51.

552 27 4
                                        

BISMILLAH
HAPPY READING
🕊🕊🕊

***

Faizan ingin sekali berpamitan kepada Ning Hawa. Tidak enak sudah pasti tapi sedari tadi Ning Hawa  mulut nya tidak mau berhenti untuk membecirakan cerita pendek mereka di masa lalu.

Pertemuan yang tidak pernah di rencanakan. Sedang asik-asik nya menunggu kehadiran sang istri tiba-tiba saja Ning Hawa datang dari arah samping bersama santrinya. Bukan nya ikut pergi Ning Hawa malah menyuruh Santri nya pulang mendahului nya.

"Gus ini sudah mau Magrib. Mau kan anter...".

ting..

Mendengar bunyi masuk nya pesan , Faizan pun dengan cepat mengambil Handphone nya. Pasti itu pesa dari Kia, pesa yang di tunggu-tunggu nya sedari tadi.

"Maaf. Saya harus pergi sekarang, Istri saya sudah menunggu saya di depan. Assalamualaikum," Faizan pun pergi tergesa-gesa meningggalkan Ning Hawa tanpa menunggu jawaban salam nya.

"Walaikum salam," jawab nya Ning Hawa sambil memutarkan badan dan pandangan nya untuk melihat kepergian Faizan.

Ini masalah besar. Perihal kemarin saja Faizan berniat untuk menjelaskan nya sekarang, tapi ini?. Masalah baru pun sudah muncul.

Kia memang tidak mempertanyakan perihal kemarin. Tapi faizan tau dari sorot mata Kia yang seolah-olah sedang menunggu pengakuan, menunggu ke jujuran. Kia butuh tempat curhat untuk meluapkan semua kekesalan dan kesedihan dari lontaran nya omongan kerabat nya sendiri.

Faizan berlari mencari keberadaan yang Istrinya  maksud. Karna ini lantai satu jadi Faizan berpikir kalau tempat Kia berada itu ada di ujung dekat pintu keluar di bagian samping.

Langkah besar Faizan berhenti tepat ketika melihat ada pantulan cermin yang melihatkan satu prempuan sedang bersandar dengan muka datar nya. Dia Kia, tangan yang di lipat tepat di depan dada nya membuat Faizan tau kalau Istrinya sedang memiliki banyak pengluapan.

Dengan langkah pelan dan hembusan nafas lega Faizan menghampiri Kia. Ketika satu langkah lagi untuk meraih dan menggenggam tangan Kia, tiba-tiba saja Kia pergi dari tempat nya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Aiss...", Faizan sudah tau dengan isi hati dan pikiran Kia. Ini bukan Drama yang di buat-buat, ini adalah naskah yang sudah di tulis kan Tuhan untuk menguji dan memberi rintangan kepada Rumah tangga mereka.

Faizan tau ini bukan lah hal yang mudah baginya dan bagi Istri nya. Semua permasalahan  ini akan selsai dan damai dengan kebijakan dan tindakan yang di lakukan oleh dirinya. Dan keputusan, kepercayaan yang di ambil oleh sang istri.

Faizan mengikuti langkah Kia dari belakang, bukan Faizan tidak mengejar tapi permasalahan nya ini adalah tempat umum. Cukup hanya di mata tuhan nya mereka sedang tidak baik-baik saja.

Ketika mobil mewah putih milik nya sudah terlihat, Faizan pun menekan tombol buka kunci dari arah jauh agar nantinya Kia bisa masuk tanpa menunggunya.

Dan benar saja Kia masuk tanpa menuggu, bahkan ketika menutup pintu mobil agak sedikit keras.

Lalu Faizan pun mulai melangkah besar untuk segera menyusul masuk  ke dalam mobil.

brug...

"Maaf jadi kamu yang harus menunggu", kata maaf pertama pun sudah keluar dari mulut Faizan.

Kia tidak membalas , dia duduk santai di samping pengemudi sambil menatap kosong di kaca samping mobil. Faizan meljukan mobil nya, bukan Faizan tidak peduli dengan perasaan Kia tapi Faizan sedang berfikir keras mulai dari mana diri nya menjelas kan.

Mine (Hiatus)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang