40. 143

563 6 0
                                        

Sudah enam bulan sejak badai itu berlalu. Sejak rumah mereka yang dulu penuh luka kini perlahan berubah menjadi ruang penyembuhan. Tak ada lagi suara keras, tak ada lagi air mata yang dipendam diam-diam. Yang tersisa hanyalah dua manusia yang sama-sama patah, sama-sama belajar, dan kini—sama-sama memilih untuk tetap tinggal.

Fina duduk di tepi jendela apartemen mereka, matanya menerawang ke luar, menatap hujan yang turun perlahan. Di belakangnya, terdengar suara gemericik dari dapur—Elang sedang membuat teh hangat, sesuatu yang hampir menjadi rutinitas setiap sore.

"Teh kamomil, kayak biasa," kata Elang pelan, meletakkan cangkir di atas meja kecil di dekat Fina.

"Terima kasih," Fina menjawab, tanpa menoleh. Tapi Elang tahu, itu bukan karena dingin. Itu hanya cara Fina—diam yang nyaman.

Mereka tidak lagi membicarakan masa lalu secara berlebihan. Luka mereka terlalu dalam untuk diurai satu-satu. Tapi mereka tahu, yang terpenting adalah apa yang mereka bangun sekarang, hari demi hari, tanpa tekanan.

"Kamu yakin?" tanya Elang tiba-tiba, duduk di kursi di hadapan Fina. "Kita jalanin kayak gini dulu, tanpa... tanpa status yang jelas?"

Fina mengangguk pelan. “Aku gak mau buru-buru, Lang. Aku masih belajar percaya lagi. Sama kamu… sama diriku sendiri. Tapi aku tahu satu hal—aku gak mau kamu pergi lagi.”

Elang tersenyum. Bukan senyum lebar, tapi yang tipis dan jujur. “Aku gak akan pergi. Kali ini enggak.”

Mereka memilih untuk tidak menikah—setidaknya belum. Mereka sepakat untuk mencintai tanpa syarat, menjalani hari demi hari tanpa target, hanya dengan komitmen yang tak tertulis tapi terasa nyata di setiap sentuhan, setiap tatapan.

Ada malam-malam yang mereka habiskan hanya untuk saling diam, saling dengarkan detak jantung masing-masing. Ada pagi-pagi yang penuh tawa karena hal-hal kecil seperti kopi yang kebanyakan gula atau remote TV yang hilang di sela-sela sofa.

Dan ada saat-saat ketika Fina masih terbangun dari mimpi buruk—tentang rumah sakit, tentang kehilangan. Tapi kini, Elang selalu di sana. Dengan dekap yang tenang dan kata-kata sederhana, “Aku di sini.”

Kebahagiaan mereka bukan yang riuh. Bukan yang penuh unggahan dan perayaan. Tapi lebih kepada kesederhanaan: mencuci piring berdua, membaca buku di sofa yang sama, atau berbagi payung kecil saat hujan tiba-tiba turun.

Hari ini pun tak berbeda. Mereka duduk berdampingan, menonton hujan menari di kaca jendela. Elang meraih tangan Fina, menggenggamnya erat. Tak ada janji muluk. Tak ada rencana panjang. Tapi ada keinginan yang sama untuk tetap tumbuh—bersama.

“Aku gak tahu apa yang akan terjadi nanti,” kata Fina pelan, “tapi untuk sekarang, aku bahagia.”

Elang menatapnya, lalu menjawab, “Aku juga. Dan itu cukup.”

Elang tersenyum kecil. Ditatapnya wajah perempuan itu—perempuan yang telah ia sakiti, yang telah ia temui kembali dalam luka yang sama, dan kini duduk di sampingnya, memilih untuk percaya lagi.

Tangannya menyentuh pipi Fina. “Aku boleh?”

Fina mengangguk, perlahan. Tak ada lagi ragu di matanya.

Dan dalam detik berikutnya, bibir mereka bertemu. Lembut, hangat, tanpa tergesa. Ciuman itu bukan sekadar tentang cinta, tapi tentang pemahaman, penerimaan, dan janji yang tak perlu diucapkan.

Di luar, langit malam mulai terang oleh lampu kota.

Dan di dalam apartemen kecil itu, dua jiwa yang hancur pelan-pelan mulai utuh kembali. Dengan satu ciuman, satu lagu, dan satu keputusan untuk tetap tinggal—tanpa ikatan pun tak apa, selama hati mereka saling terikat.

***

END

Bersyukur banget bisa nyelesein cerita ini dalam waktu 2 tahun lebih dan dengan segala kepusingan author mencari jalan ceritanya wkwk.
Makasih juga buat kalian yang sudah memberikan vote atau komen karna berkat itu aku jadi sangat semangat dalam menulis cerita ini.
Sampai jumpa di cerita lainnya ❤️

ME OR US (COMPLETED) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang