Tapi ia tahu, hatinya tahu. Dan untuk pertama kalinya, Elang merasa benar-benar takut kehilangan—lebih dari sebelumnya.
🍂🍂🍂
Sudah dua minggu berlalu sejak kelulusan. Sejak tatapan dingin terakhir di aula, sejak Elang diam seribu bahasa dan Sesil kembali menegakkan dagu palsunya.
Fina menghilang dari segala keramaian. Tidak ada unggahan ucapan terima kasih, tidak ada story perayaan. Semua ucapan selamat dari teman-teman hanya dibalas dengan emotikon atau kata "makasih" seperlunya.
Ia lebih memilih berdiam diri di rumah, membaca, tidur lebih lama, dan menghindari siapa pun yang bisa mengingatkannya pada luka-luka itu—termasuk Elang.
Namun hari ini, tubuhnya tak seperti biasanya.
Sejak pagi, perutnya terasa kembung dan mual. Saat bangun tidur, dunia seperti berputar. Ia bergegas ke kamar mandi, membungkuk di depan kloset, dan muntah cukup keras.
Cairan asam menyisakan rasa pahit di lidah dan sesak di dada. Ia terduduk lemas di lantai, mengusap bibir dengan tisu.
"Kenapa sih... badan gue kenapa..."
Sudah hampir seminggu ini ia merasa cepat lelah. Nafasnya ngos-ngosan hanya karena naik tangga, dan dadanya terasa nyeri aneh. Fina awalnya mengira itu karena kelelahan pasca kelulusan atau kurang makan.
Tapi pagi ini, mual yang datang tiba-tiba, ditambah kepalanya yang berdenyut, membuatnya membuka aplikasi kalender.
Diam.
Ia menatap tanggal yang seharusnya sudah lewat.
"Enggak... jangan-jangan..."
Wajahnya mendadak pucat. Tangan kirinya bergetar saat mencoba menghitung ulang hari-harinya. Benar. Ia telat. Lebih dari dua minggu.
Perlahan, ingatan tentang di Villa itu kembali mengendap. Malam terakhir mereka sebelum Elang benar-benar menjauh. Sentuhan hangat. Napas tergesa. Bisikan cinta yang kini terasa busuk di telinganya.
"Enggak mungkin... tapi... kalau iya?"
Tangannya meraba perutnya sendiri—belum ada yang berubah, tapi sensasinya lain. Seperti ada sesuatu yang baru tumbuh. Bukan luka. Tapi mungkin… nyawa.
Ia kembali muntah. Kali ini hanya cairan bening. Tubuhnya lemas.
Ketukan terdengar dari luar.
"Fina? Kamu kenapa, Nak?" suara Isti terdengar dari balik pintu.
"Kamu sakit? Ibu masuk ya?"
"Enggak, Bu! Gak usah masuk... Cuma masuk angin."
Suara itu terdengar bergetar, dan Fina berharap ibunya tak menyadarinya. Ia buru-buru menyiram wajah dengan air dingin, mencoba menghapus jejak ketakutan dari rautnya sendiri di cermin.
"Kamu sering banget bilang masuk angin, loh. Nanti siang Ibu masakin sop, ya."
"Iya, Bu... makasih..."
Tapi bahkan membayangkan aroma kaldu pun membuat perutnya kembali bergejolak.
Setelah langkah Isti menjauh, Fina kembali duduk di lantai. Tangannya memegang ponsel, jemarinya mengetik nama: Elang. Tapi pesan itu tak pernah dikirim
"Belum saatnya" Bisiknya pelan.
Fina mengganti bajunya seadanya, meraih dompet dan ponsel, lalu melangkah cepat ke minimarket terdekat yang juga menjual alat tes kehamilan. Di tengah langkahnya, ia terus menguatkan diri.
"Aku harus tahu." gumamnya.
Hatinya berdetak lebih cepat saat mendekati rak farmasi. Tangannya gemetar saat mengambil testpack yang terbungkus plastik bening. Ia melangkah ke kasir, menunduk dalam saat menyerahkan barang dan uang.
"Permisi, beli ini aja." ucapnya cepat.
Kasir mengangguk sambil memproses. Tapi di saat itu juga, langkah seseorang memasuki apotek. Fina tak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Nafas itu. Aroma sabun itu. Suara langkah yang sangat familiar.
"Elang." Bisiknya, panik.
Ia menoleh setengah, dan benar—Elang berdiri di dekat rak obat flu. Ia belum melihatnya. Tapi Fina tak mau ambil risiko. Segera setelah menerima struk dan plastik kecil berisi testpack, ia membalikkan badan dan berjalan cepat ke arah pintu keluar.
Namun tak cukup cepat.
"Fina?"
Langkah Elang mengejarnya. Matanya sempat menangkap plastik bening di tangan Fina, dan raut wajahnya berubah seketika.
"Fina! Tunggu, lo kenapa?" Tanyanya cemas.
Tapi Fina hanya mempercepat langkah. Ia tak menjawab, tak menoleh.
"Elang, jangan." Ucapnya dalam hati, hampir meledak karena takut dan bingung.
Ia menyeberang jalan kecil di depan apotek, hampir tersandung trotoar, namun tak peduli. Sampai akhirnya ia tiba di gang rumahnya dan berlari masuk.
Ia menutup pagar cepat-cepat, punggungnya bersandar di tembok.
Napasnya memburu. Matanya basah.
Belum sekarang.
Belum.
Ia belum siap menghadapi kenyataan ini—apalagi bersama laki-laki yang justru paling ingin ia lupakan.
Sementara itu, Elang berdiri di depan apotek, napasnya berat. Ia melihat Fina membawa sesuatu. Wajahnya pucat. Panik. Dan plastik bening itu...
"Jangan bilang.."
Tapi ia tahu, hatinya tahu. Dan untuk pertama kalinya, Elang merasa benar-benar takut kehilangan—lebih dari sebelumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ME OR US (COMPLETED)
RomanceAREA 🔞 YANG BOCIL HARAP MENJAUH. TERDAPAT ADEGAN KEKERASAN, PEMBACA DI HARAP BIJAK DALAM MEMBACA. *** "YANG HARUS LO LAKUIN ITU TANGGUNGJAWAB BRENGSEK!" *** *start 14 Februari 2023
