25

100 11 5
                                        

Setelah memberi arahan, Weir langsung menarik tangan Korn agar mengikuti dirinya dan Korn hanya pasrah di tarik.

Weir hanya membawa mereka ke kamar sebelah, memang kebiasaannya ia memesan 2 kamar di saat seperti ini, satu untuk menjebak mangsa, satu lagi jika ia ingin membersihkan diri atau istirahat.

Setelah menutup pintu, ia duduk di sofa dan Korn duduk di seberangnya. Hanya hening, Korn tidak tahu ingin mengatakan apa saat ini.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Ujar Weir pada akhirnya. Ia penasaran apa yang di lakukan Korn di sini.

"Aku hanya mengikuti instingku ke sini, aku ingin bertemu dengan dirimu." Ujar Korn menjelaskan sejujurnya.

"Untuk apa kau bertemu denganku? Kita sudah tidak ada hubungan lagi" ujar Weir datar, tangannya bersedikap dada dengan kaki yang bersilang.

"Weir.. jangan katakan seperti itu. Ini semua hanya salah faham! Aku dengan Fah tiada hubungan apa-apa" ujar Korn dengan yakin, ia menatap Weir dengan bersungguh-sungguh.

"Salah faham apanya?! Semuanya sudah terbukti dengan jelas!"

"Aku bisa menunjukkan CCTV kamarku, kau bisa mendengar perbualan tu sendiri dan apa yang aku lakukan" ujar Korn, ia dengan cepat mengeluarkan ponselnya dan mencari rakaman yang di maksudkan.

Untungnya di rumahnya memang ada CCTV yang merakam suara sekali. Setelah mendapatkannya, ia langsung memberikan ponselnya pada Weir.

Weir menerimanya dan melihat dengan seksama sehingga rakaman CCTV itu tamat. Weir mengembalikan ponsel tersebut pada Korn.

"Jadi bagaimana? Benarkan aku tidak bersalah di sini?! Ini semua salah faham. Aku mengira Fah hanya membalas hal pekerjaan, itu sebabnya aku mengiyakan sahaja ucapannya." ujar Korn menatap Weir dengan serius.

"..."

"Kita tidak benaran putuskan?" ujar Korn, kini menatap Weir yang hanya terus diam.

Weir menatap Korn tajam. Ia tahu rakaman itu pasti asli, tapi ia tetap merasa marah mengingat kejadian pagi tadi.

"Aku bukan lelaki yang bisa kau tarik-ulur semaumu, Korn," gumamnya pelan tapi tegas, membuat dada Korn terasa sesak.

"Aku tahu... Tapi aku tak pernah main-main denganmu," jawab Korn, suaranya sedikit bergetar.

Weir terdiam seketika dan memandang ke arah Korn dengan serius, "Setelah kau bertemu orang tuaku, kau tahu kan bagaimana latar belakang aku?"

Korn mengangguk, tentu sahaja ia tahu. "Ayahmu, mempunyai business yang besar dan koneksi yang kuat"

"Ada satu lagi yang kau perlu tahu" ujar Weir serius, ia perlu memberitahu ini sebelum mereka makin serius berhubungan.

"Apa?"

"kamu tahu beberapa gruop mafia, pembunuhan upahan dan lain-lain kan?"

"Ya. Seperti yang kamu tahu aku mempunyai musuh business, jadi aku tahu sedikit tentang hal itu"

"kamu tahu Rojirat syndicate?"

"Tahu, seingatku. Itu antara gruop mafia yang paling di takuti" ujar Korn cuba mengingat apa yang ia tahu.

"Aku ketua mereka" ujar Weir, serius. Seketika suasana menjadi hening.

"Kamu serius?!" ujar Korn, ia seakan tidak percaya ketua gruop mafia yang sering ditakuti babyak orang adalah kekasihnya saat ini.

"Iya. Ingat saat kita di serang dahulu dan mereka lari?"

Korn hanya mengangguk, tentu sahaja ia mengingat kejadian saat itu.

MINETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang