32. Luruh 🔞

814 6 0
                                        

Ruangan kantor Alex Wijaya sore itu sunyi, hanya suara detik jam dinding yang terdengar menggema di sela-sela ketegangan.

Pintu terbuka dengan keras.

Sesil melangkah masuk, tumit sepatunya menghantam lantai marmer seakan ikut melampiaskan amarahnya.

"Dia masih nyari perempuan itu!" serunya tajam tanpa basa-basi.

Alex yang sedang duduk di balik meja hanya menoleh perlahan, tidak terkejut. Tangannya tetap merapikan dokumen tanpa ekspresi.

"Elang... memang keras kepala," jawabnya datar.

"Bukan keras kepala. Dia terobsesi. Aku muak!" Sesil mendekat, tangannya mengepal. "Kamu janji, dia akan melupakan Fina setelah malam itu."

Alex bangkit dari kursinya, berjalan mendekat dengan langkah tenang, seperti sedang menghadapi anak kecil yang sedang tantrum.

"Tapi kau juga tahu, Sesil... keinginan manusia gak bisa disetel semudah membalik telapak tangan," katanya pelan, matanya tajam menatap Sesil. "Tapi aku tahu cara memutusnya..."

Sesil menatapnya tak percaya. "Aku udah lakukan semua, Alex. Termasuk... malam itu."

Alex menyentuh pipinya perlahan, bibirnya menyungging senyum dingin.

"Dan kau melakukannya dengan sangat baik..." bisiknya.

Sesil menunduk sesaat, lalu menatap Alex tajam. "Tapi kalau dia tetap milih Fina setelah semua ini... kamu gagal."

Alex tak menjawab. Ia justru menarik pinggang Sesil pelan, membawanya ke dekat tubuhnya.

"Kalau dia gagal... kita tetap menang, bukan?"

Tatapan mereka saling mengunci-ada panas yang tak seharusnya ada. Jarak yang terlalu dekat untuk hubungan ayah dan calon menantu.

Tanpa kata, Sesil membiarkan Alex mencium lehernya, membuka baju serta dada yang tak dibungkus bra.

Ia mendesah saat tangan besar Alex memainkan puting nya yang semalam baru saja dimainkan oleh anaknya.

Brettt

Alex merobek dress ketat merah nya dan langsung membuka celananya yang disambut oleh tangan Sesil.

"Argghh." Desah Alex saat Sesil menyatukan miliknya kedalam lubang penuh kenikmatan.

Lampu ruangan tak padam. Tapi batas moral sudah lama padam di antara mereka.

***

Perlahan, cahaya putih menembus kelopak mata Fina. Terlalu silau. Terlalu asing. Dunia di sekitarnya terasa beku dan asing. Ketika matanya terbuka sepenuhnya, ia melihat atap putih rumah sakit, lampu neon menyala redup, dan suara mesin medis yang monoton berdetak di telinganya.

Beep... beep... beep...

Ia mencoba menggerakkan jari-jarinya-lemas. Tubuhnya terasa hampa, seakan seluruh energi telah direnggut darinya. Saat ia coba mengangkat kepala, rasa nyeri tiba-tiba menghujam perut bagian bawah. Ia meringis.

"Ahh..." suara itu lirih, nyaris tak terdengar.

Tangannya secara naluriah bergerak ke perut. Mencari sesuatu yang tak terlihat. Mencari keberadaan kecil yang selama ini ia rahasiakan.

Tapi yang ia rasakan hanya kehampaan. Datar. Dingin. Dan seketika, jantungnya berdegup kencang.

Tidak mungkin.

Panik mulai menyergap. Ia mengangkat selimut pelan-pelan, dan mendapati perutnya dibalut kain kasa tipis. Ada bekas luka kecil. Tanda bahwa sesuatu telah diambil-tanpa izinnya. Tanpa sepersetujuannya.

Napasnya tercekat. Mata membelalak.

"Enggak... jangan bilang... mereka... mereka..."

Pintu terbuka perlahan. Seorang perawat wanita dengan wajah datar masuk membawa catatan di tangan.

"Oh, kamu sudah sadar..." ucapnya seolah sedang menyapa pasien biasa.

Fina memelototinya. Suaranya tercekat, lalu pecah. "Apa yang kalian... lakukan ke aku?"

Perawat itu berhenti sejenak. Ia tak berani menatap mata Fina, hanya menunduk dalam-dalam.

"Semua prosedur dilakukan sesuai protokol... atas persetujuan pihak keluarga."

"Aku TIDAK PERNAH memberi izin!!" Fina mengangkat tubuhnya meski nyeri luar biasa menghantam perutnya. Air mata jatuh seketika, deras tanpa bisa dicegah. "Kau tahu apa yang kalian ambil dariku?! Itu anakku! Anak aku, bukan milik kalian!!"

Perawat itu tetap bungkam, hanya melirik cepat sebelum buru-buru melangkah keluar tanpa penjelasan. Suara pintu menutup menjadi satu-satunya balasan yang Fina terima.

Dan saat itulah dunia Fina runtuh sepenuhnya.

Tubuhnya gemetar. Ia memeluk dirinya sendiri, mencoba menghangatkan kekosongan yang tak bisa diperbaiki. Isaknya pecah. Suaranya tercekat.

"Aku bahkan belum... aku bahkan belum sempat bilang ke ibu." tangisnya menggila. "Kenapa kalian jahat banget... kenapa..."

Tangannya mencakar sprei, seolah mencari pegangan untuk tetap waras. Tapi semuanya terlanjur hilang.

Di luar sana, matahari pagi mulai naik. Tapi bagi Fina... dunia sudah gelap.

***

ME OR US (COMPLETED) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang