26. Pertunangan

228 5 0
                                        

"Aku gak tahu kamu bakal datang, Fin. Ini bukan maunya aku."

🍂🍂🍂


Sepanjang acara, mata Elang terus mencuri pandang ke satu titik di sudut ruangan—tempat Fina berdiri kaku, seperti asing di tengah rumah yang penuh wajah tersenyum.

Ia ingin menghampiri. Ingin menarik tangan gadis itu dan berbisik di telinganya "Aku gak tahu kamu bakal datang, Fin. Ini bukan maunya aku."

Tapi setiap kali ia mencoba bergerak, lengan Sesil menggamit erat lengannya—membuat langkahnya kaku seperti boneka pajangan.

"Jangan aneh-aneh malam ini, Lang," bisik Sesil di sela tawa manisnya kepada tamu.

Jangan aneh-aneh?

Elang merasa dirinya sudah jadi keanehan sejak tadi. Hatinyalah yang aneh—karena mencintai satu perempuan, tapi berdiri di sisi yang lain. Bibirnya terasa kaku. Bahkan senyum yang dipaksakan pun terasa seperti penghianatan.

Fina tetap berdiri, berusaha ikut tersenyum saat dilirik oleh beberapa tamu, padahal dadanya seperti dihantam palu besar. Ia belum sepenuhnya paham. Tapi rasa itu—rasa yang muncul saat melihat Elang mengenakan kemeja formal, berdiri di sisi Sesil yang anggun dengan gaun selutut—itu cukup jadi petunjuk.

Dan ketika acara mulai resmi, semua topeng hancur.

"Acara malam ini," ujar pembawa acara dari mikrofon, "merupakan simbol pengikat dua keluarga besar—sebagai pertunangan Elang dan Sesil."

Kepala Fina menoleh cepat.

Matanya membesar. Napasnya tercekat.

Dan di depan matanya, Elang—lelaki yang semalam menuliskan kata "Aku masih di sini" di secarik kertas kecil, kini berdiri, tersenyum dipaksa, dan menggenggam tangan Sesil.

Tangan Fina gemetar. Seluruh tubuhnya mendadak dingin. Seolah darahnya berhenti mengalir. Dunia di sekelilingnya bergerak lambat, tapi rasa sakit di dadanya datang cepat—seperti tamparan bertubi-tubi yang tak bisa ia elak.

Mual. Hebat.

Tubuhnya goyah. Ia buru-buru menutup mulut, menunduk, dan melangkah mundur di antara keramaian yang kini teralihkan oleh bunyi lirih Fina yang menahan muntah.

Elang langsung panik. Pandangannya menyapu cepat ke arah suara. Matanya membelalak saat melihat sosok yang terlalu ia kenal membungkuk lemah di sudut ruangan.

"Fina?"

Langkahnya ingin segera berlari, tapi tangan Sesil mencengkeram lengan bajunya.

"Jangan. Ini acara kita, Lang." bisik Sesil tajam, tetap tersenyum ke arah tamu. "Elang, please.."

Namun Elang tak sanggup bergerak. Takut. Bingung. Terluka. Dan di tengah keraguannya, seseorang mendahuluinya—seorang pria muda, dengan wajah khawatir, sepupu jauhnya, Kai.

Kai tak tahu siapa Fina. Tapi sorot matanya penuh iba saat melihat gadis itu bergetar dan terhuyung. Dengan sigap, ia meraih bahu Fina.

"Eh, kamu gak apa-apa?" tanyanya cemas.

Fina hanya bisa menggeleng sebelum tubuhnya ambruk. Kai menangkapnya cepat, memeluk tubuh ringan itu dengan kedua tangan.

"Mobil! Ada yang bisa bantu buka pintu mobil?!" seru Kai sambil membopong Fina keluar.

Semua yang hadir hanya terpaku, beberapa bergumam, sebagian sibuk mengambil ponsel. Elang tetap berdiri kaku di tengah ruangan, matanya mengikuti Kai yang membawa pergi Fina. Ingin berlari. Ingin meneriakkan namanya. Tapi mulutnya membeku.

Sesil tetap berdiri di sampingnya. Tegak, tersenyum, namun genggamannya di lengan Elang justru makin erat. Seperti tali yang mengikat, membelenggu semua langkah Elang.

Dan dalam diam yang menggema itu, pertunangan tetap berlanjut. Musik kembali dinyalakan. Tamu-tamu bersulang.

Sementara itu di luar, Kai dengan panik meletakkan Fina di kursi belakang mobilnya. Gadis itu masih tak sadar, wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi pelipisnya. Kai menghela napas, lalu menyalakan mesin mobil.

"Gue gak tau lo siapa." gumam Kai pelan sambil melirik ke spion, "Tapi lo gak pantas sakit sendirian."

Mobil pun melaju ke arah rumah sakit, menjauh dari gedung yang penuh gemerlap namun menyisakan luka.

Dan di dalamnya, Elang berdiri hampa, menggenggam jari manisnya yang kini terikat cincin, namun hatinya tertinggal… bersama Fina yang tak sadarkan diri.

***

Lampu ruangan UGD menyala terang. Suara alat medis berdengung pelan, aroma antiseptik menusuk hidung. Fina terbaring di ranjang, wajahnya pucat dan masih lemah, mata yang sesekali berkedip tapi belum sepenuhnya sadar.

Kai berdiri di samping ranjang, tangannya menggenggam erat pegangan ranjang, wajahnya penuh kecemasan. Ia tak tahu siapa gadis ini, tapi rasa iba dan tanggung jawab membuatnya bertahan di sisi Fina.

Seorang dokter muda masuk, membawa berkas dan alat-alat medis. Matanya penuh perhatian saat menatap Fina.

"Bagaimana kondisinya?" tanya Kai, suaranya serak.

Dokter itu menatap Kai dan menjawab dengan tenang, "Pasien mengalami dehidrasi dan pingsan akibat mual hebat yang berkepanjangan. Kami akan melakukan beberapa pemeriksaan tambahan, termasuk tes darah dan USG untuk memastikan kondisi dalam perutnya."

Kai mengernyit bingung, "USG? Maksudnya?"

Dokter menghela napas, "Ada indikasi pasien mungkin sedang hamil. Namun, kami harus memastikan dengan pemeriksaan lebih lanjut. Untuk saat ini, yang paling penting adalah menjaga kestabilan kondisi pasien dan memantau tanda-tanda vitalnya."

Kai menatap Fina dengan campuran khawatir dan bingung, belum tahu siapa gadis itu dan apa hubungannya dengan keluarganya.

"Saya akan beri tahu jika ada perkembangan, dan kami juga akan berusaha menghubungi keluarga pasien jika memungkinkan," kata dokter menenangkan.

Kai mengangguk pelan, "Terima kasih, Dokter. Aku akan tunggu di sini."

Dokter keluar ruangan, meninggalkan Kai yang masih terpaku, merasa bertanggung jawab pada sosok yang baru dikenalnya itu.

Fina masih terbaring lemah, napasnya berirama tapi sesekali terlihat menggigil. Di dalam hatinya yang rapuh, ia hanya berharap malam buruk ini segera berlalu, dan bahwa seseorang—entah siapa pun itu—akan tetap ada untuknya dan bayi yang sedang ia kandung.

ME OR US (COMPLETED) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang