21. Dingin

204 7 0
                                        

"Tenang aja, gue gak bakal rebut calon tunangan orang. Dia udah kebanyakan luka buat gue bawa lagi ke dalam hidup gue"

🍂🍂🍂

Gedung aula dipenuhi sorak sorai, tawa, dan kilatan kamera. Satu per satu nama siswa dipanggil untuk menerima medali kelulusan mereka. Di tengah keramaian, Fina berdiri sendiri di antara lautan toga hitam. Rambutnya dikuncir rapi, senyumnya tipis namun tenang.

Pagi itu ia berdandan tanpa semangat. Tapi sekarang, entah mengapa, ada kekuatan aneh yang tumbuh dalam dirinya—mungkin karena hari ini ia akan menutup satu fase besar hidupnya, sendirian.

"Eh, liat deh. Cewek buangan dateng juga" Suara itu menusuk tajam di telinganya. Kiran, di sebelahnya berdiri Sesil dengan toga yang elegan, dan Nia yang tak berhenti menyeringai.

"Sendirian, Fin?" ejek Nia.
"Gak ada Elang yang ngegendong kamu sekarang ya?"

Fina tak menggubris. Ia hanya melirik sebentar, lalu berjalan melewati mereka seolah mereka tak ada.

"Lo pikir cuek kayak gitu bikin lo keren?" Sesil mendesis.
"Please deh, bahkan calon tunangan gue pun udah enek sama lo."

Kata itu—tunangan gue—ditekan dengan sengaja. Fina menghentikan langkahnya. Namun ia tetap membelakangi mereka.

"Tunangan?"
Suaranya pelan, tapi tajam.
"Jadi lo bangga ya, dapetin cowok yang harus lo paksa tunanganin lo karena lo main kotor?"

Sesil melangkah maju, siap membalas, tapi langkah Elang menghentikannya.

"Sesil, cukup."
Suaranya berat. Tegas.

Sesil terdiam sejenak, lalu tersenyum manis—palsu. “
"Sayang, aku cuma ngobrol kok. Tenang aja."

Fina akhirnya menoleh. Tatapannya jatuh pada Elang, lalu turun ke tangan mereka yang saling bergandengan.

"Tenang aja, gue gak bakal rebut calon tunangan orang. Dia udah kebanyakan luka buat gue bawa lagi ke dalam hidup gue" kata Fina datar.

Di tengah obrolan mereka suara mikrofon terdengar menggelegar.

"Dan... siswa terbaik sekaligus juara umum tahun ini dengan nilai akademik tertinggi adalah… Fina Anggraini"

Tepuk tangan pecah. Beberapa siswa terkejut. Yang lain hanya bisa menatap kagum.

Fina menahan napas. Jantungnya berdetak kencang. Ia tidak pernah menginginkan panggung ini untuk pamer. Tapi hari ini, panggung itu seperti milik dirinya—dan dirinya saja.

Ia berjalan menuju podium, langkahnya tenang. Saat namanya disebut ulang oleh kepala sekolah, semua mata tertuju padanya—termasuk mata yang dulu pernah menatapnya penuh cinta.

Elang.

Ia menatap Fina dari jauh, tubuhnya kaku mendengar perkataan Fina tadi.

"Lo nyesel?" Tanya Sesil dengan nada menang.

Elang menatap Fina yang berdiri dengan tersenyum manis diatas podium. Napasnya berat.

"Iya" Jawabnya. "Tiap detik"

"Kami bangga dengan Fina. Bukan hanya cerdas, tapi juga rendah hati, dan disiplin" Ucap kepala sekolah.

Fina menerima medali. Lalu berdiri tegap di atas podium, menatap seluruh aula. Matanya menemukan Elang lagi dan hanya menatap sepersekian detik sebelum beralih.

Ia tak tersenyum. Tapi juga tak membenci.

Ia hanya… melepaskan.

Begitu turun dari podium, langkah Fina menuju luar aula disambut tatapan sinis dari Sesil.

"Pinter doang gak bikin lo dipilih kok" gumam Sesil setengah berbisik.
"Tetep aja ditinggalin."

Fina menoleh perlahan.

"Dan lo, harus maksa diri buat dipilih… kasian."

Kiran dan Nia yang tadi di belakang Sesil langsung terdiam.

Elang menghampiri, berdiri di sisi Fina.

"Fina, please. Aku cuma mau—"

"Jangan berdiri terlalu deket. Bisa-bisa calon tunangan kamu salah paham" ucap Fina cepat.

"Fin, denger dulu" Pinta Elang.

Fina menatapnya. Kali ini tatapannya tajam.

"Kamu gak denger waktu aku minta dipilih. Jadi sekarang, giliran kamu yang gak akan aku dengerin."

Hening.

Fina melangkah pergi, menggenggam rapor dan medali di tangannya. Elang hanya bisa menatap punggungnya… dan sadar bahwa gadis itu—yang pernah ia peluk dan manja—baru saja menorehkan kemenangan paling sunyi yang pernah ia saksikan.

***

Segitu aja

ME OR US (COMPLETED) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang