23. 10%

55 9 2
                                        

"Sen ikut aku yuk?" Sena yang sedang membantu Pak Herman menyiram tanaman mengalihkan pandangannya pada Tio.

"Kemana, mas?"

"Beli bahan buat Pesta ntar malem."

"Pesta?" Sena mematikan keran dan mendekati Tio. "Pesta apa?"

"Pesta buat penghuni rumah ini." Tio terkekeh, menyodorkan helm pada Sena. "Yohan yang mau."

Sena membulatkan mulut tanpa suara. Ia memakai helm dan menaiki motor Tio. "Kenapa ga sama Pak Herman aja?"

"Ma-cet." Tio terkekeh. "Kayak ga tahu aja. Udah naik?"

Sena mengangguk lalu kemudian berkata, "Udah." Keduanya pun melaju menuju supermarket.

Sena melepaskan helm dengan tatapan bertanya.

"Tumben kesini?" Pantas pria itu memakai sepeda motor, jaraknya lumayan jauh dari rumah.

"Nanti juga tahu sendiri." Tio nyengir.

Setelah memilih beberapa jenis daging dan selada, Sena mengikuti Tio menuju section minuman. Rasa penasarannya pun terjawab sudah.

'Pantas saja, wong mau beli ginian toh.' Batin Sena ketika Tio mengambil beberapa jenis minuman beralkohol.

"Yohan yang minta." Tio menjelaskan tanpa diminta. "Kamu pernah minum, Sen?"

Sena menggeleng.

"Oh belum cukup umur, ya?"

"Udah." Sena menjawab, "Takut ngelantur." Lanjutnya lagi.

"Emang kamu ada rahasia apa?" Tio terkekeh. "Ada dua tipe orang kalo mabuk." Tio menimbang memilih botol kiri atau kanan. "Yang pertama ngelantur dan bertingkah sama yang kedua tidur kayak orang mati."

"Kalo mas Tio yang mana?" Tanya Sena sembari menatap botol-botol yang terus masuk ke troli.

"Kayaknya yang kedua." Tio menyudahi pilihannya.

"Kok kayaknya?" Tanya Sena heran.

"Aku jarang sih minum ginian. Ngerusak kesehatan."

Sena mencibir, "Percaya deh~" yang dihadiahi tawa dari Tio.

.

"Stop! Dibilang bibi duduk manis aja disana." Yohan menunjuk Bi Murti yang mendekatinya dengan capitan daging.

"Saya bantuin ya den, masa Aden yang repot begini."

"Ini namanya spesial servis Bi. Tuker nasib." Ucap Yohan asal.

"Spesial serpis teh apa Sen?" Tanya Bibi pada Sena yang duduk disampingnya. Pemuda itu menggeleng.

"Ga tahu bi, udah biarin aja. Jarang-jarang kan bibi ngelihat Yohan kayak gitu." Bisik Sena yang didengar Pak Herman. Pria paruh baya itu menahan tawa.

Tio mencomot daging diatas panggangan dan membuat Yohan memukulnya dengan capitan.

"Eh lo bantuin gue, masukin piring terus anterin ke meja." Titahnya bak sang raja.

Tio mencebik, namun dengan cekatan ia memindahkan daging ke dalam piring yang telah di alasi selada. Kemudian menyajikannya ke depan Sena, Bi Murti dan Pak Herman.

"Silahkan dinikmati tuan dan nyonya." Tak lupa dengan gerakan hormat bak pelayan kerajaan.

"Bibi jadi ga enak makannya." Bi Murti gelisah sedangkan Sena tanpa ragu mencoba daging panggang buatan Yohan.

"E-nak banget." Ucapnya dengan ekspresi dilebih-lebihkan membuat Yohan tersenyum pongah.

Mereka semua menikmati pesta kecil-kecilan itu.

Pukul sebelas malam, Bi Murti dan Pak Herman sudah kembali ke kamar masing-masing.

Sena membereskan meja, menumpuk sisa daging ke dalam satu piring. Ia menghentikan langkahnya saat melihat Tio membawa sekresek berisi minuman yang mereka beli tadi siang.

"Pesta sesungguhnya baru aja mulai." Tio nyengir, memberi kode pada Sena agar kembali ke tempatnya.

Yohan mengambil alih dan menata berbagai merk minuman itu di atas meja, tak lupa mengambil tiga buah gelas kecil yang juga dibawa Tio dan menatanya di hadapan mereka masing-masing.

Sena memandang keduanya dengan bingung. Ini dia seriusan diajak juga?

"Kalo lo ga mau bisa balik ke kamar." Yohan menuangkan minuman ke dalam gelas Sena.

Sena menatap gelas itu dalam diam, terbayang semua momen di otaknya. Yohan yang seorang bintang, Yohan yang sering party, Yohan bersama cewek yang kelupaan lipsticknya di mobil-

Sena menenggak minuman itu dalam sekali tegukan. One shot.

Tio tidak sempat mencegah, pria itu garuk-garuk kepala sebagai gantinya.

Sena mengerutkan hidung, merasakan rasa pahit di lidahnya. Ia menyodorkan gelasnya yang kosong kepada Yohan.

"Ayo lagi." Sang aktor menatap Tio bingung.

Pada akhirnya Sena menghabiskan satu botol sendiri, meski kadar alkoholnya rendah namun cukup membuat pemula seperti Sena tumbang juga.

Sena cegukan, pemuda itu merebahkan kepalanya diatas meja. Menatap suasana malam yang indah lengkap dengan suara jangkrik saling bersahutan. Mereka memang sengaja melakukan pesta Bbq ini di halaman.

"Parah lo." Yohan mengelus rambut Sena. "Kenapa ga lo cegah?" Tanyanya pada Tio.

"Penasaran dia. Lagian yang aku beli rendah semua kadarnya, ga bahaya sih harusnya."

"Ga bahaya tapi kalo sebotol ya sama aja." Yohan mengelus pipi halus Sena yang memerah, entah karena mabuk atau hawa dingin.

"Jangan ambil kesempatan." Tio memperingati yang dibalas lirikan maut Yohan.

Pria itu menggeser kursi Sena agar lebih dekat dengannya. Menjadikan bahunya sebagai sandaran kepala Sena.

"Gemes banget." Yohan menggesekkan hidungnya pada hidung Sena.

"Ekhem." Tio berdehem, mengalihkan pandangan ke samping. "Tolong ya ada jomblo disini."

Yohan membenarkan posisi duduknya sehingga membuat Sena terbangun. Pemuda itu mengerjap beberapa kali dan melirik kesana kemari.

"Ini dimanaa?" Perkataannya agak tak jelas.

"Hayoloo." Tio meminum isi gelasnya tanpa menjawab Sena.

"Di halaman?" Yohan malah seakan bertanya. Sena duduk tegak melirik Yohan sekilas.

"Kakak?" Ucapnya sambil memiringkan kepala, "Kak Yohaaaan?" Lalu terkekeh setelahnya.

"Iya Sena?" Yohan tertawa, memilih meladeni pemuda itu.

"Sena udah gede, kan?" Sena merebut gelas Tio dan menenggaknya tanpa sempat di cegah. "Udah bisa party donggg."

Yohan mengangkat alis, masih menikmati kerandoman tingkah Sena.

"Udah Sen." Yohan meletakan gelas yang Sena pegang. "Lo udah mabuk banget."

"Engga! Sena ga gitu. Iya kan Mas Tio?" Sena mengerjapkan kedua matanya. Tio menelan ludah, melirik Yohan yang menghela napas panjang.

"Lo mabuk Sen. Balik kamar sana." Ucap Tio, tak ingin terlibat dengan situasi ini. Sena yang mabuk sungguh menggemaskan di matanya.

"Bentar dulu!" Sena berdiri dari duduknya, agak oleng namun pemuda itu menolak ketika dibantu Yohan.

"Sena gerahh." Pemuda itu menarik-narik kaus yang ia pakai.

"Jangan." Yohan melotot, mendapati kulit perut Sena yang tersingkap. "Ayo masuk, sekarang."

"Apa sih kakak?" Sena mencebikkan bibirnya, pemuda itu beralih duduk di pangkuan Yohan.

Yohan menelan ludah, melirik Tio yang kini memilih meninggalkan mereka berdua di halaman itu.

Pria itu menatap Sena yang bersandar di dadanya, ia mendengar dengkuran halus dari kedua bibir Sena.

Yohan mengusap wajahnya sambil menutup mata, menikmati sosok pemuda manis yang bersandar padanya.

***

TBC

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 6 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Senandika [bxb]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang