31. Mencari

241 6 0
                                        

Soekarno-Hatta International Airport – 09:12 WIB

David baru saja keluar dari ruang kedatangan, masih menghela napas berat setelah perjalanan panjang dari London. Ponselnya bergetar, notifikasi pesan masuk dari Isti.

Ia membuka pesan itu dengan jantung berdebar.

David… Tante harus segera berangkat ke luar kota, tiket sudah dibeli jauh-jauh hari dan tidak bisa menundanya lagi. Tante belum menemukan Fina, dan juga tidak tahu di mana dia sekarang. Tolong jaga dia dan carikan dia, Tante titip Fina kepadamu.”

David menatap layar ponsel dalam diam. Tidak ada informasi tentang rumah sakit atau lokasi pasti.

“Titipkan semuanya padaku, Tante,” ucapnya lirih, “Aku akan cari dia… walau aku tidak tahu mulai dari mana.”

Ia menyalakan aplikasi peta dan mulai mengetik beberapa nama tempat yang berhubungan dengan keluarga Wijaya, berharap ada titik terang.

Namun ia tahu, pencarian ini baru saja dimulai. Dan kegelapan masih menyelimuti

***

Matahari pagi menyengat saat Elang menginjak gas motor dengan penuh amarah dan kecemasan. Pikiran kacau, hatinya bergejolak antara rasa bersalah dan takut. Ia terus mencoba menghubungi Fina, tapi tak satu pun panggilannya dijawab.

“Fina... di mana kamu? Kenapa gak angkat?” gumamnya dengan suara berat.

Satu-satunya tempat yang bisa ia pikirkan adalah rumah sakit rahasia keluarga Wijaya—tempat yang selama ini tersembunyi dan dijaga ketat oleh ayahnya, Alex.

Dengan napas yang tersengal-sengal, Elang memacu motornya melewati jalanan Jakarta yang mulai padat.
Angin pagi menerpa wajahnya yang penuh luka batin.

Tiba di depan gerbang rumah sakit kecil di Jl. Pangeran Jayakarta, Elang berhenti sejenak. Papan nama rumah sakit itu sederhana, tanpa kemewahan.

“RS MADEFAKA,” bisiknya pelan.

Langkahnya cepat masuk ke dalam lobi yang sepi dan dingin. Ia segera menemui resepsionis, menatapnya dengan tatapan penuh harap dan tegas.

“Fina ada di sini?” tanyanya.

Resepsionis menatap dingin, lalu memanggil seorang perawat. Perawat itu mendekat dan berkata,

“Pasien sedang dalam perawatan khusus, Pak. Kami tidak bisa memberitahu siapa pun.”

Elang menggigit bibir, menahan emosi. “Gue harus ketemu dia. Ini penting.”

Perawat menggeleng. “Aturannya begitu, Pak. Hanya keluarga pasien yang terdaftar yang boleh mendapat informasi.”

Elang menatap dalam-dalam ke arah perawat. “Gue Elang, anak Alex Wijaya.”

Perawat itu menahan sebentar, lalu berkata dengan suara pelan namun tegas,

“Kalau Bapak benar, saya bisa coba bantu. Tapi Bapak harus siap menghadapi segala kemungkinan.”

Elang mengangguk mantap. “Gue hanya ingin tahu keadaan Fina.”

Dengan ragu, perawat membuka pintu dan memberi isyarat agar Elang masuk. Namun, langkah Elang diawasi ketat oleh petugas lain.

Elang melangkah cepat mengikuti perawat, hatinya penuh harap dan gelisah. Namun, saat mereka melewati lorong sempit yang remang, dua pria besar berpakaian hitam muncul dari bayangan.

Sebelum Elang sempat bereaksi, salah satu dari mereka langsung meraih dan membekap mulutnya dengan kain basah yang berbau tajam.

“Diam!” bisik pria itu dengan suara kasar, sambil menahan Elang agar tidak bergerak.

Elang berusaha melawan, tapi tangan-tangan kuat itu menahannya. Kain berbau obat bius itu segera menguasai kesadarannya. Matanya berkelip berat, tubuhnya melemah.

“Fina… tunggu aku…” bisiknya lemah sebelum tubuhnya jatuh tak berdaya.

***

ME OR US (COMPLETED) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang