kata Gallae sambil menyandarkan diri ke tiang kayu besar yang menopang tempat latihan.
"Apakah kerajaan menyatakan mundur dari perang? Mereka menyerah?" Mirallae hanya menebak asal diselingi candaan.
Gallae meringis. "Duh, bukan yang itu, walau aku berharap akan ada kabar sebaik itu. Dia bilang dia telah menawarkan Thanay untuk bertemu denganmu."
Mirallae diam. Tak ada reaksi. Tak satu pun kerutan muncul di wajahnya. Tapi Gallae telah tinggal bersamanya selama berhari-hari dan mengamati dengan seksama kebiasaan Mirallae. Dia adalah seorang pengamat yang cerdas dan bisa membaca sedikit banyak perubahan kecil di wajah Mir yang sering kali tampak datar. Dia tersenyum tipis melihat sikap Mirallae dan menunggu dengan sabar respons si sepupu.
Mirallae menarik napas agak panjang sebelum akhirnya berbicara. "Itu tidak perlu. Waktuku tidak untuk disia-siakan."
"Begitu, ya?" Gallae menyipitkan mata. "Padahal aku kira kau akan sedikit berterima kasih pada anakmu yang mengatur kemungkinan pertemuan dengan suami yang masih kau rindukan diam-diam. Bisakah kau memberikan sedikit kesempatan untuk Inatra melihat kedua orang tuanya harmonis?"
"Gallae." Mirallae mendelik.
"Baiklah, baiklah," ujarnya cepat sambil mengangkat tangan. "Tapi mungkin, hanya mungkin, akan lebih baik jika kalian bicara sebelum perang tiba. Tak seorang pun dijamin pulang dalam kondisi hidup dan utuh."