23. Hamil

436 7 0
                                        

"Lo pikir semua tentang lo, ya?! Lo pikir gue segampang itu ngerepotin hidup lo lagi?"

🍂🍂🍂

Elang bersin keras untuk kesekian kalinya malam itu.

Tubuhnya panas, tenggorokannya perih, dan napasnya berat. Arumi duduk di sisi tempat tidurnya, wajahnya cemas. "Kamu kenapa bisa sampai kayak gini? Baru juga kelulusan kemarin kamu segar-segar aja."

Elang menggeleng lemah. "Gak tau, Ma. Mungkin kecapekan."

Padahal bukan itu. Sejak melihat Fina di apotek dua hari lalu, pikirannya tak pernah tenang. Bayangan wajah pucat gadis itu, tangan yang menggenggam testpack, dan langkahnya yang tergesa terus menghantuinya. Ia demam karena hatinya panas—bukan tubuhnya.

"Papa nyuruh kamu istirahat total. Dia udah bilang ke bodyguard buat jaga kamu terus." Kata Arumi sambil merapikan selimut Elang.

Elang langsung menoleh, matanya tajam. "Aku harus ketemu Fina, Ma."

Arumi mengerutkan alis. "Elang, kamu demam tinggi—"

"Ma, please." Potongnya cepat. "Aku gak tenang kalau gak ketemu dia. Aku… ngerasa dia butuh aku. Sekali ini aja, Ma. Tanpa bodyguard. Aku bisa sendiri."

Sementara itu, malam mulai turun di rumah Fina. Isti baru saja berangkat kerja—shift malam di bar tempat ia menjadi kasir. Fina mengantar sampai gerbang, lalu kembali ke dalam dengan jantung berdebar.

Ia menutup pintu kamar, mengunci, dan membuka tas kecil berisi testpack. Tangan Fina gemetar saat membuka bungkusnya. Ia membaca instruksi pelan-pelan, lalu berjalan ke kamar mandi.

Beberapa menit berlalu dalam hening.

Fina menatap alat kecil di tangannya.
Dua garis.
Jelas.
Tanpa ampun.

Fina terdiam. Testpack di tangannya bergetar, tapi bukan karena ia tak percaya—melainkan karena ia tahu, hidupnya baru saja berubah selamanya.

Dunia di sekelilingnya tetap diam, seolah memberi ruang untuk hening yang menusuk ini. Detak jam terdengar begitu keras, tapi kepala Fina justru hampa.

Ia hanya duduk di lantai kamar mandi, punggung bersandar di dinding dingin, air matanya mengalir tanpa suara.

“Aku belum siap…” bisiknya lirih. Suaranya seperti milik orang lain. Lirih, rapuh, nyaris tidak terdengar.

Ia mengusap wajahnya, tapi air mata terus turun. Dalam benaknya, bayangan Elang sekilas muncul—tatapan mata itu, yang dulu membuatnya merasa cukup. Tapi kini, semua terasa jauh. Jauh dan kabur.

Ia menggenggam perutnya yang masih rata. Masih belum terasa nyata. Tapi di dalam sana… ada sesuatu. Ada kehidupan kecil yang tiba-tiba tumbuh, meminta tempat dalam kekacauan yang belum selesai.

Ia terduduk di lantai, tubuhnya gemetar. "Enggak… ini nyata," bisiknya. "Gue hamil."

Tangisnya pecah—bukan karena bahagia. Tapi karena ketakutan, kebingungan, dan luka lama yang baru saja dibangunkan.

Lalu terdengar suara kecil dari arah jendela. Dan saat itu Fina menyesal kenapa dia tak menutup pintu kamar mandi yang ada di kamarnya.

Ceklek.

Fina menoleh cepat. Jantungnya nyaris berhenti saat melihat seseorang memanjat masuk lewat jendela. Tubuh tinggi. Rambut awut-awutan. Mata yang meski sayu, tetap mengenal dirinya.

"Elang?!"

"Maaf masuk kayak gini. Gue gak bisa diem aja."

Fina buru-buru menyembunyikan testpack di balik handuk. "Lo ngapain di sini?"

Elang menghampiri, wajahnya pucat tapi matanya nyala. "Gue harus tahu… lo kenapa di apotek kemarin? Apa bener—"

"Enggak ada yang perlu lo tahu," potong Fina, suaranya bergetar.

Elang menatapnya lama. "Fin… gue gak bisa tidur. Gak bisa mikir. Kalau lo kenapa-kenapa—"

Fina mundur. "Gue baik-baik aja. Lo pergi, sekarang."

Namun suaranya tidak meyakinkan. Matanya sembab. Nafasnya masih kacau.

Elang menunduk, suaranya pelan. "Apa lo hamil?"

Fina menegakkan dagunya menghapus kasar airmatanya. "Gue gak hamil," ujarnya datar.
Suaranya nyaris meyakinkan—nyaris.

Elang masih berdiri di tempat, matanya tak lepas dari Fina. "Lo yakin?" bisiknya.

"Gue cuma beli buat temen," lanjut Fina, cepat. Terlalu cepat.

"Fina…" suara Elang lirih, tapi penuh tekanan. Ia melangkah mendekat. "Lo bisa bohong sama siapa aja, tapi jangan sama gue."

Fina mundur, punggungnya menabrak lemari kecil di sudut kamar. "Gue bilang juga apa? Enggak, Elang. Lo salah paham."

"Lo nangis sendirian di kamar mandi. Lo gemeteran. Lo muka lo pucat kayak mayat waktu di apotek—lo pikir gue gak kenal lo, Fin?"

"Stop!" Fina menjerit. "Lo pikir semua tentang lo, ya?! Lo pikir gue segampang itu ngerepotin hidup lo lagi?"

Nafas Elang memburu, wajahnya memerah. Tapi bukan karena marah—karena perih. Ia tahu Fina sedang menolak, bukan karena tak mau jujur. Tapi karena sedang mencoba melindungi dirinya sendiri.

Dan sebelum Fina sempat melangkah lebih jauh, Elang menarik pinggangnya—dan menciumnya.

Dalam sekejap dunia Fina runtuh. Ia mencoba mendorong, tapi tubuhnya lemas. Ciuman itu bukan sembarangan. Itu bukan soal romansa. Itu adalah keputusasaan. Kegelisahan. Rasa ingin tahu yang meledak jadi keberanian nekat.

Saat Elang melepaskan ciumannya, Fina masih memejamkan mata. Air mata jatuh perlahan di pipinya.

Ia terisak.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia tak bisa lagi berbohong.

"Gue… gue beneran hamil, Lang," ucapnya pelan, hampir tak terdengar. "Dan gue takut banget…"

Suara itu pecah di akhir kalimat. Fina jatuh terduduk di lantai, wajahnya tertutup kedua telapak tangan. "Gue gak tahu harus apa. Gimana bilang ke Mama. Gimana jalanin semua ini sendiri."

Elang ikut berlutut di hadapannya. Ia tak berkata apa-apa. Ia hanya memeluk Fina. Erat. Seolah berusaha menahan dunia agar tak runtuh lebih dalam lagi.

Di antara isak tangis dan dada yang berguncang, Fina akhirnya membiarkan dirinya menangis sepuasnya dalam pelukan orang yang pernah—dan mungkin masih—ia cinta.

Dan di malam yang sunyi itu, satu kenyataan menyakitkan telah lahir. Tapi untuk pertama kalinya juga, Fina tak merasa sepenuhnya sendirian.

***

Pusinggg mikirin plotttt

ME OR US (COMPLETED) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang