Waktu menunjukkan pukul 12 malam ketika Hyunjin akhirnya bisa merebahkan diri di kasurnya (atau mungkin kasur saudaranya). Ponsel menempel di telinganya ketika ia melakukan panggilan dengan Sam. Jika disini tengah malam, itu artinya di Seoul sudah masuk tengah hari.
Hyunjin menatap langit-langit kamar yang asing namun perlahan mulai terasa familiar. Di sisi lain sambungan, suara Sam terdengar malas dan sedikit serak, seperti baru saja bangun dari tidur siangnya.
"Bagaimana pestanya? Apakah sesuai seleramu?"
Hyunjin bisa mendengar Sam menguap di seberang telepon.
"Aku tidak suka pesta, Sam."
Sam mendengus pelan, disusul suara gesekan kain seolah ia membalikkan badan di tempat tidurnya.
"Mungkin kau tidak suka pesta, tapi Ayah suka. Dan karena kau sedang menjadi aku, jadi mau tidak mau kau harus pergi untuk menyenangkannya. Apa kau bertahan cukup lama disana?"
Hyunjin bergumam sebagai balasan. Matanya terpaku pada langit-langit; mencoba mengurai pikiran-pikiran yang menggumpal sejak beberapa jam lalu. Suasana pesta masih membekas di kepalanya. Lampu mewah, gelas-gelas berkilau, senyuman palsu, suara tawa yang tidak pernah benar-benar lucu, dan...
Lyra.
"Hah? Lyra?"
Suara Sam membuat Hyunjin mengerjapkan matanya. Sial, apakah ia baru saja menyuarakan pikirannya?
"Kenapa dengan gadis tengil itu?"
"B-bukan apa-apa."
"Hyunjin."
Nada bicara Sam berubah sedikit lebih serius dan tajam, seolah tahu ada sesuatu yang disembunyikan oleh Hyunjin.
"Jangan berbohong padaku. Katakan ada apa? Semuanya baik-baik saja, kan?"
Mata Hyunjin terpejam sesaat. Tampaknya tidak ada gunanya menyangkal. Sam akan terus mendesak Hyunjin sampai ia mengatakan yang sebenarnya.
"Aku bertemu Lyra disana," ungkap Hyunjin.
"Lalu?"
"Apakah kau pernah bertemu dengan ibunya Lyra, Sam?"
"Tidak. Aku belum pernah bertemu dengan ibunya. Tuan Kang juga tidak pernah terlihat bersama istrinya selama aku mengenal mereka."
Sam terdiam sejenak sebelum kembali membuka suara. "Kenapa kau menanyakannya? Apa ada sesuatu yang terjadi?"
Hyunjin menggigit bibir bawahnya. Ia terlihat ragu. Apakah tidak apa-apa mengatakan ini pada Sam? Karena sepertinya hubungan Lyra dan ibunya tidak diketahui banyak orang.
Tapi ini Sam. Bukan orang lain.
"Hyunjin?"
Suara Sam kembali menyadarkan Hyunjin dari pemikirannya.
Pemuda yang kini memiliki warna rambut biru gelap itu menarik napas dalam-dalam. Suara Sam terdengar cemas. Tidak menuntut, hanya menunggu. Seolah memberi ruang namun juga tidak akan berhenti sebelum mendapatkan jawaban.
"Aku bertemu dengan ibu Lyra." Hyunjin memulai. "Maksudku tidak benar-benar bertemu. Tuan Kang mengatakan Lyra ada di balkon ketika Ayah bertanya. Dan Ayah menyuruhku menemani sekaligus menyapanya. Ketika aku tiba disana, Lyra tidak sendirian. Dia sedang bersama seorang wanita yang ternyata adalah ibunya. Tapi..."
"Tapi?"
"Percakapan mereka terasa aneh."
"Aneh bagaimana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
FOUND YOU
FanfictionTentang Hyunjin yang berusaha menemukan saudara kembarnya kembali dan tentang Sam yang menemukan rumahnya lagi. "Rumah? Bahkan tembok keras ini tidak layak disebut rumah." - H.Sam "Aku tidak pernah berhenti berharap keluarga kita bisa utuh kembali...
