22. Selena

94 19 0
                                        

Film Yohan sukses besar. Di hari penayangan pertamanya saja mencapai ratusan ribu tiket yang terjual. Prestasi yang cukup baik di situasi perfilman Indonesia yang sedang menurun drastis.

"Mas udah lihat artikel?" Sena bergegas menghampiri Tio yang baru keluar dari kamarnya.

"Apa?" Tio menguap. Artikel seperti apa yang Sena baca di pagi buta seperti ini?

"Film Yohan masuk box office, mas. Di hari kedua penayangan."

"Wow." Tio menggumam. "Bagus lah, kerja keras Yohan terbayarkan." Lanjut pria itu.

Sena melirik kesana kemari. "Apa Kak Yohan udah pulang?" Seingatnya kemarin malam Yohan memang sempat bilang akan pulang terlambat, pria itu menghadiri perayaan bersama semua kru serta aktor dari filmnya yang sedang trending saat ini.

Tio mengangkat bahu, ia membuka pintu kamar Yohan dan mendapati pria itu mendengkur dengan setengah badan menjuntai dari tempat tidur.

"Tepar." Tio menutup kembali pintu kamar sang aktor.

Sena tertawa, ia mengantongi handphonenya kembali.

"Aku ambil laundry dulu ya, Mas." Pemuda itu kembali ke kamar untuk mengambil dompet. Tio sendiri menuju meja makan, dimana sarapan buatan Bi Murti sudah tersaji.

"Sama Pak Herman aja Sen." Tio setengah berteriak saat melihat Sena keluar dari kamarnya.

"Oke." Sena memang berniat diantar Pak Herman, sih.

.

Sena menutup pintu mobil kemudian memakai seatbelt. Netranya tak sengaja memandang sesuatu yang seharusnya tidak ada disini.

Pemuda itu mengambil sesuatu dari sela penyimpanan di pintu. Sebuah lipstick merah menyala.

"Pak Herman ini punya siapa?" Tanyanya pada sang sopir yang fokus berkendara.

Pak Herman menoleh sekilas namun pria setengah baya itu menggeleng tak lama kemudian.

"Saya ngga tahu, kemarin kan mobil dipakai Den Yohan."

Jawaban Pak Herman membuat Sena menghela napas panjang. Pemuda itu kembali meletakan benda milik entah siapa itu ke tempatnya semula. Ia menimbang apakah harus menanyakan hal ini pada Yohan atau tidak?

Sena menggelengkan kepalanya dua kali.

'Biarkan saja lah, toh aku juga ga berhak buat marah.' Batin Sena.

.

"Sena kemana?"

Tio menoleh mendapati Yohan keluar dari kamarnya dengan rambut mencuat.

"Melek dulu baru nyari Sena." Tio berdecak. "Dia lagi ambil laundry."

Yohan tak menjawab, pria itu memilih mengambil sebotol air mineral dingin dan menghabiskannya dalam satu tegukan.

"Kepala gue mau pecah." Pria itu duduk di meja makan dan memijat pangkal hidungnya.

"Party teroos." Sindir Tio. "Balik jam berapa semalem?"

"2, eh 3." Yohan menggumam. "Tau lah."

"Untung hari ini free." Tio beranjak dari posisinya di depan televisi. "Ga kebayang deh dendanya."

"Ck." Yohan melirik Tio. "Jangan bikin gue tambah pening, dah."

"Jangan biasain minum kayak gitu. Kebablasan bahaya lho."

Yohan mengerutkan kening, apa sih maksud Tio batinnya dalam hati.

Pria itu mengambil sebutir apel dan membawanya menuju teras. Yohan akan menunggu Sena disana sembari menikmati sarapannya.

Tak berapa lama sebuah mobil memasuki pelataran rumah Yohan membuat pemuda itu mengerutkan kening heran.

Untuk apa Selena datang kemari?

"Yohaaaan." Gadis itu berlari ke arah Yohan setelah ia keluar dari mobil. "Tolongin gueee."

"Apa sih?" Yohan terkejut saat mantan kekasihnya itu memeluknya erat layaknya koala.

"Gue ga tahu harus dateng ke siapa." Selena belum melepaskan pelukannya membuat Yohan berjengit risih.

"Lepas dulu bisa? Dan sebagai informasi gue belum mandi."

"Iyuuwh." Selena melepaskan pelukannya. "Pantes asem." Yang dihadiahi pelototan Yohan.

"Ada apa pagi-pagi kesini?"

"Ga ngasih masuk nih? Haus banget." Selena memegang lehernya dramatis.

"Masuk deh." Yohan memberi kode kemudian mengekori Selena masuk ke dalam.

"Cowok lo ada ga?" Selena melirik kesana kemari.

Yohan agak gatal mendengar kata itu dari mulut Selena.

"Pergi." Yohan menuju dapur, meminta Bi Murti membuatkan minuman.

Selena sedang bertelepon ketika Yohan membawakannya minum. Bi Murti heran ketika Yohan ingin membawakannya sendiri.

"Kenapa sih? Kayaknya gelisah banget."

Pertanyaan Yohan di hadiahi tatapan memelas Selena.

"Sebelum itu gue mau minta maaf." Wanita itu mengatupkan kedua tangan di depan wajahnya.

"Kenapa heh?" Yohan merasa jika perasaannya tak enak.

"Gue ga tahu harus gimana tapi gue minta maaf."

Yohan semakin gemas karena Selena masih bertele-tele.

"Cepet Selena, ga usah muter-muter."

"Gue sama Arun ketahuan." Arun adalah kekasih wanita yang Selena ajak ke Bali kemarin.

"Kok bisa?" Yohan mengangkat alis. "Lo pasti cipokan ga tahu tempat kan?" Tuduh Yohan sadis.

Selena meringis, mantan kekasihnya itu sangat mengerti dirinya.

"Makanya gue kesini mau minta maaf, mana film lo lagi naik-naiknya lagi."

Yohan mengorek telinganya malas, "Udah bener tadi gue ga usah bangun dulu, malah harus ngadepin masalah nenek lampir kayak elo ini."

"Yohan ih!" Alis Selena menukik tajam. "Lo jangan keluar-keluar dulu deh! Gue yakin artikelnya bentar lagi muncul."

Yohan menghela napas, bersidekap setelah meletakan bantal sofa di pangkuannya. "Lo bilang sama Tio deh, dia harus tahu sih."

.

Sena sampai di rumah Yohan dua jam kemudian. Jangan salahkan jalanan yang selalu macet ditambah perbaikan jalan yang dengan kurang ajarnya dilakukan di pagi hari. Sangat menghambat aktifitas para penggunanya.

Sena menenteng beberapa jas Yohan yang terbungkus plastik, pemuda itu masuk ke ruang penyimpanan khusus yang berada di samping kamar Yohan. Disana juga tempat Bi Murti biasa menyetrika.

Setelah rampung, pemuda itu hendak kembali ke kamarnya untuk mencharge handphonenya yang kehabisan baterai. Ia tak sengaja berpapasan dengan Yohan dari arah dapur, mengupas sebuah pisang yang ia bawa.

"Mau?" Tawarnya pada Sena. Pemuda itu menolak dengan gelengan. Entahlah, melihat pria itu membuat Sena agak kesal meski aktor itu tak salah apa-apa.

Yohan menatap punggung Sena yang menjauh darinya. Kenapa Sena seolah mengabaikannya? Yohan menggelengkan kepala menghapus pikiran jeleknya itu. Mungkin Sena hanya capek, batin Yohan.

Sena duduk di tempat favoritnya, menatap bunga-bunga yang kuncup. Beberapa lebah mendekat namun menjauh tak lama kemudian karena tak mendapat apa yang diinginkannya.

'Harusnya kamu ga boleh kayak gini, Sena.' Batinnya. 'Apa aku tanyain aja ya?' Batin Sena lagi, pemuda itu melirik ke arah Yohan yang sudah menghilang dari pandangannya.

Sena menggelengkan kepala, ia memutuskan berpura-pura tak melihat hal itu.

'Aku ga berhak ikut campur kehidupan Yohan.'

***

TBC

Senandika [bxb]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang