Weir keluar dari bilik ganti lebih dulu, sudah lengkap dengan jasnya yang membalut tubuhnya.
"Phi Weir!" Ujar Kongpop sambil tersenyum lebar, melangkah mendekat. Sedangkan Arthit hanya diam mengikuti sang kekasih.
"Owh, Kong? Kamu juga datang?" ujar Weir membalas senyuman Kongpop.
"Tentu sahaja! Kenapa phi bisa menikah tiba-tiba hari ini?" Tanya Kongpop penasaran.
Semalam baru sahaja Weir menceritakan konflik yang ia hadapi dengan Korn dan tiba-tiba hari ini mereka sudah mahu menikah sahaja. Sangat mengejutkan Kongpop.
Belum sempat Weir menjawab, Korn keluar ruangan ganti dengan jas hitam menempel pas di tubuhnya, kemeja putihnya terbuka beberapa kancing dan sengaja belum memasang dasi. Lehernya masih sengaja dibiarkan terbuka karena sebentar lagi harus diolesi concealer tipis untuk menutupi bekas-bekas merah yang menjalar di kulit.
korn langsung menjadi pusat perhatian semua yang berada di situ, terutama leher yang dipenuhi bekas merah langsung jadi sorotan semua orang.
Kongpop kaget, tapi buru-buru menoleh ke arah lain dengan wajah memerah.
Arthit, sebaliknya, menatap Korn lama. Matanya menyipit, sudut bibirnya terangkat sinis.
"Pantas saja disuruh nikah buru-buru hari ini..." ucapnya datar, tapi penuh sindiran. "Karya Phi Weir lumayan kelihatan, tuh."
Korn refleks menegang, wajahnya merona. Dengan kikuk ia mengangkat tangan, mencoba menutupi bagian leher yang penuh jejak itu, tapi tentu saja tak bisa menutupi semuanya.
Weir segera maju, berdiri di depan Korn seolah ingin melindunginya dari tatapan. "Arthit!" serunya keras. "Mulutmu itu—jaga!"
Arthit malah menyilangkan tangan di dada, tidak gentar sama sekali. "Kenapa? Aku cuma bilang fakta. Kalau nggak ada jejak begituan, mungkin kalian nggak bakal dipaksa nikah hari ini."
Weir mendengus, matanya menyipit. "Kalau gitu kamu juga harus dinikahin sekarang. Bukannya sering sekamar sama Kong?"
Kongpop langsung panik. "P-phi! Jangan ngomong sembarangan begitu!" serunya cepat-cepat, wajahnya merah padam.
Arthit terkekeh sinis, tapi pipinya juga merona. "Sekurangnya aku nggak nerkam anak orang sembarangan."
"Apa?!" Weir hampir melangkah maju lagi kalau saja Korn tidak buru-buru menarik ujung jasnya, menahannya.
Suasana makin panas sampai Singto dan Krist muncul dari arah pintu.
"Apa ini? Kalian berdua ribut?" suara Krist terdengar dingin.
Sekejap ruangan jadi hening. Weir dan Arthit kompak menoleh, wajah mereka sama-sama cemberut tapi tak berani membantah di depan orang tua.
Singto menghela napas berat, lalu menoleh pada Korn. "Korn, cepat bersiap. Concealer dulu, lalu kancingkan baju dan pasang dasi. Kalian sudah di tunggu."
Korn hanya mengangguk, lalu berjalan pelan menuju meja rias. Jemari mengambil spons kecil, lalu membuka concealer dan mula mengusap concealer tipis di lehernya, menutupi bekas-bekas merah dengan telaten.
Setelah itu, ia meraih dasi yang masih terlipat di meja, tapi weir mengambil terlebih dahulu.
"Jangan gerak," gumam Weir pelan. Ia menunduk, memasangkan dasi itu ke kerah Korn dengan hati-hati. Jemarinya lincah, wajahnya serius, dan tatapannya tak lepas dari wajah Korn.
Weir merapikan simpul dasi dengan rapi, lalu menepuk bahu Korn pelan. "Selesai. Kamu makin ganteng, tau nggak?" bisiknya, sengaja agar hanya Korn yang mendengar.
Pipi Korn makin merah, ia buru-buru menunduk lebih dalam. "Jangan ngomong sembarangan..." gumamnya lirih.
Arthit yang dari tadi mengamati langsung mendengus. "Halah, baru juga pakai dasi udah lebay. Nikah aja belum, udah kayak suami-istri."
KAMU SEDANG MEMBACA
MINE
Fiksi Penggemar[SEQUEL : MAFIA BOSS] Kisah Weir anak pertama singto dan krist yang entah bagaimana jatuh cinta dengan seseorang walaupun awalnya ia menolak mentah-mentah perasaan tersebut . . . P/s : ada sedikit singtokrist dan arthitkongpop . . . ⚠️WARNING⚠️ KOR...
