Jelas sudah terlambat bagi Hyunjin untuk membatalkan rencana mereka. Sam sudah terbang ke Korea, dan Hyunjin sendiri sudah berada di rumah Ayahnya.
Chris pergi begitu Hyunjin mengikuti tuan Hwang memasuki rumah besar mereka. Jangan tanya betapa ingin Hyunjin menahan Chris untuk tetap di sekitarnya karena sungguh, ia sedikit gugup berada dekat dengan Ayahnya seperti ini. Namun tentu saja Hyunjin tidak bisa. Itu akan terasa aneh. Apalagi jika disaksikan oleh Ayahnya.
Ayah dan anak itu berakhir di ruang kerja Tuan Hwang. Ada sedikit interogasi disana dimana Tuan Hwang menayangkan alasan Sam tidak pulang ke rumah selama beberapa hari.
Hyunjin memberikan sedikit bumbu kebohongan dengan mengatakan bahwa Sam menginap di rumah temannya untuk mengerjakan sebuah tugas yang diberikan profesor. Yang untungnya diterima oleh Tuan Hwang meski Ayahnya sedikit mengeluhkan tentang teman-teman Sam yang menurut pria paruh baya itu membawa pengaruh buruk pada putranya.
Pernyataan itu sedikit membingungkan Hyunjin.
Apakah seburuk itu?
Hyunjin memang belum pernah bertemu teman-teman Sam. Jadi jelas ia tidak mengenal siapa mereka. Tapi Hyunjin berpikir mungkin ayahnya salah. Sam sudah dewasa, saudaranya itu pasti bisa membedakan mana yang baik dan buruk untuk dirinya sendiri.
Lalu ayahnya menanyakan sesuatu yang tidak terduga.
Apakah Sam masih marah padanya?
Tuan Hwang menyinggung soal perjodohan, yang langsung dipahami oleh Hyunjin kenapa ayahnya melontarkan pertanyaan seperti itu.
Sam jelas marah dengan perjodohan yang diatur Ayah mereka, meski Sam menerimanya setelah bernegosiasi dengan gadis yang dijodohkan dengannya.
Sial. Mengingat perjodohan Sam membuat Hyunjin ingin menenggelamkan diri di sungai han. Tapi Hyunjin tidak bisa mengeluh, kan? Ini demi rencana mereka.
Hyunjin bisa naik ke kamar Sam di lantai atas setelah Tuan Hwang pergi ke kantor. Nuansa kamar Sam terlihat sangat berbeda dengan miliknya. Jika kamar Hyunjin di Korea di dominasi oleh warna-warna yang cerah, kamar Sam adalah kebalikannya. Luas kamar Sam jelas lebih besar dari milik Hyunjin meski tidak ada terlalu banyak barang disana. Jika dinding kamar Hyunjin dihiasi oleh beberapa lukisan, dinding kamar Sam ditempeli beberapa poster band terkenal.
Tatapan Hyunjin lalu terpaku pada sebuah bingkai foto yang terletak di atas meja samping tempat tidur. Meletakkan ransel yang sedari tadi disangga pundaknya, Hyunjin lantas meraih bingkai tersebut dan menatapnya. Tak butuh waktu lama hingga senyum tipis menghiasi wajah pemuda tampan tersebut.
Foto itu adalah potret keluarga kecil mereka. Ada Ayah, Ibu, serta Sam dan Hyunjin yang berusia 10 tahun.
"Bolehkah aku berharap keluarga kita bisa bersatu kembali, Hyung?" gumam Hyunjin lirih. Ia tahu menyatukan kembali orang tua mereka adalah hal yang mustahil. Hyunjin juga tahu, ia dan Sam sudah cukup dewasa untuk menerima kenyataan bahwa orang tua mereka tidak mungkin bersama lagi. Meski begitu, tak dapat dipungkiri jauh di sudut tergelap hatinya, ada seorang anak yang terus berharap bisa memperbaiki keluarga mereka.
Hyunjin menghela napas panjang. Diletakkannya bingkai itu kembali ke atas nakas sebelum pemuda berhelai biru keabuan itu mendudukkan dirinya di atas tempat tidur. Hyunjin merogoh ponsel di saku jaketnya saat dirasa benda itu bergetar. Nomor tidak dikenal yang berkedip di layar ponselnya membuat Hyunjin mengernyit bingung.
Siapa?
Sam dan Hyunjin memang menukar kartu sim mereka, namun tidak dengan ponsel mereka.
Apakah mungkin ini kenalan Sam?
KAMU SEDANG MEMBACA
FOUND YOU
Fiksi PenggemarTentang Hyunjin yang berusaha menemukan saudara kembarnya kembali dan tentang Sam yang menemukan rumahnya lagi. "Rumah? Bahkan tembok keras ini tidak layak disebut rumah." - H.Sam "Aku tidak pernah berhenti berharap keluarga kita bisa utuh kembali...
