Lima puluh empat

1K 160 22
                                        

Angin lembah merayap pelan di antara rumah-rumah batu yang sunyi. Cahaya bulan menggurat atap-atap rendah tanpa genteng, meneteskan bayangan panjang di jalanan berumput liar. Kesunyian menyelimuti seluruh desa karena para penduduknya tidak berani berkeliaran malam ini. Patroli istana merajalela, menjaga setiap sudut, seakan bau pemberontakan bisa muncul dari celah tanah mana saja.

Di salah satu rumah yang terletak agak jauh, sebuah jendela kayu berderit perlahan. Suaranya nyaris tak terdengar, hanya sekilas seperti embusan dedaunan. Jari-jari lentik nan pucat mengetuk sekali nyaris tenggelam oleh gemerisik daun.

Gallae, penyihir itu, berdiri di luar. Mantel panjangnya jatuh hampir menyapu tanah. Rambut kepangnya berantakan tertiup angin malam dan sepasang mata kelamnya menatap ke jendela.

Inatra langsung melompat turun dari ranjang jerami. Matanya membulat. Dia sudah menunggu sepanjang hari dan tidak akan melewatkan kedatangan tamu kesayangannya. Dia membuka daun jendela lebar-lebar agar Gallae bisa masuk.

"Pamanku akhirnya datang juga," bisik Inatra. Suaranya bergetar, setengah antara gembira dan tidak sabar.

Gallae menaikkan sebelah alis, menyeringai kecil. "Kau sudah siap, Sayangku? Malam ini kita akan menepati janjiku. Kau akan bertemu ibumu."

Inatra mengangguk cepat. "Ayah sedang tidak di rumah. Hanya aku sendiri malam ini."

Gallae tertawa pelan, suara tawanya tipis seperti beling retak. "Thanay sungguh mengecewakan. Di saat istrinya sedang meninggalkan rumah, bisa-bisanya dia meninggalkan putrinya sendirian pada malam hari. Ibumu pasti akan menarik cuping telinganya karena telah menjadi ayah yang buruk."

Inatra terkikik sembari menutup mulut. "Ayahku sedang bekerja di istana, Paman."

"Menjadi jenderal yang baik, belum tentu menjadi ayah yang baik. Sayang sekali. Dia mungkin bisa menyelamatkan banyak orang, tetapi malam ini gagal menjaga putrinya dari penculik tampan ini." Gallae mengangkat jempol ke wajahnya dengan pongah.

Baru saja Gallae melangkah ke dalam kamar, udara mendadak berat. Suara pintu depan terbanting.

Sebuah bayangan besar berdiri di ambang pintu, pedang panjang teracung penuh amarah. Mata tajam itu menatap Gallae seakan ingin menebas kepalanya detik itu juga.

"Menjauh dari anakku," desis Thanay, napasnya berat, bahunya naik turun seperti kuda perang yang baru berhenti berlari.

Gallae menoleh santai, menyapu jubahnya ke belakang. Sekali lagi, senyum miring muncul di bibir pucatnya. "Oh? Kau pulang juga, Thanay? Aku kira kau terlalu sibuk mengasah pedang di istana."

Thanay menggertakkan gigi, mengangkat pedangnya lebih tinggi.

Gallae mendekat, tanpa gentar sedikit pun. Malah, dia mencondongkan wajahnya mendekat ke arah Thanay, hingga hanya sejengkal lagi jarak mereka.

"Apa kau tidak merindukanku, Kakak ipar?" bisiknya lirih, nyaris terdengar seperti godaan. "Ah... atau kau takut istrimu tahu kau diam-diam meninggalkan putrimu sendirian di rumah?"

Darah Thanay mendidih. Tangannya bergetar di gagang pedang. Inatra mematung di pojok kamar, matanya menatap dua orang itu, antara ngeri dan tak percaya.

Gallae tertawa lagi, suara tawanya menggema di kamar sempit itu. "Tenang saja. Aku hanya datang untuk menjemput Inatra. Aku menepati janjiku pada gadis kecil ini, sesuatu yang seharusnya kau lakukan sebagai ayah."

Thanay hendak maju, tapi Gallae mengangkat satu jari. Gerakan kecil itu langsung membuat hawa di dalam kamar tiba-tiba berdesir dingin, seakan dinding kamar digantikan balok-balok es yang sangat dingin.

"Berhenti di situ, kalau kau tak mau rumahmu meledak jadi debu," bisik Gallae.

Keduanya saling menatap. Pedang bergetar. Udara seakan berhenti mengalir. Inatra, dengan langkah hati-hati, mendekati Thanay.

"Ayah, aku mohon... izinkan aku bertemu Ibu."

Suara Inatra terdengar serak, nyaris tenggelam oleh deru napas mereka bertiga. Tangan mungilnya terulur, menyentuh pinggang Thanay yang kaku bagai patung batu. Kepalanya mendongak, menatap sang ayah dengan sorot penuh harap, seakan seluruh dunia hanya bergantung pada jawabannya.

Thanay membeku. Sorot matanya bergetar. Di dalam dadanya bagaikan ada badai yang mengaduk lautan. Jemari kekar itu menekan gagang pedang lebih keras hingga nadinya menonjol.

Gallae, berdiri di samping jendela, menatap adegan itu dengan satu sudut bibir terangkat. Penyihir eksentrik itu seperti serigala yang mencium bau luka pada mangsanya. Senyum sinis itu memercikkan bara di dada Thanay.

Thanay menoleh tajam pada Gallae. Kilat marah memancar. Dengan gerakan cepat, dia kembali mengangkat pedang, hunusannya mengarah lurus ke dada Gallae.

"Kau pikir kau bisa membawa pergi anakku semudah itu?!" bentak Thanay. Matanya menyala oleh ledakan amarah.

Inatra mendesak maju, memeluk pinggang ayahnya erat. "Ayah! Aku merindukan Ibu!" Suara itu lirih, tapi menusuk langsung ke dada.

Thanay terhenti. Kedua matanya perlahan meredup. Nafasnya memburu, tubuhnya sedikit goyah seolah beban tidak terlihat meremukkan bahunya. Perlahan, pedang di tangannya turun sejengkal.

Diaa menatap wajah Inatra lama, menelusuri setiap garis polos dan cahaya jernih di mata anaknya yang unik.

"Apa... kau akan meninggalkan Ayah?" Thanay tidak dapat mengatur suaranya. Pertanyaannya terdengar lebih seperti rintihan.

Inatra buru-buru menggeleng. "Tidak! Aku hanya mau bertemu Ibu. Setelah itu, aku pulang. Aku janji."

Pedang di tangan Thanay bergetar, menurun makin jauh hingga akhirnya menyentuh lantai kayu. Suara logam menembus malam seperti erangan terakhir seorang prajurit.

Thanay mengembuskan napas panjang, seakan semua tenaganya terkuras. Perlahan, dia meraih pipi Inatra dengan telapak besarnya yang kapalan. Dia menatap putrinya lekat-lekat.

Lalu, Thanay memutar kepala ke arah Gallae. Tatapannya kembali menajam, meski kali ini bukan kemarahan, melainkan perintah seorang ayah yang terluka.

"Gallae, kau harus menjaga Inatra. Pastikan dia kembali padaku dengan baik-baik," katanya pelan, tapi penuh tekanan, seakan tiap kata diukir dengan darah.

Gallae terkekeh, senyum sinisnya melebar, menampakkan gigi pucat yang seolah mengolok-olok rasa takut Thanay. "Tentu saja, Jenderal. Kalau perlu, aku bisa menyapu bersih seluruh kerajaan dan menghanguskan istana demi memastikan anak manismu ini pulang dengan utuh dan selamat."

Suara Gallae meluncur seperti racun, tapi matanya berkedip ringan. Baginya, kalimat barusan hanya gurauan. Atmosfir kamar itu terlalu berat dan dia tidak menyukainya. Dia selalu menyukai Inatra karena keponakannya selalu membuatnya gemas dan bahagia. Dengan tambahan Thanay, suasana mereka benar-benar buruk. Dia jadi menyayangkan selera sepupunya yang menyukai pria sekaku Thanay. Mirallae semestinya bisa mendapatkan seorang pria yang lebih baik, walau mungkin akan sedikit susah menemukan pria yang lebih tampan dari jenderal yang satu ini. Dia dengar, perempuan sangat mudah dirayu oleh wajah pria. Sial, di kuil penjaga dunia hanya ada pria-pria tua membosankan yang tidak mungkin bisa dia jodohkan ke Mir.

Thanay mendengkus keras. Susah payah dia menahan gejolak di dadanya. Dia menatap Inatra lagi. Kali ini dia tersenyum lembut agar menyembunyikan segala kecemasan yang menjerat pikirannya.

Dan di balik keteganganitu, Inatra menatap kedua orang dewasa itu. Sang ayah yang patah hati dan sangpaman yang selalu tersenyum. Dengan polos, dia bersyukur bisa segera bertemusang ibu.

SurealTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang