"Bos, sudah siang." Sena menyibak tirai yang menutupi sinar mentari yang semakin meninggi. Melirik Yohan yang masih asyik mendengkur halus.
"Bos." Kali ini Sena agak menggoyangkan badan Yohan. Membuat sang aktor terbangun.
"Jam berapa?" Yohan menerima cangkir berisi air hangat dari Sena.
"Delapan lebih sedikit."
Yohan mengucek matanya sembari menguap.
"Sen, duduk sini." Yohan menepuk tempat tidur. "Gue mau ngomong."
"Ada apa bos?" Sena agak bertanya-tanya, apa yang akan dibicarakan bosnya ini.
"Lo jangan panggil gue bos lah! Tio aja lo ga panggil bos, kok"
Sena menghela napas lega. Setidaknya ia tidak dipecat.
"Emang gapapa?" Sahutnya. "Kan gak sopan." Lanjutnya polos.
"Ini permintaan gue, Sen."
Sena terdiam sebelum akhirnya mengangguk. "Kak Yohan. Gapapa?"
Yohan tak sanggup menahan senyum di wajahnya. Ada perasaan hangat saat Sena memanggilnya seperti itu.
"Better." Sahutnya.
.
Tio dan Yohan tengah mendiskusikan sesuatu, Sena sendiri asyik memfoto langit biru di atas laut. Mungkin ia akan menjadikan foto ini sebagai foto profil whatsappnya.
Yohan pergi tak lama kemudian, menyisakan Tio yang mendekati Sena.
"Sen, kita pulang malem ini ya?"
Sena menoleh, mengangguk mengiyakan. "Sama Kak Yohan juga?"
Tio menggeleng, "Dia masih harus disini sehari lagi, tadi kita gak sengaja mergokin wartawan media yang kayaknya sengaja dateng kesini buat cari bahan."
"Oke." balas Sena singkat. "Mas Tio fotoin aku boleh?"
"Tentu." Tio mengambil handphone Sena dan memfoto pemuda itu dengan berbagai pose.
"Bagus." Sena melihat hasil foto, menutupi handphonenya dengan telapak tangan agar dapat melihat dengan jelas. "Kita foto berdua, yuk?" Sena melihat sekeliling dan mendapati ada satu keluarga yang juga sepertinya sedang berfoto-foto.
"Kak boleh saya bantu fotokan? Nanti gantian tolong fotokan juga." Sena berkata ramah. Wanita yang diajak bicara Sena mengiyakan, merasa terbantu. Setelah Sena dan Tio puas berfoto-foto wanita itu pun pamit pergi.
"Lumayan bagus, Mas." Sena menunjukkan hasil fotonya pada Tio. "Aku upload di WA boleh?"
"Boleh-boleh aja kalo aku sih, tapi apa bosmu ga akan ngambek?" Tio mengulum senyum. "Lagi jelek lho moodnya."
"Masa sih?" Sena mengurungkan niatnya itu, memilih menyimpannya untuk saat ini.
"Sebelum pulang, mau jalan-jalan lagi?"
"Mau." Sena segera menjawab.
.
Sena sedang mengemasi barang miliknya ke dalam koper, tak lupa membawakan Pak Herman dan Bi Murti kaos barong khas Bali, Sena menyukainya karena bahannya yang sejuk.
Sebuah tangan melingkari pinggangnya, sementara kepalanya dipaksa menoleh ke arah kiri. Sena tak sempat melawan apalagi saat Yohan mendaratkan sebuah kecupan di bibir dan pipinya.
"Kakak bikin kaget." Sena mengidahkan jantungnya yang berdegup kencang.
"Lo yang serius banget sampe ga denger gue buka pintu." Yohan masih tak melepaskan pelukannya. "Maaf ya lo pulang sama Tio." pria itu mengecup leher Sena membuat si pemuda berjengit.
"Gapapa." jawab Sena. "Kak Yohan hati-hati ya disini, jangan sampe berantem ama wartawan."
Yohan tertawa mendengar kepolosan Sena.
"Kalo ga akan ngaruh ke karir gue mah, udah gue hajar dari dulu Sen. Lo lucu ya bikin gemes." Yohan kembali mendaratkan beberapa kecupan di pipi Sena.
'TOK TOK TOK'
Yohan berdecak, terpaksa melepaskan pelukannya. Ia berjalan menuju pintu dan mengintip melalui door viewer. Tio pelakunya.
Yohan membuka pintu dan menatap Tio dengan alis terangkat. "Ngapain disini?"
Tio terkekeh mendengar nada ketus Yohan, sepertinya ia menginterupsi sesuatu.
"Udah waktunya ke bandara." Tio menunjuk jam tangannya.
"Ck, bentar lo tunggu disana." Yohan menutup pintu agak kencang membuat Tio mengangkat bahu, pria itu pun menunggu di depan pintu kamar Sena.
"Udah selesai?" Yohan membantu Sena menurunkan koper dari kasur ke lantai. "Bukannya ditaruh bawah malah di kasur." Pria itu menyentil hidung Sena. "Tio nungguin tuh." Pria itu kemudian duduk di kasur.
"Oh iya." Sena menyisir rambutnya yang sudah agak panjang dengan jemarinya. "Kak aku pulang dulu ya?"
"Sini dulu deh." Yohan menarik Sena ke dalam pangkuannya. "Biar ga kangen." Ucapnya sebelum melahap bibir merah Sena dan melumatnya beberapa kali. "Gemes banget." sahutnya meremas pinggang Sena.
"Udah kak." Sena merasa jika ia mulai kehabisan napas. "Nanti aku telat, lho."
"Gue harap sih lo telat, terus extra satu hari sama gue disini." Yohan menggosok-gosokkan rambutnya ke dada Sena membuat pemuda itu kegelian.
"Sama mas Tio juga ya?" Sena mengulum senyum yang dibalas dengan raut kesal Yohan.
"Mana ada." ketusnya. Sena tertawa keras, Yohan yang merajuk selalu nampak lucu di matanya.
"Maaf kak." Sena masih mengulum senyum, "Besok juga Kakak pulang, kan?"
Yohan menghela napas, "Gue ga bisa janjiin itu. Tetep tunggu gue ya?"
Sena mengangguk kemudian mengelus wajah tampan Yohan, ketika jemarinya menyentuh alis Yohan ia agak berjengit, namun Yohan kembali membawa tangannya menyentuh alis itu.
"Kalo lo gapapa, sentuh sesuka hati lo Sen."
Sena tersenyum, manis hingga Yohan kembali menghisap bibirnya lembut.
'TOK TOK TOK!'
'Bangsat Tio!' batin Yohan nelangsa.
***
TBC
Maaf pendek dan maaf lamaaa sekali.
kalau lupa alur bisa baca ulang yaw~
KAMU SEDANG MEMBACA
Senandika [bxb]
Narrativa generaleTerjebak bersama aktor 'palsu' sama sekali bukan tujuan hidup Sena. Boyslove/BL/Fiction ©Byolatte
![Senandika [bxb]](https://img.wattpad.com/cover/293663594-64-k573847.jpg)