"Kalau pagi ini kamu bangun dan aku gak ada, bukan berarti aku pergi. Aku cuma gak mau kamu panik kalau Ibumu pulang lebih cepat. Aku masih ada, Fin. Aku masih mau di sini. Sama kamu. Sama apa pun yang nanti lahir dari kita."
🍂🍂🍂
Cahaya pagi mengintip pelan dari celah tirai. Udara masih dingin, tapi selimut di tubuh Fina terasa hangat. Ia membuka mata perlahan, mengerjap, lalu mengedarkan pandangan.
Ruang kamarnya sepi. Hening.
Dan kosong.
Elang sudah tidak di sana.
Fina buru-buru duduk, selimut melorot dari bahunya memperlihatkan dadanya tanpa tertutup sehelai kain.
Dadanya bergemuruh, campuran antara panik dan kecewa yang terlalu akrab. Tapi sebelum pikirannya melompat terlalu jauh, matanya menangkap sesuatu di atas meja kecil di samping ranjang. Sepotong kertas lipat.
Tangannya gemetar saat meraihnya. Tulisan tangan Elang yang khas terpampang jelas.
"Kalau pagi ini kamu bangun dan aku gak ada, bukan berarti aku pergi. Aku cuma gak mau kamu panik kalau Ibumu pulang lebih cepat. Aku masih ada, Fin. Aku masih mau di sini. Sama kamu. Sama apa pun yang nanti lahir dari kita." - Elang, calon ayah dari anakmu
Fina menggenggam kertas itu erat. Napasnya tercekat. Dan tiba-tiba, semua kenangan dari semalam kembali seperti air pasang.
Pelukan yang erat.
Kata-kata lembut di antara isak.
Sentuhan yang gugup tapi tulus.
Tatapan mata yang akhirnya saling mengerti dan mereka melakukan lagi hubungan intim setelah sekian lama.
Ia menutup mata, dan di balik kelopak itu, semuanya kembali: rasa hangat di balik ciuman Elang, cara pria itu menyentuhnya seakan ia tak pernah patah, dan cara Elang berbisik pelan sebelum mereka tertidur—
"Aku di sini."
Fina terisak pelan.
Tangannya menyentuh perutnya yang masih datar. "Kamu denger, ya." bisiknya lembut, entah kepada diri sendiri atau pada si kecil di dalam sana. "Dia gak pergi"
Air matanya jatuh, tapi bukan karena takut. Untuk pertama kalinya sejak dua garis itu muncul, Fina merasa ada harapan—meski kecil, meski rapuh.
Ada yang berubah.
Dan pagi itu, dengan secarik kertas di tangan, Fina tahu, mungkin perjalanan ke depan tetap menakutkan. Tapi kali ini, ia tidak harus menjalaninya sendirian.
***
Elang sampai di rumah saat matahari baru naik sepenggalah. Tubuhnya masih terasa lemas, tapi entah mengapa dadanya ringan. Senyum kecil tak bisa ia tahan, masih terbayang mata Fina saat membaca surat kecil darinya.
Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, Elang merasa hidupnya punya arah lagi.
Ia bahkan belum sempat membuka sepatu ketika suara berat terdengar dari ruang tengah.
"Lang! Langsung mandi. Pakai baju yang rapi. Jangan lelet."
Elang menoleh. Alex berdiri dengan tangan bersedekap. Wajahnya seperti biasa datar, tajam, dan tak memberi ruang untuk banyak tanya. Pria itu hanya menatap sebentar, lalu kembali menatap layar ponsel di tangannya.
"Mau ke mana sih, Pah?" tanya Elang pelan, sedikit curiga. Tapi nada suaranya tetap sopan. Hatinya sedang baik pagi ini.
Alex tak menjawab langsung. Ia hanya berkata datar, "Pokoknya siap-siap. Pakai pakaian yang udah disiapin"
Dan entah kenapa, Elang tidak membantah. Mungkin karena pikirannya masih dipenuhi Fina. Mungkin karena untuk sementara, ia merasa lebih kuat.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Elang turun dan mendapati ibunya sudah menunggu di mobil. Sang ayah menyusul di kursi depan. Tak ada penjelasan lebih, hanya suasana yang terasa… aneh.
Mobil melaju tenang, melewati jalanan kota yang baru saja sibuk. Elang melihat ke luar jendela, lalu memejamkan mata.
Ia bisa membayangkan Fina masih
memegang kertas kecil itu. Mungkin sedang menyentuh perutnya lagi. Atau mungkin sedang menangis, tapi bukan karena takut.
Ia tersenyum kecil.
Tapi senyum itu langsung memudar saat mobil berhenti. Gerbang besar berwarna krem terbuka perlahan, dan halaman rumah Sesil terpampang di depan mata.
Elang langsung menegakkan tubuh. "Kenapa kita di sini?"
Alex menoleh setengah, lalu turun dari mobil. "Acara pertunanganmu malam ini. Kita harus sounding ke keluarga Sesil soal rundown, dekorasi, dan undangan. Kamu lupa?"
Elang membeku di kursinya. Perjanjian mereka memang sampai tamat sekolah dan dia harus bertunangan.
Dunia yang tadi terasa ringan seolah jatuh lagi—cepat dan keras.
Elang menoleh ke samping. Ibunya, Arumi, berdiri di sisi lain. Wajahnya tertunduk, matanya enggan bertemu tatapan Elang. Tapi dari gelagatnya, Elang tahu—ibunya tidak setuju. Ia hanya diam… seperti biasanya.
Sejak dulu, Arumi selalu tunduk pada Alex. Terlalu takut membantah, terlalu lelah melawan. Dan sekarang, ia kembali membungkam hatinya, demi menjaga keharmonisan keluarga yang cuma harmonis di permukaan.
Pintu rumah terbuka. Sesil muncul dengan senyum yang dibuat-buat. "Akhirnya kamu datang juga." Ucapnya manis, tapi matanya menelanjangi Elang seolah tahu pria itu tak benar-benar hadir di sana.
Elang melangkah masuk. Hatinya berat.
Kursi tamu, lampu gantung, aroma ruangan—semuanya terasa asing. Bukan ini rumah yang ingin ia datangi. Bukan ini perempuan yang ingin ia gandeng.
Pikirannya kembali pada secarik kertas yang ia tinggalkan di meja Fina. Pada kata-kata yang ia tulis dengan jujur. Pada tatapan mata Fina yang berkaca-kaca—tapi percaya.
Dan saat ia duduk di sebelah Sesil, Elang sadar tubuhnya ada di sini. Tapi seluruh hatinya… masih tinggal di kamar Fina, bersama perempuan yang kini sedang mengandung anaknya.
***
800 kata lumayan lah ini buat dapet feedback ❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
ME OR US (COMPLETED)
RomanceAREA 🔞 YANG BOCIL HARAP MENJAUH. TERDAPAT ADEGAN KEKERASAN, PEMBACA DI HARAP BIJAK DALAM MEMBACA. *** "YANG HARUS LO LAKUIN ITU TANGGUNGJAWAB BRENGSEK!" *** *start 14 Februari 2023
