David duduk di dalam mobilnya, jari-jarinya menggenggam setir erat. Keringat dingin membasahi pelipis meski AC menyala. Matanya menatap kosong ke arah gedung pencakar langit yang menjulang kokoh di depannya.
"Alex Wijaya Corp."
Itu nama terakhir yang tertinggal dalam daftar panjang pencariannya. Setelah pulang dari luar negeri karena menemui jalan buntu, ia mencoba segala cara—menghubungi teman lama Fina, mendatangi kampus, hingga menyelidiki rumah sakit-rumah sakit umum. Tapi semua nihil.
Tak ada satu pun jejak Fina.
Namun satu hal mencurigakan muncul dalam penelusurannya: rumah sakit swasta elit milik Alex Wijaya. Nama Alex juga sempat disebut Isti, ibunya Fina, secara tak langsung saat mereka terakhir berbicara. Dan David tahu, pria sekelas Alex tak akan repot mengurusi hal sepele… kecuali ada sesuatu yang besar.
“Kalau ini cuma ilusi… biarlah. Tapi kalau benar dia tahu…” David bergumam, mengencangkan dasi, dan keluar dari mobil.
Lobi kantor Alex Wijaya sangat mewah. Marmer mengkilat, chandelier menggantung, dan resepsionis berdiri anggun di balik meja kaca.
“Saya ingin bertemu Pak Alex,” ucap David tegas, langsung pada tujuan.
Resepsionis itu terkejut sesaat. “Maaf, Pak, apakah Anda sudah punya janji?”
“Belum. Tapi katakan padanya… saya David, teman dekat dari Fina.”
Resepsionis tampak ragu. “Fina…?”
“Fina Amara.” Nada suara David terdengar menekan. “Saya tidak main-main.”
Ia tahu menyebut nama itu seperti melemparkan bom ke ruangan ini. Dan benar saja—mata sang resepsionis membesar sepersekian detik sebelum kembali menguasai diri.
“Saya cek dulu, Pak. Mohon tunggu sebentar…”
David melangkah ke kursi tunggu, namun sorot matanya tak tenang. Ia tak sadar, di lantai atas, nama Fina barusan kembali membuat jantung seseorang berdetak—bukan karena kekaguman, tapi karena bahaya.
Karena Alex tahu: semakin dekat orang-orang pada nama itu, semakin besar risiko semua kebusukan terkuak.
Dan Alex tak suka risiko.
***
Napasnya berat. Ada rasa pahit di tenggorokannya, dan pandangannya buram saat matanya perlahan terbuka.
Elang mengerjap. Cahaya lampu langit-langit menusuk retinanya. Kepalanya pening, seolah baru terbangun dari tidur yang bukan tidurnya sendiri.
"Apa yang terjadi…?"
Ia duduk perlahan, memegangi pelipisnya yang berdenyut. Ingatan terakhir yang ia miliki adalah saat ia berjalan bersama seorang perawat—lalu semuanya gelap. Sunyi. Dan kini ia terbangun di ruang tunggu kecil yang sepi.
Pintu tak dikunci. Tapi ponselnya hilang.
Elang bangkit dengan tubuh limbung. Nafasnya cepat. Nalurinya langsung menjerit—Fina. Dia pasti ada di sini. Pasti. Ayahnya menyembunyikan sesuatu. Dan semua kebohongan yang perlahan terungkap membuat dadanya semakin sesak.
Langkah kakinya mulai cepat, menyusuri lorong rumah sakit. Ia mengenali tempat ini, tentu saja—bangunan milik ayahnya sendiri. Tapi yang tak ia kenali adalah rasa asing di dada, ketika melihat para perawat menunduk menghindar, beberapa bahkan buru-buru menutup map dan menjauh ketika ia lewat.
Sesuatu sedang disembunyikan.
Elang menyelinap ke balik meja resepsionis, membaca daftar pasien rawat inap. Tidak ada nama Fina. Tapi ia tidak bodoh. Ayahnya bisa saja mendaftarkan pakai nama samaran, atau sembunyikan di bagian khusus.
Ia menemukan lift menuju ruang perawatan steril—ruang VIP yang biasa digunakan untuk “klien penting”. Hatinya berdebar tak karuan. Nafasnya tercekat saat pintu lift terbuka di lantai empat.
Sunyi. Bau antiseptik menusuk hidung. Di ujung lorong ada satu pintu terbuka samar. Tanpa pikir panjang, Elang mendorongnya.
Dan di sana, di atas ranjang putih…
Fina.
Terbaring diam, lemah, dengan infus menancap di lengannya. Wajahnya pucat, tubuhnya terlihat dingin dan kosong. Perutnya—tidak seperti yang ia ingat. Elang berdiri kaku, seluruh tubuhnya menegang.
“Fina…” bisiknya, berjalan pelan ke sisinya.
Fina menggeliat kecil. Bola matanya bergerak, lalu terbuka perlahan. Pandangannya kabur, tapi suara itu…
“Elang?” suaranya lirih, pecah.
Elang langsung menggenggam tangannya erat. “Aku di sini… aku di sini, Na…”
Air mata mulai menggenang di mata Fina. Ia tahu. Ia tahu apa yang telah terjadi.
“Maaf… aku nggak bisa lindungin kamu lebih cepat…” ucap Elang, nyaris berbisik, penuh luka.
Fina menggeleng lemah, bibirnya bergetar. “Mereka… ambil anak kita…”
Dan saat itu, di tengah ruangan yang dingin dan putih itu, Elang akhirnya paham kenapa amarah di dadanya tak pernah padam. Karena mereka telah merenggut sesuatu yang tak bisa dikembalikan.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
ME OR US (COMPLETED)
Roman d'amourAREA 🔞 YANG BOCIL HARAP MENJAUH. TERDAPAT ADEGAN KEKERASAN, PEMBACA DI HARAP BIJAK DALAM MEMBACA. *** "YANG HARUS LO LAKUIN ITU TANGGUNGJAWAB BRENGSEK!" *** *start 14 Februari 2023
