50.

650 33 7
                                        

BISMILLLAH
HAPPY READING
🕊🕊🕊

***

"Kita pulang ke rumah abah ya,"

Kia yang sudah tidak punya semangat pun hanya menganggukan kepalanya. Ucapan -ucapan yang di lontarkan oleh orang-orang Al-farizi benar-benar membuat Kia memikirkan nya. Buat Kia tidak masalah untuk masa lalu antara suaminya dengan prempuan yang bernama Hawa itu. Tapi yang membuat kia terpikirkan adalah ucapan saudara  dari suaminya yang seolah-olah tidak menghargai dengan keberadaan nya.

Kia belum pernah bertemu dengan keluarga dari Ummi mertuanya. Sempat bertemu tapi Kia sama sekali tidak mengenali kalau mereka keluarga dari Ummi mertuanya, Kia hanya mengira itu adalah saudara dari jauh.

'mungkin mereka lebih suka bak hawa itu'

'atau mungkin memang gk suka aku?'

Aslinya Kia tidak ingin berpikir shoudzon, tapi Kia tidak bisa. Semua pikiran nya berjalan dengan yang tidak-tidak.

Dengan gerakan pelan Kia pun menolehkan kepalanya ke arah Faizan, sambil mengamati muka suaminya yang sedang fokus menyetis Kia pun berpikir.

'atau mungkin ada masa lalu yang indah di antara mereka, sampai semua nya berpihak ke hubungan masa lalu itu'.

Faizan yang tau istrinya sedang memperhatikan nya langsung menoleh ke arah Kia sambil tersenyum manis.

"Kenapa hm?", satu tangan Faizan pun menyentuh lembut tangan Azkia.

Kia tidak mengucapkan kata sepatahpun, dirinya masih membayangkan perihal yang tadi. Ingin sekali Kia tahu dengan masa lalu itu. Kia tidak munafik, walaupun ada sedikit rasa kesal dengan Faizan tapi Kia sangat suka ketika Faizan menyentuhnya dengan lembut seperti ini.

Sedikit menghilangkan rasa kesal nya itu. Tapi tetap saja Kia akan mengintrogasi Faizan kalau ada waktu yang senggang. Atau mungkin Kia akan menunggu Faizan klarifikasi. Oke Kia akan menunggu Faizan yang angkat suara.

Setelah itu kia kembali meluruskan badanya ke depan lalu menutup matanya dengan perlahan. 

'Namanya juga rumah tangga, pasti ada lika-likunya,' setelah itu Kia pun sudah pergi ke alam bawah sadar nya, dengan satu tangan yang masih di genggam erat oleh Faizan.

***

 Sekarang memang jadwal nya Faizan pergi ke kantor. Kia yang tidak mau di rumah sendirian pun alhasil ikut teman-teman nya untuk pergi ke rumah yang sudah di tentukan. Awal nya Faizan menyuruh untuk Kia menunggu nya di rumah sang orang tua, namun kia menolak karna kalau memang Kia diam di sanah pun pasti dirinya tidak akan mempunyai teman. Apalagi dengan kondisi Psantren yang sedikit agak sepi.

Rencana mereka ber empat setelah dzuhur nanti mereka akan pergi bersenang-senang , ke mana lagi kalau bukan ke mall. Memang dari mereka banyak sekali barang kebutuhan yang harus di beli di mall itu.

"pokok nya tempat pertama kita adalah scincare. semua stok aku udah abis gada yang sisa",Jeje menggerutu ketika membuka tempat scincare nya yang hanya di isi oleh wadah-wadah bekas.

"Iya-iya. Scincare kita juga abis ko."

sedang kan Kia dirinya sedang di lema dengan rasa penasaran. Padahal semalam Kia benar-benar biasa saja dengan kisah masa lalu nya Faian, tapi sekarang kenapa harus gini.

'plis aku bukan mau tau masa lalu nya. Aku cuma butuh dia ngeyakinin aku aja, udah cukup,' namanya juga prempuan pasti rasa kesal dan cemburu nya sering kalah dengan rasa gengsi nya.

Sedari pulang semalam Kia dan Faizan sama sekali belum membahas tentang kesalah pahaman ini. Dari Kia nya penasaran tapi tidak mau bertanya karna gengsi nya,  sedang kan Faizan sedang menunggu waktu yang tepat saja.

Mine (Hiatus)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang