Lampu remang di ruangan pribadi Alex memantul di permukaan meja marmer. Anggur merah belum sempat disentuh. Dan pintu tertutup begitu keras saat Sesil masuk, napasnya cepat, matanya menyala oleh emosi yang belum ia beri nama.
"Dia bawa perempuan itu keluar dari rumah sakit milikmu," bisik Sesil tanpa basa-basi.
Alex tidak terlihat terkejut. Pria itu hanya menyandarkan tubuhnya ke meja, menatap Sesil dari ujung rambut sampai kaki.
"Kau marah... atau cemburu?" tanyanya pelan, seolah kalimat itu bukan pertanyaan, tapi jebakan.
Sesil berjalan mendekat, langkahnya pelan tapi pasti. Tubuhnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari Alex, dan jari-jarinya menyentuh dagu pria itu dengan ringan-mengangkatnya sedikit.
"Aku ingin kau buat aku lupa, Lex," katanya dengan suara serak. "Lupakan bahwa dia masih memilih perempuan itu. Lupakan semua... kecuali kamu."
Alex tersenyum kecil. Matanya menatap dalam ke arah Sesil, dan satu tangannya terangkat, menyusuri sisi pinggang perempuan itu dengan gerakan lambat.
"Seharusnya kau tahu," bisik Alex di telinga Sesil, "aku lebih dari cukup untuk membuatmu lupa siapa dirimu."
Tarikan napas Sesil tertahan saat Alex mencium lehernya, panas dan dalam. Ia tidak menolak. Justru merespons dengan desahan lirih saat tangan Alex mencengkeram pinggangnya lebih kuat.
"Aku benci kalau kamu lama," gumam Sesil.
Alex mengangkat wajahnya dan menatap perempuan itu, jarak di antara mereka tak lebih dari hela napas. "Tapi kau selalu kembali ke sini."
"Karena cuma kamu yang tahu caranya menyentuh aku," lirih Sesil, sebelum menarik Alex ke ciuman yang keras dan panas, seperti api yang tak sabar membakar seluruh ruangan.
Kemeja terlepas, kancing berhamburan. Napas keduanya memburu.
Tubuh mereka saling merapat tanpa jeda, seolah dunia di luar sana tidak penting. Suara helaan, bisikan, dan sentuhan mendominasi ruangan. Gerakan Alex tegas, mendesak, tahu di mana harus menekan, kapan harus memperlambat, dan bagaimana membuat Sesil kehilangan kendali.
Dan malam itu, untuk kesekian kalinya, mereka tenggelam dalam satu-satunya bahasa yang mereka pahami bersama: gairah.
Tanpa cinta.
Tanpa rencana.
Hanya kepuasan... dan rahasia yang semakin dalam.
***
Pintu rumah tertutup pelan di belakang mereka. Fina melangkah masuk dengan langkah yang berat, tubuhnya yang lemah seolah menyimpan segala rasa sakit yang belum hilang. Lampu-lampu di ruang tamu menyala lembut, menerangi sudut-sudut ruang yang kini terasa asing.
Elang mengikuti di belakang, masih menatap Fina dengan penuh perhatian. Ia tahu betapa banyak yang sedang Fina hadapi, tapi ia juga tahu ia harus memberi ruang untuknya, meski hatinya ingin selalu ada di sampingnya.
Fina meletakkan tasnya di meja, lalu melangkah menuju kamar. Suara langkahnya pelan dan lelah. Ia berhenti sejenak, menoleh ke arah Elang.
"Elang, aku capek. Aku... aku mau istirahat dulu. Kamu boleh pulang dulu, ya?" ucapnya dengan suara lembut tapi bergetar.
Elang menelan ludah, menatap mata Fina yang sayu tapi tetap memancarkan keteguhan.
"Kalau kamu butuh sesuatu, aku tinggal di depan," jawabnya pelan. "Tapi aku nggak mau jauh-jauh."
Fina tersenyum kecil, walau matanya mulai berkaca-kaca. "Aku tahu. Terima kasih, Elang. Tapi aku harus sendiri dulu, supaya bisa kuat."
Elang mendekat, meraih tangan Fina dan menggenggamnya erat.
"Jangan biarin aku pergi terlalu jauh, ya. Aku takut kalau kamu kesepian."
Fina mengangguk, lalu menarik napas panjang.
"Kalau aku kuat, nanti aku panggil kamu lagi."
Elang menatapnya lama, merasakan beratnya beban yang dipikul perempuan itu. Namun, ia tahu memberi waktu dan ruang adalah bentuk cinta yang juga harus ia pelajari.
"Baiklah, aku pulang dulu. Tapi ingat, aku ada di sini kalau kamu butuh aku," kata Elang sambil tersenyum lembut.
Fina melangkah ke dalam kamar, menutup pintu perlahan di belakangnya. Elang berdiri di ruang tamu sejenak, memandangi pintu kamar yang tertutup, sebelum akhirnya menarik napas dalam dan berjalan keluar.
Di luar, udara malam terasa dingin tapi sejuk. Elang menatap langit gelap yang dipenuhi bintang, berharap pagi membawa harapan baru untuk mereka.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
ME OR US (COMPLETED)
RomanceAREA 🔞 YANG BOCIL HARAP MENJAUH. TERDAPAT ADEGAN KEKERASAN, PEMBACA DI HARAP BIJAK DALAM MEMBACA. *** "YANG HARUS LO LAKUIN ITU TANGGUNGJAWAB BRENGSEK!" *** *start 14 Februari 2023
