Happy Reading!
“Perawan berarti ye?”
Perkataan Faqih tadi siang terus terngiang - ngiang di kepalanya,
“Perawan, Perawan, Perawan...” Batin Diandra terus menyebutnya.
“Gue...udah gak Perawan.” Ucapnya lirih.
“Gimana kalo mereka semua tau?pasti mereka jijik banget sama gue dan Ayah sama Mama udah jelas malu punya anak kaya gue.” Diandra bergumam pelan air matanya mulai menetes satu persatu.
“Kenapa bisa?kenapa Abang Kandung gue bisa ngelakuin itu?” Diandra terus bertanya mengapa dirinya bisa di perlakukan seperti itu bahkan Abang Kandungnya sendiri yang melakukannya.
Menghela nafas lelah, dirinya memikirkan kembali ingatan yang sudah lama tak ingin ia ingat, mustahil untuk di lupakan...takut, kesal, kaget semuanya menyatu.
Marah?ingin dirinya marah tapi sama siapa?Abangnya?sayangnya ketakutannya jauh lebih besar dari rasa marahnya jadi ia lebih memilih takut dan diam setiap dekat Abangnya.
“Ma...Yah...Maaf,” Lirih Diandra mengulang kalimat itu berkali - kali.
Diandra menangis dalam diam, lumayan lama menangis Diandra mulai duduk dan menenangkan kembali mencoba menghilangkan kejadian itu, diam sebentar tetapi suara ketukan pintu terdengar menyadarkan dirinya, Diandra menengok sebelum berdiri Diandra menghela nafas dan menetralkan degup jantungnya yang takut.
Ceklek,
“Kenapa, Bang?” Tanya Diandra sudah mengetahui siapa yang mengetuk pintu kamarnya, ya siapa lagi jika bukan Adam?kan hanya mereka berdua.
“Gapapa, Abang boleh masuk?” Tanya Adam meminta izin.
“Boleh,” Diandra Tersenyum kemudian mempersilahkan Abangnya untuk masuk, takut kembali menghinggapinya, Diandra memilih duduk di meja belajar.
“Kenapa belum tidur?” Tanya Adam menelisik wajah Diandra, sepertinya habis menangis.
“Belum ngantuk,” Jawabnya dengan senyum manisnya.
Adam mengangguk kemudian kembali bertanya,
“Kamu habis nangis?kenapa?” Tanya Adam lagi mengelus surai lembut Adiknya.
Diandra diam, mana mungkin dirinya memberitahu apa yang membuatnya menangis.
“Gapapa, aku kangen Mama sama Ayah.” Kata Diandra, jujur memang Mama dan Ayahnya yang juga berada dalam pikirannya, dirinya sangat merindukan kedua Orang Tuanya.
“Sabar ya, mungkin memang mereka di sana benar - benar sibuk,” Tutur Adam masih mengusap surai lembut halus itu.
“Ah iya, Mama nitip salam sama kamu, Abang lupa baru inget waktu itu mereka bilangnya malem pas sehabis Abang bawa kamu ke kamar.” Ucap Adam kepada Adiknya.
“Kenapa gak di bangunin?aku kan mau denger suara Mama,” Ujarnya lirih.
“Kan kamu tidur di tambah badan mu lagi gak baik.” Jawab Adam dirinya merasa bersalah.
KAMU SEDANG MEMBACA
ELANG
Teen Fiction_________________________ //__________________________ {DON'T COPY MY STORY!!!CERITA INI MURNI DARI PEMIKIRAN SAYA!!!} {WARNING!!!TULISAN MASIH ACAK DAN BELUM RAPI!!!} _________________________ // __________________________ Prolog Elang Arta Sa...
