Tapi ia hanya bisa berdiri. Di sisi perempuan yang tak ia cintai. Dengan seluruh jiwanya tertinggal pada yang lain. Yang kini berdiri beberapa meter di depan mata — hancur… karena dirinya.
🍂🍂🍂
Suasana rumah Fina sore itu terasa berbeda. Ketukan pelan di pintu membuat Fina terkejut. Ia membuka pintu dan di sana berdiri Sesil, dengan senyum manis yang terlihat terlalu sempurna.
"Fin," sapanya lembut, "aku cuma mau bilang… aku rindu ngobrol sama kamu. Kita kan teman lama."
Fina terdiam, hati berdebar campur aduk. Meski rasa sakit masih tersisa, ada bagian dari dirinya yang ingin percaya.
Sesil melangkah masuk dengan santai, duduk di sofa ruang tamu. "Aku tahu selama ini kita banyak salah paham, dan aku minta maaf. Aku mau kita baikan, benar-benar."
Fina hanya bisa mengangguk pelan. Ia tak tahu, di balik kata-kata itu, Sesil menyimpan niat lain. Niat yang ingin membuat Fina merasa terluka lebih dalam.
***
Fina berdiri di ambang pintu rumah Sesil, jantungnya berdegup kencang seperti ingin melompat keluar. Lampu-lampu gantung yang berkelap-kelip menerangi ruangan luas yang penuh dengan tamu-tamu berbusana rapi dan suara musik lembut yang mengalun.
Aroma bunga segar dan makanan mewah menusuk hidungnya. Semuanya tampak begitu sempurna, seperti mimpi indah yang tidak ingin ia masuki—tapi malam ini, itu kenyataan.
Ia menggenggam tas kecilnya erat-erat, tangan gemetar tak mampu menahan rasa sakit yang mengendap di dada. Tatapan matanya menyapu sekeliling ruangan, mencari satu sosok yang ia harap tidak ada disini seperti yang ada dalam dugaannya.
"Fin, kamu datang." Sapaan Sesil yang terdengar manis namun palsu membuat dada Fina bergetar. Ia mengangguk, mencoba membalas senyum itu walau hatinya masih was-was.
Suasana di dalam rumah terasa hangat dan nyaman, namun Fina tak bisa menepis rasa cemas yang menjalar di perutnya. Ia merasa untuk sebuah undangan makan malam pertemanan ini terlalu berlebihan dan spekulasi Fina mulai tak bersahabat dengan apa yang terjadi.
***
Langkah Elang terasa berat saat melewati gerbang rumah Sesil. Udara malam tidak cukup dingin untuk membuat tubuhnya menggigil, tapi dada yang menyesak—itu yang membuatnya ingin mundur.
Tapi bayangan Alex, suara ibunya yang lirih menahan air mata, dan semua tekanan yang tak pernah benar-benar ia minta… memaksanya melangkah masuk.
Derit pintu utama terbuka pelan.
Sorot lampu hangat menyambutnya, aroma bunga segar dan lilin beraroma melati menyeruak. Di ruang tengah, para tamu sudah berkumpul. Musik pelan mengalun dari sudut ruangan. Semua tampak… sempurna.
Kecuali hatinya.
Elang berdiri di ambang pintu, menyapukan pandangannya cepat—hanya ingin menyelesaikan ini dan pergi. Tapi kemudian, jantungnya seperti berhenti berdetak.
Ia melihatnya.
Fina.
Di sana. Berdiri canggung di sisi ruangan, mengenakan dress sederhana berwarna krem pucat yang sangat ia ingat pernah dilihat di etalase—saat mereka masih sering menghabiskan waktu bersama. Rambutnya disisir rapi, matanya mencari-cari sesuatu—mungkin dirinya.
Dunia Elang runtuh seketika.
Langkah kakinya goyah. Ia menatap Fina seolah gadis itu adalah luka dan obat di saat yang bersamaan.
"Apa yang dia lakukan di sini?" gumam Elang, nyaris tak bersuara.
Sesil menghampirinya dari samping, tangan gadis itu menggamit lengannya erat. "Senyum, sayang. Semua orang lihat," bisiknya lembut tapi dingin.
Elang tak menjawab. Matanya tak bisa lepas dari Fina, yang kini mematung di tempatnya, menatap ke arahnya dengan sorot mata yang tak bisa Elang baca—antara bingung, takut, dan… kecewa.
Fina belum tahu.
Belum tahu bahwa malam ini bukan sekadar makan malam biasa. Belum tahu bahwa ia, Elang, akan bertunangan dengan Sesil dalam hitungan menit.
Tenggorokan Elang tercekat. Ia ingin melangkah ke arah Fina, ingin menjelaskan, ingin membatalkan segalanya. Tapi ia tidak bisa. Ia tak punya cukup kuasa atas hidupnya sendiri malam itu.
Dan ketika mata Fina perlahan mulai berkaca-kaca, ketika jemarinya mengepal kuat di sisi tubuhnya, Elang tahu — semuanya akan runtuh.
Tapi ia hanya bisa berdiri. Di sisi perempuan yang tak ia cintai. Dengan seluruh jiwanya tertinggal pada yang lain. Yang kini berdiri beberapa meter di depan mata — hancur… karena dirinya.
****
KAMU SEDANG MEMBACA
ME OR US (COMPLETED)
RomanceAREA 🔞 YANG BOCIL HARAP MENJAUH. TERDAPAT ADEGAN KEKERASAN, PEMBACA DI HARAP BIJAK DALAM MEMBACA. *** "YANG HARUS LO LAKUIN ITU TANGGUNGJAWAB BRENGSEK!" *** *start 14 Februari 2023
