28. Be lost

254 6 0
                                        

"Janin itu harus hilang sebelum perjanjian perusahaan disepakati, dan Elang harus tetap fokus pada pertunangannya."

🍂🍂🍂

Alex duduk di ruang kerjanya,  dadanya naik turun cepat menahan amarah yang sudah lama terkumpul. Bodyguardnya berdiri tegang di depan meja, wajahnya serius saat mengucapkan kabar yang mengguncang dunia Alex.

"Pak, saya baru saja dapat kabar… Fina hamil. Anak pak Elang."

Alex menatap tajam, mata membara seperti api yang siap meledak. Suaranya berat dan dingin. "Hancurkan saja wanita itu. Janin itu harus dihilangkan. Tidak boleh ada anak haram yang mengotori nama keluarga ini."

Bodyguard itu sudah tak terkejut mengingat siapa tuannya. "Baik pak."

Alex menatap tajam, tanpa ampun. "Aku akan pastikan Fina menyerah. Kalau perlu, aku sendiri yang memastikan itu. Ini bukan soal perasaan, ini soal harga diri keluarga!"

Tangan Alex mengepal keras di atas meja, suara denting yang menggema di ruangan sunyi.

"Janin itu harus hilang sebelum perjanjian perusahaan disepakati, dan Elang harus tetap fokus pada pertunangannya."

Bodyguard mengangguk tanpa suara, tahu betul betapa seriusnya keputusan Alex.

Alex menarik napas panjang, namun matanya tetap dingin dan penuh tekad. "Tidak ada tempat untuk noda kotor."

***

Suara pintu rumah yang berderit pelan memecah keheningan siang itu. Fina melangkah masuk dengan wajah pucat dan langkah gontai. Sepulang dari rumah sakit, tubuhnya memang sudah sedikit lebih baik, tapi pikirannya justru semakin kacau.

Kantong plastik berisi obat masih menggantung di tangannya. Ia sempat ingin membuang test pack itu di jalan, tapi entah kenapa… benda kecil itu tetap ia simpan, tersembunyi di balik saku ranselnya. Seakan masih belum siap benar-benar melepaskan kenyataan yang kini menggantung di perutnya.

Isti langsung bangkit dari sofa begitu mendengar pintu terbuka. "Fina? Ya Allah, kamu kenapa bisa sampai pingsan di jalan? Kamu nggak apa-apa, kan?" Suaranya bergetar, campur aduk antara cemas dan lega.

Fina mencoba tersenyum. "Nggak papa, Ma. Cuma kecapekan, kayaknya."

Isti memeluk anak gadisnya erat. Pelukannya hangat, menenangkan. Dan justru karena itu, dada Fina terasa makin sesak.

Ia hampir menangis saat itu juga. Ingin bilang. Ingin cerita. Ingin menyerahkan beban ini sepenuhnya pada satu-satunya orang yang selama ini jadi tempat ia berlindung.

Tapi belum sempat Fina membuka suara, Isti melepas pelukannya dan memandang Fina dengan sorot mata ragu.

"Ada yang Mama mau omongin." ucapnya pelan. Tangannya menggenggam lengan Fina, seolah bersiap menghadapi reaksi anaknya. "Maaf ya, Nak… Mama harus pindah ke Bali. Mungkin dalam waktu dekat. Mama dan Om Dimas mau coba buka usaha di sana. Klub musik kecil-kecilan. Katanya temennya Om ada lahan bagus di daerah Ubud."

Fina terdiam. Kalimat itu terasa seperti angin yang tiba-tiba memadamkan api kecil dalam hatinya. Ia baru saja mengumpulkan keberanian untuk menceritakan segalanya pada Isti. Tapi kini, keberanian itu runtuh begitu saja.

"Pindah?" suaranya nyaris tak terdengar.

Isti mengangguk pelan. "Iya. Sebenarnya Mama juga berat ninggalin kamu. Tapi kamu kan udah lulus, udah dewasa. Mama nggak bisa terus-terusan begini… ngegantungin hidup. Mama juga butuh mulai dari awal. Biar Mama bisa bahagiain kamu juga, dari jauh pun nggak papa."

ME OR US (COMPLETED) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang