27. Gugur??

382 8 0
                                        

"Kamu udah ambil keputusan tanpa aku. Kamu lupa aku juga manusia yang punya perasaan. Kamu lupa aku yang sekarang bawa anak kamu dalam perutku."

🍂🍂🍂

Elang berdiri di depan pintu ruang acara. Suara tawa dan obrolan mulai mereda, tapi di dadanya, keributan malah makin jadi. Dia tahu Fina sedang sakit di rumah sakit, dan rasa bersalah itu makin menekan setiap detik dia duduk diam di sini.

Langkahnya berat. Dia melangkah ke pintu, berniat keluar.

Tapi tiba-tiba tangan Sesil menyegat lengannya.

"Lo mau kemana, Lang? Acara nya masih belum selesai." suara Sesil datar tapi dengan nada memaksa.

Elang menarik napas panjang, mencoba menjaga nada suaranya tetap biasa. "Gue harus ke rumah sakit. Fina lagi sakit dan gue gak bisa diem di sini."

Sesil tersenyum tipis, matanya dingin. "Ini acara lo juga, Lang. Lo gak bisa pergi gitu aja. Lo udah janji sama gue."

Elang tatap Sesil dengan mata berat. "Janji? Lo kira gue gak pengen ke Fina? Tapi gue juga gak bisa ninggalin acara ini sembarangan. Lo ngerti gak sih, dia lagi butuh gue."

Sesil mendengus pelan "Gue juga butuh lo. Lo harus tahan sebentar lagi, ini penting buat kita.”

Elang mulai naik darah. "Fuck up, i don't care bitch." Dengan tenaga yang tersisa Elang mendorong tangan Sesil kuat.

Dia berjalan cepat, pikirannya cuma satu, Fina dan anaknya.

***

Fina membuka mata perlahan. Kepala masih terasa berat dan tubuhnya lemah. Ia mencoba duduk, tapi pusing membuatnya harus berbaring lagi.

Tubuhnya terasa berat, namun yang lebih berat adalah beban di dalam hatinya. Bayangan Elang, yang selama ini menjadi alasan ia bertahan, kini berubah menjadi sumber luka yang dalam.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka dan seorang pria masuk dengan langkah pelan. "Halo, kamu sudah bangun." katanya ramah.

Fina menatapnya dengan bingung, "Siapa… kamu?"

Pria itu tersenyum, "Aku Kai, sepupu Elang. Aku yang bawa kamu ke sini. Jangan khawatir, aku cuma mau bantu."

Fina mengangguk pelan, masih berusaha menguatkan diri. "Makasih ya."

Kai duduk di kursi dekat tempat tidur, mencoba membuat suasana jadi ringan. "Santai aja, jangan dipikir berat-berat."

Mereka mulai ngobrol santai, Fina bertanya banyak hal tentang keadaan di luar yang ia lewatkan.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka lagi dan Elang masuk. Matanya langsung tertuju pada Fina, tapi ia ragu untuk maju.

Fina menoleh, segera menundukkan kepala, enggan bertemu mata Elang. Kai yang merasa tidak dibutuhkan disana pamit undur diri.

Elang menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri, lalu duduk di sebelahnya. "Fina, aku pengen bicara."

Elang duduk di samping Fina, matanya penuh harap tapi wajah Fina tetap dingin, bahkan ada sedikit kecewa yang menempel di sana. Ia menghela napas panjang, mencoba memulai pembicaraan.

"Fina, aku..."

"Tunggu dulu, Elang." Fina memotong dengan suara tegas, pandangannya tajam menatap ke arah Elang. "Kenapa harus aku yang terus dikejar? Kenapa kamu bisa santai aja menjalani semua ini? Apa aku cuma penghalang buat kamu?"

Elang diam, berat untuk menjawab.

"Aku hamil, Elang." Suara Fina mulai bergetar. "Aku gak pernah minta ini. Tapi aku juga gak pernah minta kamu ninggalin aku tanpa kata apa-apa."

Elang menunduk, suaranya serak, "Aku gak pernah pengen ninggalin kamu, Fin. Aku bingung, aku gak tahu harus gimana."

Fina menatap lurus, air matanya mulai mengalir. "Kamu udah tunangan sama Sesil, dan aku di sini sendirian nahan semua ini. Kamu malah sibuk sama acara yang gak aku inginkan."

"Ini bukan yang aku mau." Elang coba menjelaskan.

"Tapi ini yang terjadi!" Fina membalas tajam. "Kamu udah ambil keputusan tanpa aku. Kamu lupa aku juga manusia yang punya perasaan. Kamu lupa aku yang sekarang bawa anak kamu dalam perutku."

“Aku gak mau kehilangan kamu,” kata Elang pelan.

"Tapi kamu udah kehilangan aku, Elang." kata Fina dengan suara pecah.

Elang mencoba meraih tangan Fina, tapi dia menarik diri dengan getir. "Aku gak mau terus-terusan kayak gini, Fin. Aku masih pengen kita baik-baik aja."

Fina memejamkan mata sejenak, lalu berkata lirih, "Kalau aku bilang aku mau gugurin anak ini, apa kamu bisa terima?"

Elang tercekat, mata membelalak. "Fina… jangan bilang begitu."

"Aku gak yakin aku kuat, Elang. Kalau kamu gak bisa jadi orang yang aku butuhin, aku gak tahu harus gimana."

Elang meraih tangan Fina lagi, kali ini dengan lebih kuat. 'Aku janji akan berubah. Kita bisa hadapi ini bersama."

Tapi Fina menggeleng, suara serak. "Janji itu udah terlalu sering aku denger, tapi kenyataannya kamu tetap pergi. Aku capek, Elang. Aku bener-bener capek."

Suasana hening, hanya terdengar suara napas mereka yang berat.

Elang berkata pelan, "Aku gak mau kehilangan kamu dan anak kita."

Fina menghela napas, "Aku juga gak mau, tapi aku gak yakin ini bisa terus begini."

Elang mencoba berkata sesuatu, tapi Fina sudah menutup matanya lagi tanpa ingin tau apa yang akan Elang katakan.

Ruangan itu kembali sunyi, hanya menyisakan hati yang terluka dan mimpi yang mulai retak.

***

Udah niat banget mau nyelesaiin cerita ini hari ini dengan mata yang ngantuk da pedih wkwk

ME OR US (COMPLETED) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang