Seth melaksanakan niatannya, melahap satu loyang kue tanpa bersisa. Anak perempuan itu datang saat Seth tengah menjilati loyang. Bahu si anak merosot. Satu loyang kue habis, padahal dia belum mencicip kue beri buatan ibunya.
"Dasar naga nakal!" Si anak duduk pada kursi kayu dekat Seth menjilati loyang. "Aku akan minta ibu menjewer telingamu karena sudah memakan semua kue."
"Siapa yang memakan semua kue?"
"AYAH!" Si anak turun dari kursinya lalu melompat ke pelukan sang ayah. "Seth memakan semua kue di loyang. Mungkin dia juga akan memakan loyang ibu," adu si anak dengan manja. Seth memutar matanya mendengar ocehan si anak.
"Hahaha, aku tidak yakin Seth suka makan loyang." Sang ayah yang mengenakan jubah kulit beruang berjalan melintasi ruangan. Matanya tersenyum saat bertatapan Seth. Naga berwarna cokelat itu menganggukan kepalanya, tanda hormat yang hanya dipahami antara mereka.
Si anak membuntuti ayahnya. Menyusuri lorong pendek, pasangan ayah dan anak itu masuk ke sebuah ruangan temaram. Ayahnya duduk di kursi dan si anak naik ke pangkuannya.
"Jadi apa yang membuatmu mengajak Seth ke rumah kita?"
"Tidak ada. Hanya merindukannya."
"Setiap hari?"
"Ya."
"Dia kawan kesukaanmu?"
"Dia kawan terbaik yang Penjaga Dunia berikan padaku."
"Mendengar ucapan relijiusmu, ibu akan mengirimmu ke kuil penjaga dunia. Dia tidak akan segan membuatmu belajar di sana."
"Oh aku tidak ingin belajar di kuil Penjaga Dunia. Izinkan aku tetap bertahan di sini."
Sang ayah tertawa terbahak. Tangan besarnya mengelus puncak kepala puterinya. Dia mengangkat badan anaknya, menggandengnya menuju salah satu pintu kaca. Saat pintu dibuka, pemandangan padang rumput yang berangin lembut membuat si anak tercengang. Mereka kembali menutup pintu itu, beralih pada pintu kaca buram di sebelahnya. Kali ini pemandangan gurun pasir yang gersang dan panas. Si anak mengipas wajahnya menggunakan tangan sendiri.
"Kau membuat sihir berantakan di rumah kita," keluh sang ayah.
"Aku tidak berbuat apapun. Aku hanya membuka pintu lalu terbuka gerbang ke hutan rumah Seth. Aku tidak meminta gurun pasir dan padang rumput," kilah si anak. Tidak terima tuduhan ayahnya.
"Ah ya ya ya, kau benar. Anakku hanya membuka pintu yang seharusnya ke hutan perbatasan menjadi hutan wilayah bangsa naga. Sihir ini kacau karena usang."
"Aku tahu." Si anak melipat tangannya dengan bangga.
Delapan tahun berlalu, si anak tumbuh menjadi wanita dewasa memukau. Ayahnya berdiri pada balkon istana, menatap keriuhan perayaan pesta. Lagi, pesta ulang tahun raja penguasa Giyom. Rakyat di pelataran istana bersorak. Si anak yang sudah tumbuh remaja tersenyum bangga saat sang ayah maju ke podium.
"Aku mensyukuri penambahan usiaku. Penjaga Dunia masih mengizinkanku memimpin kerajaan ini. Satu-satunya hadiah yang aku harap tahun ini adalah pernikahan puteriku," kata sang ayah berwibawa. Mata teduhnya melirik si puteri yang terkejut bukan kepalang. Pasalnya dia belum punya rencana menikah dan belum punya calon pasangan. Saat hendak mendebat sang ayah mengangkat telapak tangannya, memberi instruksi untuk diam. "Aku akan menikahkan puteriku dan Qoul!"
Rakyat bersorak bahagia. Kembang api di siang hari meletus, menutup pidato sang raja. Bahu si puteri merosot, mau menentang, satu kerajaan sudah tahu rencana ini.
Kerajaan dilanda kekeringan menahun. Untuk mengatasi permasalahan pelik ini, penguasa kerajaan, si puteri yang sudah naik tahta menjadi ratu mengusulkan perpindahan letak kerajaan. Para menteri menolak, merasa tidak ada daya untuk berpindah. Kekeringan menyebabkan banyak warga yang tumbuh kekurangan gizi.
Ratu tetap pada keputusannya. Menggunakan kekuatan rahasianya, ratu memanggil kawanan naga ksatria. Atas bantuan sihir para naga, kerajaan dipindah ke sisi barat Hutan Tunjha.
Seluruh rakyat terpukau pada kekuatan rahasia ratu, termasuk suaminya, Qoul.
Banyak yang mempertanyakan kekuatan ratu. Diam-diam ada kelompok yang melakukan penelitian untuk mengungkap kekuatan misterius ratu.
Sampai hari itu datang, kelompok bawah tanah berhasil menemukan rahasia kekuatan itu. Menggunakan darah sang ratu. Tepat ketika ratu melahirkan anaknya, darah dikumpulkan. Dibawa dalam periuk perak oleh tangan tabib yang membantu persalinan ratu.
Lengkingan meledak di langit. Ratu tergopoh bersama bayinya yang masih merah, berjalan keluar istana. Langit malam seketika memerah, perlahan keemasan, lalu sinar putih menyilaukan mata muncul di langit. Lengkingan makin mendekat. Satu naga keluar dari sinar putih. Naga-naga lain ikut keluar dari sana.
Ratu bingung. Merasa tidak memanggil satu pun naga. Menahan ngilu dan sakit, dia menuju bukit dekat sinar putih itu.
Qoul, suaminya dan seorang wanita serta beberapa menteri berkumpul di sana. Berdiri mengelilingi api yang ditetesi darahnya. Belum lagi gelimpangan mayat para penyihir murni yang menjadi korban kekuatan sihir.
Bedebah!
Satu tongkat kayu diambil Ratu. Matanya menatap nyalang ratusan naga yang terbang di langit. Kebetulan bertemu tatap Seth, naga cokelatnya. Seth terbang rendah. Belum sampai Seth mendarat, tongkat kayu yang digenggam ratu memukul kaki kiri Seth.
Lengkingan Seth meredam suara naga-naga lain. Mereka mulai terbang memutar, membentuk poros pada Seth yang tak henti menjerit pilu.
Orang-orang yang mengelilingi api unggun menatap takjub. Baru kali ini melihat dengan mata kepala sendiri kelompok naga ksatria yang berzirah lengkap.
Qoul bersitatap ratu, terkejut. Berkebalikan Qoul, sang ratu tersenyum sinis. Berbalik badan kemudian pergi.
※※※※※
Asa memeluk badannya sendiri. Merasa begitu dekat terhadap dongeng itu. Seth menatapnya dalam diam. Naga dewasa itu terlalu misterius tuk dipahami. Dan Asa sendiri, terlalu bodoh di sini.
###
09/03/2018
This is the best so far. Moga bakal apdet cepat hihihi...
KAMU SEDANG MEMBACA
Sureal
Fantasía"AAAAKKHHH!!" Pandanganku buram. Entah apa yang sudah terjadi. Pisau itu ada di tangan gemetaran si pemuda. Darah segar merembes blous kuning gadingku. Si jalang memekik seperti melihat hantu. Papa berlari menyongsongku. Dan gelap. Ketika terbangun...
