34. Walk

236 6 0
                                        

Langkah David terdengar mantap saat ia melangkah melewati koridor gedung tinggi yang mewah—kantor pusat milik Alex Wijaya.

Meski gedung itu tampak ramah dan modern, ada hawa dingin dan kekuasaan yang menyelimuti tiap sudutnya. Seolah setiap dindingnya bisa bicara tentang kekejaman yang disembunyikan di balik senyum ramah para petingginya.

David sempat ditahan di lobi oleh petugas keamanan, tapi saat ia menyebutkan nama lengkapnya dan menunjukkan kartu identitas asingnya, mereka mulai berbisik-bisik.

Beberapa menit kemudian, seorang sekretaris berpakaian rapi mempersilakannya naik ke lantai tertinggi.

Pintu kaca buram terbuka, dan di dalamnya, duduklah Alex Wijaya, pria paruh baya dengan wajah tajam dan senyum sopan yang sama sekali tak menyentuh matanya.

“Silakan duduk, Tuan David,” ucap Alex dengan suara tenang. “Kabar Anda dari luar negeri sudah sampai ke telinga saya.”

David menatap tajam. Ia tidak membuang waktu.

“Aku mencari Fina. Dia menghilang, dan semua jejaknya berhenti di kota ini. Aku sudah telusuri semuanya. Tidak ada satu pun petunjuk—kecuali… rumah sakit milik Anda.”

Alex menaikkan alis, lalu tertawa pelan.

“Rumah sakit? Banyak orang berobat di sana, Tuan David. Apa Anda menyangka semua pasiennya adalah Fina?”

“Jangan main-main,” suara David terdengar dingin. “Aku tahu Anda orang berkuasa, tapi saya juga bukan orang bodoh. Anda tahu sesuatu.”

Alex bangkit dari kursinya, berjalan santai ke arah jendela besar yang menghadap kota.

“Kalau memang Anda begitu ingin tahu… Fina sudah kembali ke rumahnya,” katanya enteng. “Dia baik-baik saja. Bahkan tadi pagi dia katanya minta dijemput supir kami.”

David terdiam, matanya menyipit penuh curiga.

“Kenapa saya harus percaya kata-kata Anda?”

Alex menoleh pelan, senyumannya tak berubah. “Itu urusan Anda. Tapi saya sarankan Anda tak usah terlalu dalam mencampuri urusan keluarga orang lain. Apalagi jika Anda tidak tahu seluruh ceritanya.”

Nafas David tercekat. Kata-kata itu… terdengar seperti ancaman yang dibungkus formalitas.

“Kalau begitu, boleh saya temui dia? Saya ingin melihatnya langsung.”

Alex kembali ke kursinya, lalu menekan interkom.

“Minta sopir mengantar Tuan David ke alamat yang saya berikan nanti. Anggap saja sebagai rasa hormat dari saya pada tamu jauh.”

David menatap pria itu beberapa detik. Hatinya menolak percaya, tapi ia tahu memaksa lebih jauh hanya akan membuatnya terlempar keluar dari gedung ini—atau lebih buruk.

“Terima kasih,” ucapnya akhirnya, singkat.

Tapi saat ia meninggalkan ruangan itu, nalurinya menggedor dadanya.

***

Hening menyelimuti lorong rumah sakit saat Elang mendorong kursi roda tempat Fina duduk lemah. Hanya suara roda berdecit pelan yang terdengar di antara langkah cepatnya. Jantung Elang berdetak kencang, sementara Fina menahan dingin dan perih yang masih menggumpal di tubuhnya.

"Pegangan, Na. Kita keluar dari sini."

Fina hanya mengangguk lemah, masih belum bisa mencerna semua rasa sakit dan luka yang baru saja ia alami.

Namun yang membuat Elang terkejut—dan curiga—adalah kenyataan bahwa tidak ada satu pun perawat yang menghalangi. Padahal ia yakin ayahnya tak akan tinggal diam.

Dua bodyguard berdiri di ujung lorong. Elang mempercepat dorongan kursinya, siap bertarung kalau perlu. Tapi saat mereka mendekat, kedua pria itu hanya bertukar pandang... lalu mengangguk pelan.

"Mobilnya sudah disiapkan di basement, Pak Elang," bisik salah satunya tanpa menatap langsung. “Kami cuma disuruh jaga. Tidak disuruh tahan.”

Elang menatap mereka tajam, lalu mendorong Fina melewati keduanya dengan hati-hati.

Turun ke basement, Elang menemukan mobil hitam yang dikenalnya. Mesin menyala. Kunci tergantung di dashboard. Seolah... semuanya sudah dirancang.

“Ini jebakan?” gumam Elang, ragu.

Fina menggenggam tangannya. “Kalau jebakan, mereka nggak akan ngebantu kamu dari tadi.”

Elang mengangguk. Ia bantu Fina masuk ke kursi penumpang dengan hati-hati. Wajah Fina masih pucat, matanya sembab, tapi untuk pertama kalinya sejak kemarin—ada harapan kecil yang terbit di matanya.

Tanpa buang waktu, Elang duduk di belakang kemudi dan menginjak gas.

Mobil meluncur keluar dari basement dengan lancar. Tidak ada yang mengejar. Tidak ada alarm. Tidak ada mobil lain membuntuti.

Aneh. Terlalu mudah.

Terlalu tenang untuk sebuah pelarian.

“Na… kamu kuat?” tanya Elang, menoleh sesekali.

Fina menggigit bibir, menahan nyeri yang belum juga hilang. “Aku nggak tahu. Tapi selama kamu ada… aku mau coba kuat.”

Dan dalam keheningan malam yang masih basah oleh embun dini hari, mereka melaju menuju tempat yang belum mereka tahu. Tapi yang pasti—jauh dari kebohongan dan kekuasaan Alex Wijaya.

Yang tidak mereka sadari, dari jendela kantor di lantai atas rumah sakit, sepasang mata memperhatikan kepergian mereka.

***

ME OR US (COMPLETED) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang