Kabut malam menempel di kaca jendela, menutupi taman dalam istana yang disesaki cahaya obor dan denting senjata. Suara langkah para prajurit berpatroli terdengar seperti gema ancaman yang terus berulang.
Dari jendela tinggi, Ratu Cissa berdiri tanpa bergerak. Matanya menatap tajam ke bawah—penuh tekanan, penuh rencana. Tak ada keraguan dalam sorotnya, hanya ketegangan yang nyaris membelah udara. Gaun malamnya menjuntai hingga lantai, berkilau dingin di bawah lentera. Rambutnya disanggul tinggi, mahkota di kepalanya berpendar samar, tapi tatapannya jauh lebih terang—dan lebih berbahaya.
Saat suara derit kayu mengiris keheningan, tubuh Cissa langsung menegang. Ia berbalik cepat. Matanya langsung mengunci pada sosok di ambang pintu. Thanay.
Tanpa memberi ruang bagi siapa pun untuk berbicara, Cissa mengibaskan tangannya. Tegas. Cepat.
"Keluar. Semua." Suaranya dingin, tapi tajam, menusuk, membuat para dayang terdiam sesaat sebelum buru-buru membungkuk. Gaun mereka berdesir panik saat mereka keluar satu per satu. Pintu ditutup rapat.
Begitu ruangan hanya tinggal mereka berdua, Cissa bergerak. Langkahnya cepat, tanpa jeda, dan gaun panjangnya menimbulkan suara menyeret di atas marmer, mendesis pelan seperti ancaman. Ia langsung menubruk Thanay dan memeluknya erat. Wajahnya menempel di dada pria itu, napasnya pendek-pendek.
"Thanay..." suaranya nyaris tak terdengar. "Aku sangat gugup. Kalau kau terluka... kalau kau tak kembali... aku—"
Tubuh Cissa terhentak mundur. Thanay mendorongnya. Kuat. Tak sempat menyeimbangkan diri, Cissa jatuh menabrak kursi ukir di belakangnya. Kursi itu terguling dan menghantam lantai dengan suara keras. Punggungnya membentur kayu keras. Napasnya tercekat.
Ia terdiam sesaat—tak percaya. Matanya membelalak, bukan hanya karena rasa sakit, tapi karena kenyataan pahit yang baru saja ditamparkan padanya.
Thanay berdiri mematung, wajahnya tegang. Tangannya terangkat sedikit, ragu, seperti ingin menarik kembali perbuatannya. "Maaf... aku... aku tak bermaksud—"
Cissa tidak menjawab. Ia merangkak perlahan. Gaunnya kini berantakan, rambutnya terlepas sebagian dari sanggul. Tapi tatapannya... tidak patah. Justru semakin membara. Begitu berdiri, bola matanya memaku Thanay tanpa berkedip.
"Kau menolakku... lagi." Suaranya rendah. Terlalu tenang untuk tidak berbahaya. "Aku selalu ada di sini untukmu."
Thanay menunduk sedikit, ekspresinya kaku. "Pelukan itu tidak pantas, Yang Mulia. Aku... suami Mir."
Pernyataan itu seperti cambuk. Cissa menyipitkan mata, lalu mendesis, "Aku sayang padanya. Aku lindungi dia saat semua orang menertawakannya. Tapi sekarang... dia membalasnya dengan pedang." Suaranya mulai bergetar, tapi bukan karena sedih—karena marah.
"Mirallae pasti punya alasan," balas Thanay, nadanya mulai meninggi. "Dia tak akan menyerang kalau tak terpaksa."
Cissa tertawa—keras. Tawanya memecah udara, memantul dari dinding batu, membuat lentera bergoyang seakan takut. Tapi tawa itu tak membawa kegembiraan. Hanya kepedihan dan kemarahan yang meledak tanpa kendali.
"Alasan?! Kau pikir semua bisa dimaafkan dengan satu kata itu?!" Suaranya naik turun, tidak stabil. "Apa kau... sudah tidak setia lagi pada kerajaan ini?"
"Aku tetap setia!" Thanay membalas dengan suara bulat. "Tapi aku juga setia pada kebenaran. Dan aku tahu Mirallae. Dia bukan penghianat!"
"Kau dibutakan oleh cintamu," desis Cissa. "Sama seperti Jed. Sama seperti semua pria lemah lainnya."
Thanay menahan diri. Napasnya memburu. Ia mencoba meredakan ketegangan. "Yang Mulia... kita semua sedang dalam tekanan. Tolong tenangkan diri Anda."
Ia memungut kursi yang terguling dan mendirikannya kembali.
Namun Cissa tidak duduk. Ia mundur perlahan. Bahunya naik turun cepat. Air mata akhirnya jatuh, tapi bukan karena rapuh. Di balik wajahnya yang pucat, ada sesuatu yang jauh lebih gelap daripada duka.
"Aku... aku harap kau bisa lepaskan Mir," bisiknya. Tangannya terulur, gemetar, tapi mantap. "Kalau kau lepaskan dia... aku akan ampuni Mirallae. Dia bisa hidup. Tapi dia harus menyerah. Dan kembali ke sisiku."
Ruangan terasa sempit. Seolah seluruh udara tersedot keluar. Thanay tak langsung menjawab. Ia mematung. Napasnya tak beraturan. Matanya memandangi Cissa, lalu ke lantai, lalu kembali ke Cissa—dan melihat sesuatu yang membuat tubuhnya kaku.
"Kau merencanakan sesuatu..." gumamnya. Suaranya rendah. Kaku. "Apa yang sebenarnya Anda lakukan, Ratu Cissa?"
Cissa tersenyum. Perlahan. Tanpa kehangatan. Senyum itu bukan undangan—itu peringatan.
"Pilih aku, Thanay," katanya pelan, tapi jelas. "Atau pilih kehancuran Mir."
###
Halo halo kesayangan...
Aku balik setelah sempat mual menulis bagian ini. Ga usah mengeluh soalnya aku pun ga pengen bab ini ada tapi bab ini perlu buat jalan cerita biar kalian paham karakter ceritanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sureal
Fantasy"AAAAKKHHH!!" Pandanganku buram. Entah apa yang sudah terjadi. Pisau itu ada di tangan gemetaran si pemuda. Darah segar merembes blous kuning gadingku. Si jalang memekik seperti melihat hantu. Papa berlari menyongsongku. Dan gelap. Ketika terbangun...
