33

922 83 13
                                        


Pria paruh baya yg di panggil shifu itu berjalan ke arah pondok kecil yg ada di samping kuil.

Xiao zhan mengikutinya dari belakang.

Setelahnya, keduanya duduk dengan arah pandang yang sama tertuju pada hamparan hijau lembah gunung yg dingin.

"Dulu, pernah ada seorang pria yg datang ke sini. Dia sama seperti mu, datang dalam keadaan yg pucat dan kosong. Aku tidak bisa menebak seberapa besar masalah yg dia hadapi. Aku tidak banyak bertanya. Setiap hari pria itu hanya duduk di dalam kamar merenung, tidak ingin keluar bahkan hanya untuk mendengarkan dharma yg aku ajarkan. Kami membiarkannya, dia mungkin butuh penyesuaian dengan apa yg telah terjadi padanya juga tempat ini. Kami tak ingin menambah beban pikirannya, dan membiarkannya untuk sembuh sesuai dengan apa yg dia inginkan tanpa paksaan apapun-"

"... Kemudian lambat laun pria itu mulai bergerak dari rasa terpuruknya, dia mau bersosialisasi dengan kami, dia mau mendengarkan dharma yg aku ajarkan, dan tatapannya tidak kosong lagi. Suatu hari pria itu datang menemui ku diam-diam. Dia tidak ingin murid lain melihat atau mendengar apa yg dia rasakan saat itu, seperti ruang privasi. Tentu saja aku menerimanya, aku dengan senang hati mendengarkan kisahnya" Shifu tersenyum.

Xiao zhan menoleh ke arah shifu di sampingnya, "apa dia menceritakannya pada mu shifu? Apa dia jujur tentang semua kisahnya?"

Shifu mengangguk, "ya, dia menceritakannya pada ku, dia mencintai seseorang begitu dalam, tapi di lain hal dia juga menyukai orang lain, dia ingin meraih dua orang dalam satu tangan berpikir bisa melindungi keduanya sekaligus, tanpa dia tahu dia justru sedang menyakiti mereka semua"

"Ah, jadi pria itu berselingkuh shifu?" Tebak xiao zhan.

Shifu itu menggeleng, "tidak juga, dia jujur saat itu, tidak ada perselingkuhan sama sekali, sebenarnya dia hanya bodoh" Shifu tertawa kecil.

"Bodoh? Ku rasa pria itu bukan hanya bodoh, tapi juga egois shifu" Telaah zhan.

Shifu mengangguk, "ya..ya, kau benar nak zhan, dia juga egois, dan ke egoissannya itulah yg memakan semua isi otaknya. Dia mengatakan padaku, dia ingin satu istri yg dia nikahi baik-baik saja di dalam rumah tangga mereka, tapi di sisi lain dia juga ingin menjaga orang yg sangat penting baginya, sebenarnya tujuannya tidak buruk, hanya saja dari cara dia berpikir yg salah"

Xiao zhan benar-benar tidak mengerti dengan keterangan gurunya, "apa alasan shifu menyebut itu tidak buruk? Dia mencoba membelah kepercayaan istrinya"

"Kau juga benar, tapi dia juga tidak salah. Dengar nak, tidak ada kesalahan saat kita menyukai seseorang, yg salah adalah cara kita yg tidak bijak menyikapinya. Seharusnya saat dia tahu dia telah beristri, dia membatasi perasaannya dengan orang lain, bukan malah tenggelam di antara keduanya. Jika hadir orang baru yg datang menyelamatkannya dalam badai, apakah itu adalah kesalahan sang penyelamat atau justru si pria yg sengaja ingin tenggelam? Bertemu orang baru dan jatuh cinta sekali lagi itu adalah dua hal yg begitu tipis, kita mungkin tak bisa mencegah hati, tapi setidaknya kita masih punya akal. Untuk mencegah semua itu terjadi, kau pikir apa yg haruslah mereka lakukan?"

Xiao zhan tampak berpikir keras, tapi kemudian dia menyerah dan menggeleng.

Shifu tersenyum, "aku bertanya pada pria itu, jika hanya punya satu pilihan di tangan mu, mana yang akan kau pilih? Dia menjawab, aku tidak tahu. Dia menunduk sekali lagi, aku tidak bisa menghakimi orang yg jatuh cinta, aku hanya bisa memberikannya saran saja."

"Jadi, apa yg terjadi setelahnya?" Xiao zhan penasaran.

Shifu menghela nafasnya, "aku katakan padanya, kau memang punya dua tangan untuk sama-sama menggenggam sesuatu, tapi ingatlah bahwa lambat laun tangan mu sendiri yg akan sakit karena lelah, jika kau hanya punya satu, maka satu tangan kosong mu yg lain akan berguna untuk memeganginya apabila lelah. Intinya, jangan pernah serakah dalam hidup, bahkan jika hati mu menginginkannya, akal mu juga harus berpikir, kau tidak hanya akan menyakiti satu, tapi akan ada dua yg sakit, dan itu tidak bisa di sebut dengan cinta nak, kau hanya menyakiti mereka semua, karena itu lepaskan salah satunya, setidaknya kau menghilangkan rasa sakit untuk keduanya sebelum terlambat"

Xiao zhan mengangguk mengerti, "dia harusnya melakukannya kan? Melepaskan satu?"

Shifu mengangguk lagi, "ku rasa dia melakukannya, setelah sehari dia turun gunung, tapi kembali lagi pada hari ke 3"

"Apa pria itu kembali untuk berterima kasih? Karena berhasil melepaskan salah satu?" Cecar xiao zhan.

Shifu mengangkat bahu, "ku rasa tidak, dia kembali dengan tubuh bergetar, dia katakan padaku bahwa mereka bertiga berada dalam kekacauan yg besar, orang yg ingin dia lepaskan enggan untuk pergi, sedang orang yg ingin dia jaga justru hendak pergi darinya, dia terlihat begitu frustasi, salah satu dari keduanya bahkan ingin mengakhiri hidupnya" Terang shifu.

Xiao zhan tersentak, "apakah sampai sejauh itu?"

Shifu mengangguk, "aku mengatakan padanya, kau tidak bisa terus lari nak, bahkan jika itu menyakitkan kau harus menyelesaikannya sekarang juga, luka menganga jika terus di abaikan akan semakin membusuk, tapi jika kau menabur obat di atasnya sekalipun itu sakit lambat laun pasti akan kering juga"

Xiao zhan mengerti saat ini.

"Jadi-" Shifu melanjutkan ".. Bagian yg paling penting ingin ku ceritakan padamu adalah, sepahit apapun keadaan mu, jangan pernah melarikan diri nak, sekalipun kau berada di tempat ini selama 10 tahun kedepan, jika kau tetap membiarkan semua luka mu menganga maka itu akan sia-sia. Justru akan busuk pada akhirnya, jadi seperti pria itu, hal yg sama akan ku sarankan pada mu, kembalilah, semakin kau jauh berlari maka hanya rasa lelah yg akan kau rasakan tanpa ada jalan keluar. Nak, berbicaralah dengan kakak mu, jika itu yg menjerat hati mu hingga kau bersembunyi di sini, maka selesaikanlah secepat mungkin, hidup ini bukan cuma tentang hari ini dan besok, tapi masih ada hari-hari berikutnya yang tidak bisa kau hindari. tempat ini hanya membuatmu tenang, tapi tidak menyembuhkan mu yg terus bersembunyi, turunlah nak aku percaya kau akan sembuh sepenuhnya" Shifu menepuk pundak xiao zhan pelan.

Sudut mata xiao zhan basah, apa yg di katakan guru semuanya benar, dia tidak datang ke tempat ini untuk sembuh, tapi hanya untuk berlari dan bersembunyi.

Kakak perempuannya, adalah satu orang yg harus dia hadapi, mereka perlu berbicara sekali lagi, berbicara dari hati ke hati agar dua darah tidak berubah menjadi batu, maka sekalipun perlu api panas yg mencairkannya harus xiao zhan hadapi untuk mereka semua.

Setelah shifu pergi, xiao zhan semakin dalam berpikir. Sebenarnya, bukan wang yibo saja yg bersalah tapi juga dirinya yg membiarkan semua masalah ini berlarut-larut. Dan semua ini harus xiao zhan rubah, harus xiao zhan hadapi sepahit apapun itu. Sebenarnya obat dari semua penyakit mental yg dia miliki, ada di tangannya sendiri, dan hanya menunggu xiao zhan menegaknya dengan sadar.

.
.
.

Tak bisa di pungkiri hidup itu memang berputar seperti roda. Dulu dia mencintai seorang pria sepenuh hati, mengejarnya bahkan saat pria itu enggan bersamanya lagi sekalipun ada seorang anak yg akan hadir di antara mereka.

Saat ini justru dirinya yg di hujani cinta oleh orang lain yang mengtakan bahwa dia menerima semua yg ada padanya dan bersedia memberinya banyak cinta.

Sungguh dia tidak perlu mengemis lagi, cinta yg tulus hadir padanya tanpa di minta. senyum xuan lu mengembang setiap saat, mungkin ini adalah penawar yg dewa takdirkan untuk menebus semua rasa sakitnya. Dia memang bahagia, tapi ada satu titik kosong di hatinya yang masih sepahit empedu yg sulit terurai. Xuan lu tak ingin menyebutkan itu saat ini, sungguh.

Setelah pria baik itu mengantarkan xuan lu pulang, mobilnya bergerak menjauh pergi. Xuan lu menatap mobil itu hingga keluar dari gerbang, namun saat dia berbalik, seorang pria lain yang begitu di kenalnya juga 'dirindukannya' mungkinkan? Tengah berdiri di depan pintu rumahnya. Sosok yg beberapa tahun ini tidak dia lihat sama sekali berdiri menatapnya dengan mata sembabnya yg begitu pilu.

Xuan lu menghela nafasnya berat bersamaan dengan setetes air matanya yg jatuh hangat di kedua pipinya, bibirnya mengecap ragu sebelum tarikan nafas sesak dia memanggil namanya pelan,, "di-di.."


.
.
.
.
.

Jadi mereka itu sama-sama sakit 🤧🤧

.
.
.

Semoga gak males nulis,, biar cepet Ending☺😇

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 15, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Another SpaceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang