30. Lost it

279 7 0
                                        

Selimut putih menutupi tubuhnya. Tapi tidak bisa menyembunyikan tatapan matanya yang kosong.

🍂🍂🍂

Pagi itu, cahaya matahari menembus tirai hotel dengan enggan, menyelinap ke ruangan yang masih berantakan. Aroma parfum menyengat, bercampur dengan sisa alkohol dan ampas penyesalan yang menggantung di udara.

Elang membuka mata perlahan. Kepalanya berat, seakan dipalu dari dalam. Pandangannya buram, otaknya kosong sesaat. Tapi saat ia menggeser tubuhnya dan melihat siapa yang ada di sebelahnya—segala kehampaan berubah jadi ledakan.

Sesil.

Berbaring di sampingnya. Tanpa sehelai benang pun.

Dan dirinya sendiri…
Tidak.

Tidak mungkin.

“Shit…” desis Elang pelan, langsung duduk tegak. Selimut jatuh dari tubuhnya, memperlihatkan bekas luka di dada yang ia bahkan tak ingat bagaimana bisa ada di sana.

Ia melihat ke sekeliling kamar. Gaun malam Sesil tergeletak di lantai. Baju dan celananya juga berserakan. Gelas wine masih ada di meja, salah satunya kosong. Kenyataan menamparnya seperti air es.

“Gak… Gue gak...” Elang menatap Sesil yang masih tertidur, wajahnya damai seperti tak ada yang salah.

Tapi Elang tahu. Semuanya salah.
Semalam adalah jebakan.
Dan dia masuk ke dalamnya.

Dalam hati, ia ingin muntah. Bukan karena jijik pada tubuh Sesil—tapi pada dirinya sendiri. Pada kelemahan yang membuatnya lengah. Pada cara tubuhnya dihianati oleh pil-pil brengsek yang entah sejak kapan masuk ke sistemnya.

Lalu pikirannya langsung melompat ke satu nama. Fina.

Ia meraih ponsel di meja dengan panik. Membuka layar.
Ada 3 missed calls.
Dari Fina.
Tangan Elang gemetar. Ia membuka pesan terakhir.

"Elang, aku dibawa orang suruhan ayahmu. Aku nggak tahu mereka mau bawa aku ke mana. Tolong angkat."

Dikirim jam 00:41.
Sekarang pukul 07:23.

“Tidak…” desisnya. “YA TUHAN!”

Ia langsung bangkit, menyambar celananya. Tapi Sesil membuka mata pelan dan tersenyum kecil.

“Udah pagi?” gumamnya manja, lalu mencoba menyentuh lengan Elang. “Lanjut lagi yuk…”

Elang menepis tangannya kasar. “lo apain gue?!”
Sesil tersenyum, tapi matanya dingin. “Gak ada yang gue paksa. Lo minum sendiri. Lo sentuh gue duluan. Gue cuma... nemenin.”

“L kasih obat ke minuman gue, kan?” suara Elang tajam.

Sesil mengangkat bahu. “Lo terlalu mikirin dia. Gue cuma bantu lo lepas dari bayang-bayang Fina.”

“Dia telpon semalam!” bentak Elang. “Dia butuh gue! Dan gue—”

Sesil berdiri dari tempat tidur, tanpa peduli tubuhnya masih telanjang. “Apa? Lo lebih milih perempuan itu, yang mungkin udah ngelahirin anak yang bahkan lo gak siap tanggung jawab?!

Elang langsung membeku.

"Apa tadi?” suaranya pelan, tapi matanya menajam, penuh curiga. “Ulangi.”

Sesil menyipitkan mata, sadar ia terpeleset. Tapi bibirnya melengkung licik. “Lo denger sendiri. Atau jangan-jangan lo gak nyangka gue tau?”

Elang melangkah pelan, mendekat ke arahnya. Wajahnya pucat. “Dari mana lo tau Fina hamil?”

Sesil tertawa kecil, sinis. “Jadi bener, ya?”

“Sial… sial…”
Napasnya memburu. Kepalanya makin pening, bukan karena efek obat—tapi karena kepingan demi kepingan mulai menyatu di kepalanya.

Dia tak pernah cerita ke siapa pun. Bahkan saat tahu dari testpack itu, dia belum bicara ke siapapun selain memikirkannya sendiri. Tapi Sesil tahu. Dan kalau Sesil tahu... itu cuma berarti satu hal.

Ayahnya. Alex. Sudah tahu.

Dan kalau Alex tahu...
Elang langsung gemetar.
Fina. Di tangan siapa dia sekarang?

“Elang.” Sesil memanggil, tapi suaranya tak lagi manja—ia mulai panik. “Lo mau ke mana?!”

Tanpa menjawab, Elang menyambar jaket dan ponselnya, lalu keluar dari kamar hotel dengan langkah panjang dan brutal.

Sesil menatap kosong ke pintu yang tertutup. Tangannya mengepal. Tubuhnya masih berdiri di tempat tidur, tapi harga dirinya—terhempas di lantai bersama selimut yang tak bisa menutupi rasa malu dan amarahnya.

***

Pukul 07:45.

Langkah di lorong makin cepat. Suara alat-alat mulai dinyalakan. Denting besi. Dentuman monitor. Dan suara detak jantung Fina, yang masih terekam—cepat, tak beraturan.

Tangannya masih berusaha menggenggam sesuatu. Tapi sisa tenaga di tubuhnya sudah hampir habis. Cairan yang mengalir melalui infus sudah membuat kelopak matanya berat.
Tapi ia masih sadar. Ia merasakan semuanya.

Perawat perempuan itu kembali masuk, kali ini dengan sarung tangan steril dan masker yang menutupi hampir seluruh wajahnya.

“Prosedur dimulai dalam tiga menit,” katanya datar.

Fina menatapnya. Bibirnya bergerak. “Jangan…”

Perawat itu tidak menjawab. Hanya memeriksa monitor tekanan darah, lalu menyiapkan alat hisap vakum di sisi meja.

Seorang dokter berusia lima puluhan masuk ke ruangan. Wajahnya familiar—salah satu dari jajaran rumah sakit milik keluarga Wijaya.
“Siap?” tanyanya singkat.

“Siap, Dok.”

“Dosisnya?”

“Cukup untuk membuat pasien rileks, tapi tetap sadar sebagian.”

“Bagus. Kita tak ingin drama. Mulai sekarang.”

Fina ingin menjerit, tapi hanya suara parau yang keluar. Air matanya turun deras. Ia tak meronta, tubuhnya terlalu lemah. Tapi jiwanya meraung dalam diam.
Ia tahu apa yang akan terjadi.
Dan ia tidak bisa menghentikannya.

Dokter memasukkan alat steril ke dalam alat vakum, lalu memberi aba-aba pada perawat.
Satu.
Dua.
Tiga.

Suara mesin menyala, lirih… lalu bergetar.

Dan dalam hitungan detik, segalanya lenyap.

Ada rasa nyeri, meski ringan karena obat. Tapi rasa sakitnya bukan di tubuh.
Di dada.

Di hati.

Di dalam dirinya yang kini kosong.

Fina menatap langit-langit ruangan itu, masih dengan air mata yang tak berhenti mengalir. Bukan karena rasa sakit fisik. Tapi karena rasa kehilangan yang bahkan belum sempat ia kenal.

Anak itu—nyawanya—telah direnggut.
Tanpa suara. Tanpa nama. Tanpa kesempatan.

“Prosedur selesai,” suara dokter tenang. “Bawa ke ruang pemulihan. Pastikan tidak ada pendarahan lanjutan.”

Ruangan kembali sunyi.
Fina dibaringkan di ranjang roda, didorong keluar.
Selimut putih menutupi tubuhnya. Tapi tidak bisa menyembunyikan tatapan matanya yang kosong.

Dan di tempat lain, pukul 07:57, Elang menginjak rem mendadak di tengah jalanan sepi, ponselnya menampilkan satu titik kecil terakhir dari sinyal HP Fina.

Satu titik.
Dan entah kenapa… dadanya seperti diremuk dari dalam.

***

ME OR US (COMPLETED) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang