Lima Puluh Enam

902 128 11
                                        


Kala itu, istana dipenuhi cahaya lilin berwarna emas, memantul di lantai marmer yang halus seperti permukaan air tenang. Di taman dalam, aroma melati dan daun mint bercampur, dibawa angin malam yang lembut.

Cissa masih remaja, usia belasan. Tiara itu melingkari kepala Cissa bagai cahaya bulan yang terjalin dalam wujud bunga. Setiap kelopak mungil berwarna putih gading tampak berembun. Rangka peraknya tipis namun kokoh, dihiasi manik-manik mutiara kecil yang bergantung bagaikan tetes embun yang enggan jatuh.

Saat Cissa melangkah, kelopak bunga itu bergoyang lembut, memantulkan cahaya lentera istana, menciptakan ilusi bintang-bintang kecil yang menari di sekeliling wajahnya. Rambutnya yang panjang dan lurus tergerai di bawahnya, menambah aura sakral dan nyaris tak tersentuh.

Tiara itu bukan sekadar hiasan. Itu adalah simbol Cissa sebagai "bulan pertama" istana. Cissa dan tiara merupakan kombinasi yang memancarkan keindahan, dingin, memukau, sekaligus menyembunyikan kegelapan yang dalam.

"Putri Cissa, sungguh memesona malam ini!"

"Bunga pertama musim semi pun kalah manis darimu..."

Setiap pelayan, prajurit, hingga penari istana tak henti menyanjungnya. Bahkan burung-burung malam seolah menunduk pada langkah kakinya.

Namun di balik keramaian itu, seorang gadis lain berdiri kaku di sudut lorong, Mirallae.

Mirallae tak pernah tahu caranya berjalan dengan anggun, gaunnya sering kotor oleh tanah taman, rambutnya ditata asal-asalan. Gaunnya berwarna kelabu, membuatnya tampak murung.

Cissa selalu menepuk punggung Mir dengan lembut sambil tersenyum, "Apa yang membuatmu terdiam di pojokan?"

Mirallae menoleh, tersenyum tipis, lantas menggeleng kecil. Dia menatap kembali ke keramaian pesta. "Hanya sedikit letih."

"Kau bisa kembali ke kamarmu. Aku akan menyampaikan ke ayah." Cissa selalu menawarkan diri menjadi penyampai pesan Mir, jika dengan begitu dia akan berguna untuk saudari angkatnya.

"Apakah aku boleh kembali ke kamarku?" Mirallae ragu-ragu.

"Tentu saja. Siapa yang akan melarang seseorang untuk beristirahat, apalagi Putri Mirallae yang cantik. Aku akan meminta dayangku menemanimu ke kamar."

"Tidak perlu! Aku bisa sendiri."

Senyum tipis terlukis di bibir Cissa. Mirallae, si gadis polos dengan mahkota daun itu, selalu menuruti sarannya untuk kembali ke kamar lebih awal di setiap pesta.

"Aku akan menyuruh seseorang untuk mengantarkan air hangat agar kau merasa lebih baik sebelum tidur," bisik Cissa. Dia mengelus lengan kurus Mirallae dengan lemah lembut.

Mirallae menunduk patuh, jemarinya meremas gaun sederhana. "Terima kasih banyak, Cissa."

Ah, Cissa merasa puas. Ada rasa manis yang menetes di dadanya setiap kali melihat Mir menuruti kata-katanya tanpa tanya. Bagaimana mungkin seseorang yang begitu canggung, begitu ... biasa, bisa berjalan di aula yang penuh cahaya?

Cissa menghela napas, membelai tiara di kepalanya pelan. "Syukurlah dia mau mendengar," gumamnya, seakan menenangkan diri sendiri. Kalau Mir tetap tinggal, tentu saja semua mata akan terus membandingkan mereka, dua putri kerajaan, di ruangan yang sama. Dan siapa yang akan bersinar? Tentu Cissa. Selalu Cissa.

Tapi Cissa lebih suka Mir tak terlihat. Dengan begitu, seluruh perhatian hanya miliknya. Lagi pula, Mirallae terlihat begitu rapuh. Membiarkannya beristirahat di kamar, jauh dari keramaian, adalah kebaikan. Bukankah begitu?

Senyum Cissa makin melebar. Tangannya mengepal, matanya berkilat penuh keyakinan. Dia menatap punggung Mirallae yang bergerak menjauh, sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.

Sebaiknya memang seperti ini, pikirnya. Dia telah melindungi Mir yang tidak menyukai keramaian. 

SurealTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang