Sena bersenang-senang seharian ini. Meskipun panas terik di langit Bali sangat tidak masuk akal baginya, Sena tetap menikmati liburannya saat ini.
Seusai makan malam direstoran hotel, Sena pamit pada Tio untuk beristirahat di kamarnya. Tubuhnya sangat lelah dan membutuhkan sentuhan empuk dan dekapan hangat selimut. Sena tersenyum sendiri membayangkan betapa nyenyaknya ia akan tertidur malam ini.
Setelah membersihkan diri dan merapikan isi kopernya, Sena membaringkan tubuh dan terlelap tak lama kemudian. Suara dengkuran halus terdengar memenuhi kamar.
Beberapa lama kemudian, seseorang membuka pintu yang Sena curigai. Seseorang itu berjalan terhuyung hingga menabrak kursi. Ia mendekati tempat tidur dan menatap Sena dalam kegelapan. Sena memang terbiasa tidur dengan lampu mati.
Sosok itu menyeringai dan menaiki tempat tidur king size yang ia pesan. Menarik tubuh kurus Sena dalam dekapan hangatnya. Ia pun terlelap hingga pagi menjelang.
Sena mengernyit, seingatnya selimut miliknya tidak berbau seperti ini. Dengan mata terpejam hidungnya mengendus kesana kemari. Wangi yang terasa familar baginya.
Tangannya tak sengaja mengenai sesuatu yang hangat. Pemuda itu membuka mata dan melotot setelahnya.
"B-bos? Kenapa ada disini?" Teriaknya kaget.
Yohan mengerjap. Ia membuka mata dan menatap Sena yang menatapnya ketakutan.
Yohan menatap dirinya yang telanjang dada. Ia melirik seonggok pakaian di samping tempat tidur, sepertinya tanpa sadar ia melempar pakaian itu karena kegerahan.
Yohan mengusap wajahnya yang agak berantakan. Minum dengan Selena nampaknya hal yang buruk.
"Sorry." Ucapnya singkat.
Sena masih menatap Yohan ketakutan.
"Gue gak ngapa-ngapain lo kok." Ucap Yohan, menyadari kucing kecil di hadapannya menyimpan sejuta pertanyaan.
"Kok bos bisa masuk kesini?" Tanya Sena.
Yohan bangkit dari tempat tidur dan memakai kemejanya.
"Oh, ini kan connecting room. Tentu saja gue bisa kesini kapan aja." Seringai Yohan sungguh membuat Sena menelan ludah. Kenapa bosnya seperti itu? Dan kenapa harus kamar yang terhubung?
"Kenapa?" Ucapan Sena terhenti. "-harus terhubung?"
Yohan mendekat pada Sena dan menatapnya lekat.
"Karena gue ingin Tio menyadari sesuatu." Ucapnya pelan, jemarinya menyentuh dagu Sena. "Bahwa gue gak suka berbagi." Sebuah kecupan singkat mendarat di kening Sena hingga pemuda itu terdiam karena shock. Sedangkan Yohan sudah melesat kembali ke kamarnya.
Sena jatuh terduduk. Tangannya menyentuh dada kirinya yang berdegup sangat kencang.
"Oh Tuhan! Perasaan apa ini?"
***
Sena terduduk di pantai. Ditemani sebuah kelapa muda di samping kanannya dan payung yang melindunginya dari teriknya matahari.
Di depannya ada Yohan dan Tio yang tengah bermain voli pantai. Lawannya adalah Selena dan seorang wanita yang Sena tidak kenal, mungkin temannya Selena.
Sena tidak bisa bermain voli, maka dari itu dia hanya menonton saja. Sesekali ia menyeruput kelapa muda miliknya. Menatap bola yang melayang kesana kemari. Mengagumi indahnya badan Selena yang berbalut bikini dengan warna maroon. Sungguh tipikal badan model sekali.
Sena menatap badannya sendiri dan mendengus. Ia tidak memiliki buah dada dan pantat bulat seperti itu. Yang ia lihat hanyalah seorang pria kurus yang kurang gizi dan nutrisi. Lebih terlihat kurang energi sepertinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Senandika [bxb]
General FictionTerjebak bersama aktor 'palsu' sama sekali bukan tujuan hidup Sena. Boyslove/BL/Fiction ©Byolatte
![Senandika [bxb]](https://img.wattpad.com/cover/293663594-64-k324856.jpg)