Happy Reading!
Cahaya Pagi yang hangat perlahan menyusup melalui celah - celah jendela, menciptakan garis - garis emas yang menari di atas permukaan sofa yang empuk. Perlahan tapi pasti, Sinar Matahari itu mulai menyentuh setiap lekukan bantal, menghadirkan suasana tenang dan damai di sudut ruangan yang masih sunyi.
“Udah bangun lu?” Pertanyaan Sarkas itu keluar dari mulut Elang membuat Adam tersentak karna Elang tidak pernah berbicara seperti itu.
Adam menyipitkan matanya, “Udah.” Balasnya datar.
Adam memejamkan mata, pagi ini semua akan tau oleh sebab itu dirinya hanya diam.
“A—abang udah bangun?gapapa kan?” Diandra yang baru bangun dan melihat Adam spontan bertanya khawatir.
“Udah Dek.” Seru Adam lembut.
Diandra Tersenyum lega mendengarnya.
“Dam, sejak kapan lu suka ke Bar?”
Akhirnya pertanyaan ini keluar dari mulut Rega.
“Udah lumayan lama dan baru ini lagi gue kesana.” Sahutnya berusaha tak gugup masih mempertahankan nada datarnya.
“Tadi malam—lu tau apa yang terjadi?” Sekarang Gibran yang bertanya membuat Adam harus bersiap untuk semua yang akan terjadi.
Diam, dirinya tau tapi entah kenapa sangat malas untuk menjelaskan.
“Maksud perkataan lu itu apa?” Sembur Elang tak sabar.
“Terus juga siapa sih Adek Kelas itu?”
“Apa maksud perkataan dia waktu di Kantin?sebelumnya lu sama dia udah pernah ketemu?”
Pertanyaan beruntun keluar langsung dari mulut Elang, dirinya tak bisa lagi menahan.
“Sabar Lang.”
“Pelan - Pelan, Lang!”
“Satu - satu.”
Suara - suara dari Gibran dan Arka berusaha menenangkan.
“Bersihin diri lu dulu gih sono, setelah selesai kita bicara.” Titah Rega Tegas.
Adam hanya mengangguk lalu berjalan ke kamar dengan raut wajah datar, di mana semua heran tak biasanya Adam memperlihatkan raut datar seperti itu. Diandra yang dari tadi hanya diam mendengarkan kini bangkit menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
“Baju di bawah ada Dra?” Tanya Elang membuat Diandra bingung.
“Maksudnya?”
“Di Kamar Bawah ada gak pakaian lu?kalo ada mandi aja di bawah.” Perjelasnya dengan lembut membuat Diandra mengangguk paham.
“Ada.” Diandra langsung bergegas ke Kamar Bawah dan mandi di sana.
***
Mereka diam bahkan Faqih yang biasanya bercanda kini mulai memperlihatkan keseriusannya.
“Gila...kemarin dan hari ini rasanya gue—
Dean tak bisa menyelesaikan kata - katanya, terlalu bingung dengan semua yang terjadi.
“Pelan aja tapi pasti, kita akan berusaha dengan baik - baik untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.” Ucap Rega rendah.
Meskipun dadanya sesak oleh amarah yang sama besarnya, bayangan Adam dan Elang sebagai pilar utama Pancrazio melintas di benaknya. Ia sadar, jika ia meledak sekarang, keutuhan anggota taruhannya. Demi menjaga Pondasi yang sudah mereka bangun, Rega memilih untuk menahan diri dan tetap berkepala dingin.
Mereka mengangguk setuju karna jika caranya gegabah yang ada hanya ada pertengkaran bukan jawaban.
Di balik pintu kamar mandi, Diandra menggigit bibirnya sendiri agar tak menangis. Ia tahu hari ini akan berbeda, Ada Rahasia Besar yang akan Terbongkar dan saat ini semua akan tau apa yang terjadi. Memang ia tak sepenuhnya memahami arti kata - kata Abangnya Semalam, tapi ia tahu kemana arah pembicaraan itu akan bermuara. Jika Abangnya berbicara, maka semua akan tahu apa yang pernah ia lakukan padanya—dan saat itu terjadi, Diandra yakin bukan hanya Adam yang akan dibenci…mungkin juga dirinya yang dipandang kotor dan menjijikan oleh mereka semua.
***
Beberapa menit berlalu, Adam dan Diandra telah selesai bersiap. Mereka semua membentuk lingkaran agar masalah ini bisa segera tuntas, namun Adam justru memilih duduk di kursi yang agak jauh dari kerumunan. Begitu pula Diandra, yang memilih duduk di lantai, bersandar di dekat Gibran.
“Gabung!gak ada yang nyuruh lu untuk duduk di Kursi!” Titah Rega Tegas.
Adam diam tetap melakukannya, dirinya masuk dalam lingkaran dan duduk dekat Faqih.
Rega menghela nafas, lalu dirinya kembali bersuara...
“Sekarang gue gak mau basa - basi lagi...Dam, Jelasin semua yang lu sembunyikan.” Tuntut Rega menatap Adam yang tetap bergeming dengan ekspresi datar.
Adam menampilkan Senyum tipis sejenak dirinya menatap Diandra dengan raut bersalah.
“Gue—
Tringgg...Tringgg...
Suara bel membuat Adam harus menelan kembali apa yang ingin diucapkannya. Elang berdecak kesal. Amar segera membuka pintu, ternyata yang datang adalah Sahabat Diandra—Alingka dan Alesha.
“Hai!hehe, kita mau main sama Diandra.” Seru Alingka sembari Tersenyum.
Amar mempersilakan mereka masuk. Namun, Keduanya mendadak bingung melihat Suasana Ruangan yang terasa sangat serius.
“Ternyata lagi pada main, ya?kita boleh gabung, enggak?” Tanya Alingka saat menyadari semua orang hanya diam.
Jujur saja, Alingka yang biasanya ceplas - ceplos mendadak merasa lidahnya kelu, Atmosfer di sini terasa sangat berbeda. begitu pun dengan Alesha, ia sadar ada ketegangan yang tidak biasa dari raut wajah orang - orang di Ruangan ini.
“Ekhem...ini—
“Duduk!” Tegas Elang, membuat Alingka tersentak.
Mau tidak mau, Keduanya duduk menghampiri Diandra yang sedang bersama Gibran.
“Kalian datang di waktu yang tepat,” Kata Elang Misterius, membuat Alingka dan Alesha mendadak bingung.
“Emang kenapa?” Tanya Alesha.
“Karna hari ini sesuatu yang selama ini kita curigai akan segera Terbongkar.” Desisnya pelan, membiarkan kalimat itu menggantung di udara seperti Ancaman.
“Ter—bongkar?ma—maksudnya apa ya?” Keduanya sama sekali tidak paham apa yang sedang dibicarakan.
Dan di sinilah semua akan Terjawab.
TBC
Jangan lupa vote and komen nya ya, Terima kasih : )🦋
KAMU SEDANG MEMBACA
ELANG
Teen Fiction_________________________ //__________________________ {DON'T COPY MY STORY!!!CERITA INI MURNI DARI PEMIKIRAN SAYA!!!} {WARNING!!!TULISAN MASIH ACAK DAN BELUM RAPI!!!} _________________________ // __________________________ Prolog Elang Arta Sa...
