Bagian 23

68 7 1
                                        

"Kamu bisa menipu siapapun dengan mulutmu. Tapi tidak dengan hati, hati tidak bisa berbohong dengan apa yang dirasakannya. Pejamkan matamu dan rasakanlah lalu melangkah ikuti kata hati yang memiliki kejujuran atas perasaanmu sendiri." -ILYbee



______

Bara memantulkan bola basket lalu melemparnya tepat masuk ke dalam ring membuat para siswi berteriak histeris, belum lagi seragam bara yang sudah basah dibanjiri keringat.

Bara melempar kembali bola basket itu ke arah Nevan dan berlalu begitu saja mengejar Starla yang baru saja dilihatnya masuk ke dalam kantin. Entah mengapa seperkian detik setelah ekor matanya melihat Starla, kakinya berjalan begitu saja mengikuti arah Starla berjalan. Sebenarnya Bara menyadari segala tindakan diluar kendalinya, namun selalu ia kubur sedalam mungkin.

Starla melambaikan tangan dengan senyum ceria tatkala melihat Bara di pintu masuk kantin lalu dengan cepat mengubah kembali raut wajahnya ketika hatinya membatin 'untuk apa dia tersenyum ramah pada bara?'. Bara tersenyum samar melihat senyum yang begitu indah dipandangan matanya, cantik. Hari ini Starla mengepang rambutnya kebelakang dan mengikat ujungnya dengan pita rambut berwarna putih.

"Heh itu kan minum gue tau," ucap Starla ketika Bara tanpa permisi meminum jus mangga di botol berwarna pink yang Starla bawa dari rumah.

Bara menarik nafas sembari duduk di kursi yang berhadapan dengan Starla, "Kemana temen lo?" tanya Bara.

"Lagi di toilet, nanti nyusul," jawab Starla singkat.

Bara menyilangkan tangan didepan dada menatap Starla tanpa berkedip membuat gadis di depannya itu bergerak gusar karena gugup.

"Apa sih? Sana pergi. Bau keringat," ucap Starla sembari mengibaskan tangannya di depan wajah.

Bara tersenyum miring, "harusnya lo kasih pacar lo minum pas tadi lagi main basket."

"Najis banget. Gak ada pacaran, gak ada yang jadi pacar." tegas Starla.

Bara mendekatkan wajahnya beberapa senti sejajar dengan wajah Starla. "Coba cium, bau gak?"

Starla membulatkan bola matanya kemudian matanya menangkap Rissa di pintu kantin yang mengacuhkan Starla dengan berbalik badan dan berlari kecil menghilang dari pandangan.

Starla mendorong bahu Bara, "awas."

Starla beranjak dari tempat duduknya untuk mengejar Rissa sembari merapalkan segala umpatan dalam hati karena tadinya Starla dan Rissa akan makan bersama di kantin, namun yang terjadi adalah Rissa malah pergi meninggalkan dirinya yang sedang diganggu oleh Bara.

Bara mengedarkan pandangannya sebentar pada murid-murid lain yang ada di kantin dengan tatapan datarnya. Raut wajahnya berubah menjadi menyeramkan membuat murid yang sedari tadi memperhatikan interaksi dirinya dengan Starla penuh rasa penasaran berakhir tertunduk takut menatap seorang Aldebaran Leander.

Starla terhentak ketika melihat Bara sudah mensejajarkan langkahnya, padahal tadi dia merasa berlari meninggalkan Bara di kantin.

"Kaya setan," ucap Starla.

"Kaki lo pendek," kata Bara yang mengerti maksud ucapan sarkas dari Starla.

"Ah bodo amat," Starla berkata tanpa meperdulikan kehadiran Bara.

Bara mendengus geram ketika melihat Arsen menghampiri Starla, bahkan Arsen pun seperti tidak melihat kehadiran Bara disamping Starla.

"Heh, ngapain lo?" tabya Bara seketika melihat Arsen menuntun tangan Starla.

Arsen hanya menatap dingin ke arah Bara tanpa mengatakan apapun membuat Bara kesal lalu mencengkram rahang Arsen.

"Jangan sentuh milik gue yang ini," ucap Bara lebih seperti peringatan.

STELLARSHIPTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang