211-220

20 2 0
                                        

211

Jauh di dalam Jurang Tak Terbatas yang kelam, Kuroyodai dan para Dewa Tertinggi lainnya yang tangguh memusatkan pandangan mereka pada Kota Hekiraku. Kota yang dulu megah itu telah sunyi, kini bersinar redup di bawah cahaya lampu yang redup.

"Apa yang baru saja terjadi?" Suara Kuroyodai bergemuruh seperti gunung yang bergeser. Wajahnya yang besar menjulang seperti puncak terjal di kegelapan. "Bahkan aku, yang telah hidup di jurang ini sejak dahulu kala, belum pernah melihat fenomena seperti itu. Apa yang terjadi di dalam kota itu?"

Wakarai dan para Dewa Tertinggi Neraka lainnya terdiam tercengang, ekspresi mereka sama bingungnya. Tak satu pun dari mereka pernah menyaksikan hal seperti itu.

Meskipun Kuroyodai belum pernah meninggalkan jurang itu, yang lainnya seperti Wakarai, Kurorai, dan kerabat mereka adalah keturunan Takamagahara. Meskipun begitu, tak seorang pun dari mereka mampu membayangkan pemandangan di hadapan mereka. Cahaya bulan yang menyinari Jurang Tanpa Batas yang gelap gulita, yang bahkan melahap konsep malam, sungguh tak terbayangkan.

Di seluruh jurang, para iblis berdiri membeku, terguncang hingga ke tulang belulang. Tak seorang pun di antara mereka mengerti apa yang telah terjadi.


Jauh di atas Jurang Tak Terbatas, di alam yang tak terjangkau manusia, langit berkilauan dengan warna, awan tebal bergulung-gulung malas melintasi surga.

Tennin Mikoto, terbalut jubah ungu tua, bersandar di pagar batu menara kastil terapung. Tatapannya terpaku pada pusaran lautan awan di bawah kakinya.

"Gelombang energi apa itu? Kenapa rasanya begitu menggangguku?"

Ekspresinya menggelap karena khawatir. Meskipun kekuatannya luar biasa, ada sesuatu tentang denyut nadi yang samar itu yang membangkitkan rasa takut dalam Kristal Roh Dewa Tertingginya. Sudah berabad-abad, mungkin lebih lama, sejak terakhir kali ia merasakan ketakutan sebesar ini.

Sensasi itu datang dari tempat yang jauh tak terkira, di luar jangkauan penglihatannya, jauh di dalam Yomi-no-Kuni. Ia tak dapat memahami detailnya, hanya riak-riak jauh yang mengusik jiwanya.

Rasa sakit yang tiba-tiba menyayat jiwa Tennin Mikoto. Meskipun tubuhnya muda dan tak terluka, memancarkan vitalitas dan daya tarik, jiwanya masih menanggung luka kekalahan pahit. Tubuh ini, tidak seperti yang pernah ia huni sebagai Putri Kekaisaran yang terluka, utuh, tetapi jiwa di dalamnya tetap retak.

Jiwanya baru saja sampai di Takamagahara, namun luka yang dibawanya begitu dalam dan permanen. Penderitaan yang berkobar di dalam dirinya kini jauh melampaui penderitaan fisik apa pun. Ia hanya bisa gemetar, tak berdaya melawan siksaan yang mencengkeramnya dari dalam.

Setiap kali ia mengingat perempuan yang telah melukainya, amarah menggebu-gebu dalam dirinya. Ia tidak membenci Minamoto no Shimizu, yang tubuhnya telah ia miliki. Objek kebenciannya yang sebenarnya adalah Lily.

Segala yang telah terjadi—setiap kegagalan, setiap luka—berawal dari Lily. Terutama serangan terakhir itu, yang menembus daging Shimizu dan langsung menghantam jiwanya. Penderitaan yang ditimbulkannya tak tertandingi oleh apa pun yang pernah ia alami.

"Entah kenapa, tapi aku punya firasat, sensasi aneh ini pasti ada hubungannya dengan wanita sialan itu. Kagami Lily... Kau lagi, kan? Cih. Aku tahu semua yang perlu diketahui tentang para dewa iblis di Jurang Tanpa Batas. Kau mungkin bisa mengalahkanku dengan bantuan Minamoto no Shimizu, tapi tanpa aku yang menahan para iblis itu, kau takkan pernah bisa lolos dari jurang itu. Mungkin riak yang kurasakan ini adalah tindakan perlawanan terakhirmu. Wanita sepertimu, yang begitu terobsesi dengan kehormatan, mungkin lebih suka mati dengan caranya sendiri. Kuharap begitu. Tapi kalau begitu, aku takkan mendapat kesempatan untuk menghancurkan tubuhmu dan menyiksa jiwamu sendiri. Aku takkan terima itu! Aku sungguh tak bisa."

Gadis Pedang IblisCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang