36. Free?

254 4 0
                                        

Elang melangkah mantap menuju kantor ayahnya, pikirannya dipenuhi amarah dan kebingungan yang mengaduk-aduk perasaannya. Gedung megah itu berdiri kokoh, seperti benteng tak tertembus. Namun, dengan akses yang hanya diketahui keluarga, Elang membuka pintu kantor tanpa perlu mengetuk, melangkah masuk dengan langkah pasti.

Saat ia melangkah melewati pintu yang sedikit terbuka, suara lembut namun intens memecah keheningan ruang itu. Matanya membelalak, terpaku pada pemandangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: ayahnya, Alex, dan Sesil, calon tunangannya sendiri, terjerat dalam keintiman yang sangat pribadi.

Senyum menggoda menghiasi wajah Sesil, sementara Alex memeluknya erat. Elang menelan ludah, jantungnya berdegup kencang, seolah seluruh dunia runtuh dalam sekejap. Momen itu membuatnya sadar bahwa segala yang ia ketahui selama ini hanyalah bayangan tipis dari kenyataan yang jauh lebih gelap.

Dengan amarah yang membara, Elang mengayunkan pintu kantor ayahnya sampai terbuka keras. Di dalam, Alex yang sedang terkejut segera berdiri, sesil yang duduk di sofa ikut menoleh.

“Elang! Apa maksudmu masuk ke sini dengan cara seperti itu?!” suara Alex penuh kemarahan.

Elang menatap tajam ke arah Alex, suaranya dalam dan tegas.

“Jadi ini yang lo lakuin di kantor lo itu?!" Ujar Elang. "Gue mulai bayangin reaksi media kalau tau hal yang lo perbuat ini."

Alex menatap Elang lama, tak terasa diancam.

“Kamu gak paham apa-apa soal keluarga dan bisnis. Ini bukan cuma soal kamu dan Sesil.”

Elang makin dekat, tatapannya mengancam.

“Gue peduli soal keluarga dan bisnis, tapi gue lebih peduli sama Fina. Lo jangan rusak hidup dia cuma demi rencana busuk lo!”

"Batalkan pertunangan gue dengan pelacur ini atau semuanya biarin hancur!"

Alex terdiam, dan akhirnya mengangguk pelan.

“Baiklah. Pertunangan itu batal. Tapi jangan pikir kamu menang begitu saja.”

Sesil yang sudah terpengaruh obat racikan sendiri, dengan langkah goyah dan mata setengah terpejam, perlahan mendekati Elang. Tubuhnya masih telanjang, hanya selimut tipis yang menggantung di bahunya, menambah aura misteri dan daya tarik yang sulit diabaikan.

Dengan suara serak dan penuh godaan, Sesil menggoda, “Elang... kenapa kita nggak coba sesuatu yang baru? Gue tahu lo marah, tapi gue bisa bikin kamu lupa semua masalah itu.”

Elang menatapnya dengan campuran kejutan dan waspada. “Sesil, lo nggak sadar dengan apa yang lo omongin.”

Sesil tersenyum penuh tantangan, “Gue sadar, justru itu yang bikin semuanya lebih seru. Gue pengen kita bertiga, lo, gue dan... kebebasan.”

Elang menggeleng, berusaha menahan perasaan yang bergejolak dalam dirinya. “Gue nggak mau masuk ke permainan sampah lo!"

Elang menatap kedua orang itu, dan berjalan keluar kantor dengan kepala tegak.

***

David melangkah pelan memasuki rumah Fina, suasana sunyi menyambutnya. Lampu-lampu ruang tamu yang redup menambah kesan hampa di dalam rumah yang kini terasa berbeda dari kenangan lama. David menatap sekeliling, berusaha merasakan keberadaan Fina yang selama ini ia cari.

Langkahnya terhenti ketika ia menemukan secarik kertas di meja, dengan tulisan tangan Fina yang ringkas, “Maaf, aku butuh waktu sendiri. Terima kasih sudah datang.”

Hati David berdebar, campuran antara haru dan kekhawatiran. Ia tahu perjalanan ini belum berakhir dan ia harus terus mencari cara untuk membantu Fina melewati semua yang terjadi.

David duduk di sofa, menatap pintu yang tertutup, berharap suatu saat Fina akan kembali membuka pintu itu untuknya.

***

ME OR US (COMPLETED) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang