Enam bulan telah berlalu sejak hari itu di apartemen kecil Elang, ketika Fina datang dengan segudang pertanyaan dan hati yang penuh luka. Waktu berjalan, dan perlahan mereka menata kembali serpihan-serpihan masa lalu yang pernah retak, mencoba membangun sebuah kisah yang baru, meski tak mudah.
Kini, mereka berdiri di babak baru. Setelah melewati badai yang tak ringan, Elang dan Fina memutuskan untuk tinggal bersama. Sebuah keputusan yang penuh keberanian, karena mereka tahu tak semua luka akan langsung hilang, tapi bersama-sama, mereka bisa belajar untuk mengerti dan mencintai satu sama lain lagi.
Pagi itu, cahaya matahari menyelinap lewat tirai jendela kamar, memantulkan sinar kehangatan ke seluruh ruangan. Fina terlelap di atas tempat tidur, wajahnya terlihat damai, jauh dari segala beban dan kesedihan yang dulu menghantui.
Elang duduk di sampingnya, memandang lembut ke arah perempuan yang begitu berarti dalam hidupnya. Tangannya dengan hati-hati mengelus rambut Fina, menyusuri tiap helai dengan kelembutan yang tulus.
“Aku senang kita bisa di sini, Fin,” bisiknya pelan, seolah takut suaranya membangunkannya.
Fina membuka mata perlahan, menatap Elang dengan senyum kecil yang membuat jantung pria itu berdebar. “Aku juga, Elang. Rasanya... seperti pulang,” jawabnya dengan suara lembut.
Mereka berbagi tawa kecil, saling melempar canda ringan yang menjadi pengikat baru dalam hubungan mereka. Setelah sekian lama menahan beban, kini kehangatan kecil ini mulai mengikis dingin yang selama ini menyelimuti.
Hari-hari berlalu dengan penuh usaha dan pengertian. Mereka belajar lagi bagaimana menjadi pasangan, membangun kepercayaan yang sempat terkikis. Tidak semua hari mudah, ada kalanya perasaan takut dan ragu datang menyapa. Namun, mereka memilih untuk tetap bertahan, saling menguatkan.
Pada malam yang hangat itu, suasana menjadi lebih intim. Di ruang tamu, dengan lampu yang meredup dan musik lembut mengalun, Elang dan Fina duduk berdekatan di sofa. Tangan mereka bertautan, saling menghangatkan.
“Aku ingin kita memulai perlahan,” kata Fina, matanya menatap dalam ke mata Elang. “Bukan hanya sekadar fisik... tapi juga hati.”
Elang mengangguk, merasakan detak jantungnya berdetak lebih cepat. “Aku juga. Aku ingin setiap sentuhan, setiap kata, menjadi sebuah janji untuk kita.”
Mereka saling mendekat, merasakan hangatnya nafas yang bertemu. Elang meraih wajah Fina, mengusap pipinya dengan lembut, sebelum bibir mereka menyatu dalam ciuman yang perlahan tapi penuh arti.
Ciuman itu bukan sekadar gairah, tapi sebuah permulaan. Permulaan dari penyembuhan dan harapan.
Elang memeluk Fina dengan penuh perhatian, membiarkan setiap sentuhan menjadi bahasa cinta yang tak terucapkan. Fina membalas dengan kelembutan, menaruh kepercayaannya dalam pelukan itu.
Mereka beranjak ke kamar, tubuh mereka saling menemukan, menggenggam rasa rindu yang selama ini tertahan. Dalam gelap yang hanya diterangi sinar remang lampu meja, mereka membiarkan diri larut dalam momen yang penuh kehangatan.
Setiap gerakan perlahan, penuh hormat dan cinta. Tidak terburu-buru, mereka saling membaca bahasa tubuh, memastikan yang satu dan lain merasa nyaman dan dihargai.
Elang mengecup leher Fina, menyusuri lengannya dengan tangan yang lembut. Fina menutup mata, merasakan kehadiran Elang yang selama ini ia rindukan.
Suara nafas mereka yang berat memenuhi ruangan, diselingi bisikan lembut yang menguatkan.
“Aku di sini, Fin... selalu,” ucap Elang di telinga Fina.
Fina tersenyum, membalas, “Aku percaya sama kamu, Elang.”
Malam itu, mereka tidak hanya bersatu secara fisik, tapi juga secara hati dan jiwa. Sebuah janji untuk memulai kembali, menata harapan dan cinta yang pernah hampir hilang.
Ketika pagi datang, mereka terbangun dalam pelukan satu sama lain, merasa lebih utuh dan lebih kuat.
KAMU SEDANG MEMBACA
ME OR US (COMPLETED)
RomansaAREA 🔞 YANG BOCIL HARAP MENJAUH. TERDAPAT ADEGAN KEKERASAN, PEMBACA DI HARAP BIJAK DALAM MEMBACA. *** "YANG HARUS LO LAKUIN ITU TANGGUNGJAWAB BRENGSEK!" *** *start 14 Februari 2023
