29. Gairah

346 5 0
                                        

Dan jauh di tempat lain, Fina berjuang mempertahankan sisa kesadarannya di ranjang rumah sakit yang dingin—sendirian, dengan nyawa kecil yang terus ia lindungi, bahkan saat semua ingin merenggutnya.

🍂🍂🍂

Pintu sudah tertutup. Suara mobil perlahan menjauh dan menghilang di tikungan. Tapi dada Isti justru makin sesak. Ia berdiri di ruang tamu dalam diam yang memekakkan. Lampu masih menyala, tapi rumah itu terasa lebih dingin daripada biasanya.

Entah kenapa, tatapan Fina tadi terasa lain. Pelukannya terlalu cepat. Kata-katanya terlalu rapi untuk anak yang katanya “cuma mau diajak bicara soal Elang”. Dan ekspresinya… bukan wajah anak yang tahu ia akan kembali dengan tenang.

Isti melangkah pelan ke ruang tengah, menatap kursi tempat Fina tadi duduk. Di atas meja, gelas teh Fina belum disentuh. Masih utuh, masih dingin. Sama seperti kegelisahan Isti yang kini makin membeku di dadanya.

Tangannya gemetar saat meraih ponsel. Ia membuka kontak dan menggulir ke bawah—mencari nama yang sudah lama tak dihubunginya: David (🇬🇧 UK).

Teman satu kerja Fina di kafe dulu.  Anak laki-laki baik yang pernah hampir jadi bagian keluarga, sebelum dia memutuskan kuliah ke luar negeri. Tapi sejak dulu, Isti tahu, David selalu jadi tempat Fina bercerita. Kalau bukan dirinya, pasti David.

Isti menekan tombol panggil.

Nada sambung terdengar tiga kali sebelum suara laki-laki menjawab, sedikit kaget.
“Halo? Tante Isti? Wah, ini kejutan banget…”

“David…” suara Isti pelan, tercekat. “Maaf Tante ganggu. Kamu sibuk?”

“Enggak, enggak. Ada apa, Tante? Fina baik-baik aja, kan?”

Isti terdiam sejenak. Nafasnya dalam, menahan tangis yang sudah mengendap sejak Fina pergi.
“Itu yang Tante nggak tahu, David. Fina aneh belakangan ini. Sering diam, mukanya pucat. Hari ini dia pingsan, katanya kecapekan. Tapi… tatapan dia, cara dia senyum… semua itu nggak kayak biasanya.”

David langsung serius. “Ada yang terjadi, ya?”

“Malam ini,” suara Isti mulai bergetar, “ada dua pria datang. Ngaku dari pihak ayahnya Elang. Mereka jemput Fina. Katanya cuma mau diajak bicara. Tapi Fina... dia gak bilang apa-apa. Dia cuma peluk Tante, terus pergi. Tante gak tahu mereka bawa dia ke mana.”

David terdiam di seberang. Hanya suara napasnya yang terdengar.

“Dan besok Tante harus berangkat ke Bali, David. Harus tinggal di sana. Tapi Fina… anak Tante satu-satunya… malah dibawa pergi kayak gini.” Suara Isti pecah akhirnya. “Tante takut. Perasaan Tante gak enak banget.”

David menjawab pelan tapi pasti.
“Aku akan cari dia, Tante. Aku akan urus. Kirimin aku semua info yang Tante tahu. Nama pria-pria itu, plat mobil, apapun.”

Isti mengangguk cepat, meski David tak bisa melihat. “Terima kasih, Nak…”

Sambungan berakhir, dan Isti hanya bisa duduk di sofa. Matanya menatap pintu yang tadi menelan Fina dalam diam.
Ia berdoa dalam hati.
“Tolong jaga anakku… Siapapun kamu yang mendengarkan.”

Sementara itu, ribuan kilometer jauhnya, David sudah duduk di depan laptop, membuka semua kontak yang ia punya. Fina mungkin jauh. Tapi ia tidak akan membiarkan cinta pertamanya menghadapi semua ini sendirian.

***

Lampu rumah sakit itu putih menyilaukan. Hening, steril, dingin seperti tak mengenal belas kasihan. Fina menuruni mobil dengan langkah gemetar, didampingi kedua bodyguard yang membukakan pintu tanpa suara.

Ia tidak tahu rumah sakit apa ini. Bukan tempat umum. Tak ada nama di dinding, tak ada pasien lalu-lalang. Hanya lorong-lorong putih panjang, dijaga orang-orang berseragam dengan wajah tanpa ekspresi.

Fina menggenggam ponselnya di dalam saku, mencoba lagi menghubungi Elang. Tapi sama seperti sebelumnya, tak ada jawaban.

Dan yang lebih menyesakkan—ia bahkan tidak tahu kalau ponselnya diam-diam sudah di-jammed sejak masuk ke dalam gedung.

“Silakan masuk,” ujar seorang wanita berseragam medis dengan senyum plastik yang tak sampai ke mata. Fina dibawa ke ruangan berbau disinfektan kuat, dengan alat-alat dokter yang membuat bulu kuduknya berdiri.

“Ini... tempat apa?” tanya Fina pelan, nyaris tak bersuara.

“Tempat yang aman untuk menyelesaikan sesuatu,” jawab wanita itu sambil membuka map. “Bapak Alexander tidak ingin anak itu dilahirkan. Dan semuanya akan beres malam ini juga.”

Fina memucat. Tangannya langsung melindungi perutnya secara refleks. “Tidak! Tidak, aku—aku nggak mau!”

Tapi dua perawat masuk, mencoba menenangkan. “Jangan melawan. Ini prosedur cepat. Tidak menyakitkan. Demi kebaikanmu juga.”

Fina menjerit, mencoba mundur. “Kalian gila! Kalian nggak bisa seenaknya—!”

Namun tubuhnya lemas. Entah karena syok atau karena cairan infus bening yang sudah diam-diam disuntikkan saat ia tak sadar. Pandangannya mulai kabur, tapi pikirannya terus melawan.
Elang... tolong... aku...”

Sementara itu, di sisi kota lain, Elang duduk di kamar hotel mewah. Sesil tersenyum manis di hadapannya, menuangkan wine ke gelasnya sendiri.

Kamar itu dipenuhi aroma parfum mahal dan musik lambat yang nyaris menipu suasana.

Tanpa sepengetahuan Elang, pil kecil telah dilarutkan Sesil ke minumannya. Obat perangsang ringan, cukup untuk mendorong tubuh laki-laki kehilangan kendali.

“Mau coba minum?” Sesil menyodorkan gelas.

Elang menolak. Tapi ia sudah cukup minum tadi, cukup untuk mulai merasakan detak jantungnya naik, tubuhnya menghangat. Padahal hatinya masih beku. Masih marah. Masih hancur karena Fina yang hilang tanpa kabar.

Sesil perlahan naik ke pangkuannya. Membisikkan nama Elang di telinga sambil membuka kancing bajunya satu per satu. “Lupakan dia malam ini. Kamu hanya milik aku sekarang.”

Elang tak menjawab. Tubuhnya bergerak mengikuti rangsangan yang mulai membutakan logika, tapi matanya kosong. Di bayangannya, bukan Sesil yang ada di depan mata…

Tapi Fina.

Fina yang tertawa kecil saat mereka dulu belajar bersama. Fina yang mengeluh sambil tidur di bahunya. Fina yang memeluknya saat malam hujan dan dunia terasa berisik.

“Fina...” desisnya tanpa sadar.

Sesil membeku. Tangannya berhenti di dada Elang. “Apa?!” wajahnya langsung memucat marah. “Kamu serius barusan nyebut nama perempuan itu?!”

Elang tersentak, tapi terlambat. Obat dalam tubuhnya membuatnya goyah, kesadarannya terombang-ambing.
“Aku… aku nggak tahu…” gumamnya, frustasi.

Sesil melempar gelas ke dinding. Matanya membara.
“Kamu tidur sama aku, tapi mikirin dia?! Dasar anjing!”

Elang memegangi kepalanya. Tubuhnya panas, tapi pikirannya penuh dosa dan kekacauan.

Tapi Sesil tak peduli ia malah mencumbui Elang dengan kasar dan membara melepaskan nafsunya yang terpendam dari dulu pada Elang dan ia bersumpah akan meninggalkan seluruh jejak percintaan mereka ditubuh Elang.

Dan jauh di tempat lain, Fina berjuang mempertahankan sisa kesadarannya di ranjang rumah sakit yang dingin—sendirian, dengan nyawa kecil yang terus ia lindungi, bahkan saat semua ingin merenggutnya.

***

ME OR US (COMPLETED) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang